Selasa, 13 Oktober 2026
21:02 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM
Bahasa Gaya

Bahasa Gaya

bagian dari rumpun bahasa Koreanik

Bagikan:
Bahasa Gaya
Kaya, Karak, Kara
Dituturkan diKonfederasi Gaya
WilayahSemenanjung Korea
Eraabad ke-5 hingga ke-7
Tampilkan klasifikasi manual
    • Gaya
Tampilkan klasifikasi otomatis
Kode bahasa
ISO 639-3zra
LINGUIST List
LINGUIST list sudah tidak beroperasi lagi
zra
GlottologTidak ada
IETFzra
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
Terancam
CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
Aman
NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
ICHEL Red Book: Extinct

Gaya diklasifikasikan sebagai bahasa yang telah punah (EX) pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan

Referensi: [1][2]
Lokasi penuturan
500px-History_of_Korea-476.PNG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta geopolitik Semenanjung Korea pada abad ke-5 Masehi
20px-Globe_of_letters.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Portal Bahasa
L •B •PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
Cari artikel bahasa
Cari artikel bahasa
 
Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
 
Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
Artikel bahasa sembarang
Halaman bahasa acak

Bahasa Gaya (juga dieja Kaya, Kara, atau Karak) adalah satu atau beberapa bahasa setempat yang digunakan di Konfederasi Gaya, Semenanjung Korea bagian selatan. Hanya satu kata bertahan yang secara langsung dikenal sebagai bagian dari bahasa Gaya. Bukti lain berupa nama tempat, yang penafsirannya tidak pasti.

Penamaan

Nama Gaya adalah cara baca ala Korea modern dari sebuah nama yang aslinya ditulis menggunakan aksara Tionghoa (Hanja). Umumnya ditranskripsikan sebagai Kaya (加耶) atau Karak (伽落), tetapi transkripsi dalam sumber tertua yang diketahui adalah Kara (加羅, atau kæla dalam bahasa Tionghoa Pertengahan).[3] Nama lainnya yaitu Kara dan Mimana dalam Nihon shoki, catatan sejarah berbahasa Jepang abad ke-8 M.[4]

Beckwith menggagas istilah pra-Kara untuk satu atau beberapa bahasa Japonik yang digunakan di Semenanjung Korea bagian selatan pada saat migrasi penduduk Yayoi ke Kyushu pada abad ke-4 Sebelum Masehi.[5]

Byeonhan

Catatan paling awal dari bagian selatan semenanjung Korea ditemukan dalam sejarah Tiongkok. Bab 30 berjudul "Gambaran Bangsa Barbar Timur" dalam kitab Catatan Sejarah Tiga Negara (abad ke-3 M) dan Bab 85 dalam Kitab Han Akhir (abad ke-5 M) berisi catatan bersamaan tentang Samhan ("tiga Han"): yaitu Mahan, Byeonhan, dan Jinhan – yang kemudian masing-masing digantikan oleh Baekje, Gaya, dan Silla.[6][7] Mahan dikatakan memiliki bahasa yang berbeda dari Jinhan, tetapi kedua kisah tersebut berbeda dalam hubungan antara bahasa Byeonhan dan Jinhan, dengan Catatan Sejarah Tiga Negara menggambarkan mereka serumpun, tetapi Kitab Han Akhir justru menguraikan perbedaannya.[8]

Catatan Sejarah Tiga Negara mencantumkan 12 pemerintahan di Byeonhan. Berikut ini cara pengucapannya dalam bahasa Tionghoa Han Timur:[9][10]

  • *mieliɑi-mietoŋ (彌離彌凍)
  • *tsiapdɑ (接塗)
  • *kɑtsi-mietoŋ (古資彌凍)
  • *kɑtśuindźe (古淳是)
  • *pɑnlɑ (半路)
  • *lɑknɑ (樂奴)
  • *mieʔɑ-jama (彌烏邪馬)
  • *kɑmlɑ (甘路)
  • *koja (狗邪)
  • *tsodzouma (走漕馬)
  • *ʔɑnja (安邪)
  • *dokliɑ (瀆盧)

Tiga nama yang lebih panjang tampaknya menyertakan akhiran. Akhiran *-mietoŋ (yang juga muncul dalam salah satu nama Jinhan) telah diperbandingkan dengan mitos mith (dalam bahasa Korea Pertengahan Akhir) dan *mətə (dalam bahasa Proto-Japonik), keduanya berarti "dasar" atau "bawah". Kedua kata tersebut merupakan kerabat menurut Samuel Martin. Akhiran *-jama umumnya diidentikkan dengan *jama dalam bahasa Proto-Japonik, berarti "pegunungan".[11]

Konfederasi Gaya

Artikel utama: Konfederasi Gaya

Pada abad ke-4, Byeonhan telah digantikan oleh konfederasi Gaya.[12] Gaya berdagang secara berlanjut dengan para komando Tionghoa di Semenanjung Korea bagian utara dan dengan bangsa Wa (Jepang), tetapi konfederasi tersebut ditaklukan oleh Silla pada abad ke-6 M.[4]

Sebagian besar pengetahuan tentang Gaya berasal dari Samguk sagi, sebuah kumpulan catatan sejarah tentang zaman Tiga Kerajaan, yang ditulis dalam kaidah Tionghoa Klasik dan disusun pada tahun 1145 dari catatan kerajaan Silla, Goguryeo, dan Baekje yang sudah tidak ada lagi.[13] Bab 34, 35 dan 36 mengamati letak bekas kerajaan Silla (termasuk bekas wilayah Gaya), Goguryeo, dan Baekje. Tiga negara tersebut juga mencakup reorganisasi administratif setelah penyatuan sebagai Silla Bersatu pada tahun 668, termasuk nama-nama tempat sebelumnya dan nama Tionghoa-Korea baku yang ditetapkan di bawah pemerintahan Raja Gyeongdeok pada abad ke-8 M.[14] Beberapa tempat yang disebutkan dalam Bab 34 berada di wilayah bekas konfederasi Gaya, tetapi upaya untuk menafsirkannya masih diperdebatkan.[15][16]

Satu-satunya kata yang secara langsung dikaitkan dengan bahasa Gaya ditemukan dalam catatan penjelasan di bab yang sama, yang berbunyi:

旃檀梁,城門名。加羅語謂門爲梁云。
Cendana 梁: nama gerbang benteng. Dalam bahasa Kaya, 'gerbang' disebut '梁'.

Karakter Tionghoa ⟨梁⟩ digunakan untuk menulis kata dalam bahasa Silla untuk "punggung bukit", yang merupakan leluhur dari twol 돌 (juga berarti "punggung bukit") dalam bahasa Korea Pertengahan, menunjukkan bahwa kata dalam bahasa Gaya untuk "gerbang" mungkin diucapkan seperti twol. Kata tersebut mirip dengan to1 dalam bahasa Jepang Kuno (berubah menjadi to, 戸 dalam bahasa Jepang Modern), berarti "pintu" atau "gerbang".[17][18]

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
  3. ↑ Beckwith (2004), hlm. 40, n. 27.
  4. 1 2 Lee & Ramsey (2011), hlm. 46.
  5. ↑ Beckwith (2004), hlm. 28, n. 27.
  6. ↑ Byington & Barnes (2014), hlm. 97–98.
  7. ↑ Lee & Ramsey (2011), hlm. 34.
  8. ↑ Lee & Ramsey (2011), hlm. 35–36.
  9. ↑ Byington & Barnes (2014), hlm. 110, 112.
  10. ↑ Schuessler (2007).
  11. ↑ Whitman (2011), hlm. 153.
  12. ↑ Lee & Ramsey (2011), hlm. 36.
  13. ↑ Lee & Ramsey (2011), hlm. 37.
  14. ↑ Lee & Ramsey (2011), hlm. 37–38.
  15. ↑ Beckwith (2004), hlm. 14–15, 40.
  16. ↑ Toh (1986), hlm. 192–193.
  17. ↑ Beckwith (2004), hlm. 40.
  18. ↑ Lee & Ramsey (2011), hlm. 46–47.

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan