Selasa, 22 September 2026
15:51 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Bahram III

Bahram III

Kaisar Sasaniyah ke-6 (293)

Shahanshah dari Kekaisaran Sasan pada tahun 293 MTemplat:SHORTDESC:Shahanshah dari Kekaisaran Sasan pada tahun 293 M
Bahram III
𐭥𐭫𐭧𐭫𐭠𐭭
Rajadiraja Iran dan non-Iran
250px-Silver_coin_of_Bahram_II_%28together_with_prince%29%2C_struck_at_the_Balkh_mint.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Drachma Bahram III sebagai seorang pangeran bersama ayahnya Bahram II, dicetak di Balkh
Shahanshah Kekaisaran Sasaniyah
Berkuasa293
PendahuluBahram II
PenerusNarseh
AyahBahram II
IbuShapurdukhtak
WangsaDinasti Sasaniyah
AgamaZoroastrianisme

Bahram III (juga dikeja Wahram III or Warahran III; Middle Persian: 𐭥𐭫𐭧𐭫𐭠𐭭, Bahasa Persia Baru: بهرام سوم), adalah raja dari segala raja (syah) keenam dari Kekaisaran Sasaniyah. Ia adalah putra dan penerus Bahram II.[1] Sebelum menjadi raja, ia adalah wizurai dari Sakastan, yang telah direbut kembali oleh ayahnya sekitar tahun 280-an.

Bahram III naik tahta setelah kematian ayahnya pada tahun 293. Banyak bangsawan menganggapnya terlalu lemah untuk memerintah, dan malah berjanji setia kepada paman buyutnya Narseh. Setelah memerintah hanya selama empat bulan, Bahram III ditangkap atau kemungkinan besar dibunuh selama kampanye oleh Narseh, yang kemudian menggantikannya sebagai raja.

Nama

Nama teoforisnya "Bahram" adalah bentuk Persia Baru dari Persia Pertengahan Warahrān (juga dieja Wahrām), yang berasal dari bahasa Iran Kuno Vṛθragna.[2] Padanan Avestanya adalah Verethragna, nama dewa kemenangan Iran kuno, sedangkan versi Parthia adalah *Warθagn.[2] Nama tersebut ditransliterasikan dalam Yunani sebagai Baranes,[3] sementara transliterasi Armenia adalah Vahagn/Vrām.[2] Nama tersebut tercatat dalam Georgia sebagai Baram[4] dan Latin sebagai Vararanes.[5]

Biografi

Di Iran Sasaniyah, sudah menjadi kebiasaan bagi raja-raja setelah menaklukkan suatu wilayah atau bangsa, untuk memberikan gelar kepada putra-putra mereka yang menunjukkan dominasi atas mereka. Bahram III memperoleh gelar "sākān shāh" mungkin setelah kemenangan ayahnya atas wilayah Sakastan (sekarang Sistan). Mengikuti praktik awal Sasaniyah dalam memberikan wilayah kekuasaan kepada para pangeran, Bahram III diangkat menjadi penguasa Sakastan, sebuah wilayah yang memiliki kepentingan strategis dalam mempertahankan ujung timur kerajaan.[6]

250px-NarsehCoinHistoryofIran.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dinar emas Narseh.

Setelah kematian Bahram II pada tahun 293, Bahram III diproklamasikan sebagai raja di Pars oleh sekelompok bangsawan yang dipimpin oleh Wahnam dan didukung oleh Adurfarrobay, Raja Meshan. Ia masih di bawah umur pada saat naik tahta, dan banyak bangsawan (di luar kelompok pendukung intinya) menganggapnya terlalu lemah untuk menangani ancaman yang ditimbulkan oleh Romawi dan kemungkinan invasi. Mereka memutuskan untuk menantang suksesi takhtanya dan sebagai gantinya berjanji setia kepada Narseh, putra terakhir Syapur I, yang dianggap sebagai pemimpin yang lebih kuat dan lebih mampu membawa kejayaan bagi Iran.[7][8]

Empat bulan setelah pemerintahan Bahram, paman buyutnya, Narseh, dipanggil ke Mesopotamia atas permintaan banyak anggota bangsawan Iran. Ia menemui mereka di jalur Paikuli di provinsi Garmekan, di mana ia mendapat persetujuan penuh dan kemungkinan juga dinyatakan sebagai syah untuk pertama kalinya. Alasan di balik dukungan para bangsawan terhadap Narseh mungkin karena yurisdiksinya sebagai gubernur, citranya sebagai pendukung agama Zoroastrianisme, dan sebagai penjamin harmoni dan kemakmuran kekaisaran. Silsilah keluarganya dari dinasti Sasaniyah awal mungkin juga berperan.[9]

Untuk menghindari pertumpahan darah, Narseh mengusulkan untuk berdamai dengan Bahram III dan Wahnam.[9] Keduanya tampaknya setuju, karena tidak ada catatan pertempuran yang dibuat. Alasan di balik kesepakatan cepat Bahram dan Wahnam untuk berdamai mungkin karena pembelotan di antara banyak anak buah Bahram. Bahram turun tahta sebagai shah dan mungkin selamat, sementara Wahnam dieksekusi ketika Narseh memasuki ibu kota Sasaniyah di Tisfon.[10][9] Kemudian Narseh memanggil para bangsawan untuk ikut serta dalam referendum kerajaan, sebuah ritual yang telah digunakan sejak shah Sasanian pertama, Ardasyir I. (m. 224–242), dan yang kini dimanfaatkan Narseh untuk mendapatkan persetujuan kaum bangsawan sebagai penguasa yang sah, bukan sebagai perampas kekuasaan. Narseh secara mutlak dipilih oleh mayoritas, dan dijamin "untuk naik tahta ayah dan leluhur kita dengan bantuan para Dewa, atas nama mereka dan leluhur kita."[9]

Artefak

Banyak koin yang dapat dikaitkan dengannya jumlahnya sedikit dan karena ketidakpastian, banyak yang sering dikaitkan dengan Narseh. Karena banyak koin yang dikaitkan dengannya lebih halus dari biasanya, detail mahkotanya samar. Diyakini bahwa ia digambarkan mengenakan mahkota emas dengan pinggiran bawah bergerigi dan dua tanduk rusa besar atau setidaknya replika tanduk tersebut yang terpasang di setiap sisinya. Bola Sasani terletak di antara tanduk di bagian depan mahkota.[11]

Relief rendah di situs arkeologi Bishapur menggambarkan sosok yang diinjak-injak oleh kuda. Diasumsikan bahwa adegan ini merupakan representasi dari kematian Bahram III atau, kemungkinan besar, sekutunya, Wahnam.[12]

Referensi

  1. Touraj Daryaee, Sasanian Persia, (I.B.Tauris Ltd, 2010), 11.
  2. 1 2 3 Multiple authors 1988, hlm. 514–522.
  3. Wiesehöfer 2018, hlm. 193–194.
  4. Rapp 2014, hlm. 203.
  5. Martindale, Jones & Morris 1971, hlm. 945.
  6. Bosworth p.47
  7. Henning p. 403
  8. Neusner p. 3
  9. 1 2 3 4 Weber 2016.
  10. Kia 2016, hlm. 269.
  11. Ayatollahi p. 156
  12. Baker p. 181

Sumber

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan