Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks yang sudah ada. (Mei 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) |
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
|
Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus. |
Bajidor adalah kesenian rakyat yang memiliki fungsi utama sebagai seni hiburan, sajiannya bersifat dinamis dengan iringan musik dan tarian yang luwes dari seorang penari/ronggeng yang menggambarkan keceriaan (Rosidi, 1984:130). Awal kemunculan bajidoran diduga dipelopori oleh mantan penari pria atau para penggemar ketuk tilu yang dahulu dikenal dengan istilah pamogoran. Seiring berjalannya waktu, istilah pamogoran menghilang disebabkan berubahnya ketertarikan masyarakat Subang dan Karawang terhadap seni ketuk tilu. Kemudian hadir bajidoran yang memiliki kemiripan dalam beberapa hal dengan ketuk tilu, utamanya lagu-lagu dan pola Bajidor yang digunakan adalah pola ketuk tiluan.[1][2]
Referensi
- ↑ Sabandiah, Nurhabibah (2022-11-09). "KESENIAN BAJIDORAN DAN MODERNITAS DI JAWA BARAT". Jurnal Ilmiah WUNY. 4 (1). doi:10.21831/jwuny.v4i1.46868. ISSN 2747-0547.
- ↑ Sabandiah, Nurhabibah (2022). "Kesenian Bajidoran dan Modernitas di Jawa Barat". Jurnal Ilmiah WUNYN: 71–72. doi:10.21831/jwuny.v4i1.46868.