Kamis, 29 Oktober 2026
10:36 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Bahrum Rangkuti

Bahrum Rangkuti

Bagikan:
Ini adalah nama Mandailing, marganya adalah Rangkuti.
Bahrum Rangkuti
Bahrum_Rangkuti.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Lahir(1919-08-07)7 Agustus 1919
Meninggal13 Agustus 1977(1977-08-13) (umur 58)
Tempat peristirahatan terakhir
Taman Makam Pahlawan Kalibata
AlmamaterUniversitas Indonesia
Dikenal karenaSastrawan
Pasangan menikah-Ningrum (Cerai mati)
-Apul Batubara
Anak5
Orang tuaM. Tosib Rangkuti dan Siti Hanifah Siregar

Bahrum Rangkuti (7 Agustus 1919 – 13 Agustus 1977) adalah seorang sastrawan dan dosen Indonesia. Ia menulis esai, drama, puisi, kajian sastra, dan menerjemahkan karya mancanegara.

Nama lengkapnya adalah Bahrum Azaham Syah Rangkuti Pane Al Paguri. Ayahnya bernama Muhammad Tosib Rangkuti yang mendalami tarikat. Ibunya bernama Siti Hanifah Siregar yang menyenangi tasawuf dan mistik.

Pada tahun 1947 Bahrum Rangkuti menikah dengan Apul Batubara, seorang bidan yang berasal dari Sumatera Utara. Pasangan tersebut dikaruniai empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan, yaitu Komarul Zaman, Fachrunnisa, Mahmuda Suraya, dan Basiruddin.

Pendidikan dan Karier

Bahrum berpendidikan HBS Medan, AMS/A-1 Yogyakarta (1939), Faculteit der Letteren, Yogyakarta (1939-1941), Jamiatul Mubasheren, Rabwah, Pakistan (1950), dan terakhir meraih Sarjana Sastra dari Universitas Indonesia (1959).

Tahun 1963 dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Islam Sumatera Utara, Medan. Sejak tahun 1976 ia menjadi guru besar IAIN Syarif Hidayatullah.[1]

Ia juga merupakan anggota ALRI dengan pangkat Kolonel Tituler dan Kepala Dinas Pendidikan Sumatra Timur. Sejak tahun 1970 sampai akhir hayatnya (1977) ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Agama RI.[1]

Bahrum menguasai tujuh bahasa yaitu Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Belanda, Bahasa Arab, Bahasa Urdu dan Bahasa Melayu.[2]

Karya

  • Laila dan Majenun; drama (Gema Suasana, 1949);
  • Sinar Memancar dari Jabal Annur; drama (Indonesia, 1949);
  • Asmara Dahana; drama (Indonesia, 1949);
  • Arjuna Wiwaha; drama (Indonesia, 1950);
  • Lintasan Sejarah Dunia I dan II; saduran karya Jawaharlal Nehru (1950);
  • Asrari Khudi Rahasia-Rahasia Pribadi; saduran karya Muhammad Iqbal (1953);
  • Kandungan Alfatihah (1960);
  • Nafiri Khatulistiwa; kumpulan puisi (1963); buku ini tidak sempat diterbitkan namun tersimpan di PDS HB Jassin;
  • Pramoedya Ananta Toer dan Karya Seninya; kajian (1963)

Karya sastra yang dihasilkan Bahrum Rangkuti berbentuk drama, cerpen, esai, dan puisi. Karya sastra yang ditulis oleh Bahrum Rangkuti tersebar dalam beberapa majalah, antara lain Horison, Gema, Gema Islam, dan Panji Pustaka.

Meskipun cukup banyak menulis puisi, namun belum ada satupun yang diterbitkan berupa buku. Puisi-puisi karya Bahrum Rangkuti yang belum diterbitkan, sekitar 22 buah, bisa dijumpai di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Referensi

  1. 1 2 Dewan Redaksi Ensiklopedi Sastra Indonesia. (2004). Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu. ISBN 979-9012-12-0 hlm. 111
  2. ↑ Sugono, D., dkk., ed. (2003). Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern (PDF). Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 52. ISBN 979-685-308-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan