Selasa, 20 Oktober 2026
02:43 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Atol Ebon

Atol Ebon

pulau di Kepulauan Marshall

Bagikan:
Atol Ebon
250px-EbonAtoll.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
osm-intl,7,a,a,250x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Atol_Ebon&revid=29795331&groups=_a0bdbee27d96e86af7c53220a6b87cf70b5f1441&parser=parsoid
Peta interaktif Atol Ebon
Geografi
LokasiMikronesia Timur, Pasifik Utara
Koordinat04°38′00″N 168°43′00″E / 4.63333°N 168.71667°E / 4.63333; 168.71667
Jumlah pulau22
Luas5,75 km2
Titik tertinggi3 m
Pemerintahan
Negara Kepulauan Marshall
Kependudukan
Penduduk706 (tahun 2011)[1] jiwa
Kelompok etnikSuku Marshall

Atol Ebon (Marshall: Epoon, [ɛ̯ɛbʲɛ͡ɔː͡ɛnʲ][2]) adalah atol karang yang terdiri dari 22 pulau di Kepulauan Marshall, Samudra Pasifik. Luas daratan atol ini tercatat sebesar 5,75 kilometer persegi, dan atol ini sendiri mengelilingi sebuah laguna dengan luas 104 kilometer persegi. Atol Ebon berjarak sekitar 155 kilometer (96 mi) di sebelah selatan Atol Jaluit, dan Atol Ebon sendiri merupakan daratan paling selatan di Kepulauan Marshall.

Menurut dokumen dan catatan sejarah dari era 1800-an, kepulauan ini juga dikenal dengan banyak sebutan, beberapa diantaranya Boston, Covell's Group, Fourteen Islands, dan Linnez.[3]

Sejarah

Atol Ebon pernah menjadi pusat penangkapan paus pada abad ke-19. Sejarah mencatat bahwa kapal Glencoe direbut dan krunya dibantai oleh penduduk asli Ebon pada tahun 1851.[4] Menurut beberapa catatan sejarah, kru kapal ini telah menculik wanita-wanita penduduk asli untuk dijual kepada pemilik perkebunan di tempat lain.[4]

Misionaris yang dikirim oleh American Board of Commissioners for Foreign Missions di Boston memulai kegiatan penyebaran agama Kristen di Kepulauan Marshall pada tahun 1857, termasuk di Atol Ebon.[4] Pada tahun 1884, Ebon diklaim oleh Kekaisaran Jerman bersamaan dengan wilayah Kepulauan Marshall lainnya, dan Jerman juga mendirikan pos dagang di atol ini. Seusai Perang Dunia I, wilayah ini menjadi bagian dari Mandat Pasifik Selatan Kekaisaran Jepang.

Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Atol Ebon menjadi bagian dari Trust Territory of the Pacific Islands yang dikelola oleh Amerika Serikat hingga Kepulauan Marshall meraih kemerdekaannya pada tahun 1986.

Pada tanggal 30 Januari 2014, José Salvador Alvarenga (orang El Salvador yang bekerja sebagai nelayan di Meksiko) ditemukan di Pulau Ebon oleh penduduk setempat setelah ia terdampar selama 13 bulan di Samudra Pasifik; kapalnya telah mengarungi jarak sejauh 10.800 kilometer hingga ia akhirnya mencapai Atol Ebon.[5][6]

Referensi

  1. ↑ Secretariat of the Pacific Community (2012). Republic of the Marshall Islands 2011 Census Report. Noumea, New Caledonia.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  2. ↑ Marshallese-English Dictionary - Place Name Index
  3. ↑ Spennemann, Dirk H.R. (ed.). "Atoll Information – Ebon Atoll (Marshall Islands)". Digital Micronesia. Charles Sturt University. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-12-23.
  4. 1 2 3 Hezel, Francis X. (1994). The First Taint of Civilization: A History of the Caroline and Marshall Islands in Pre-colonial Days, 1521-1885. University of Hawaii Press. hlm. 200–202. ISBN 978-0-8248-1643-8.
  5. ↑ "Castaway claims he drifted 13 months in Pacific". CNN.
  6. ↑ Franklin, Jonathan (7 November 2015). "Lost at sea: the man who vanished for 14 months". The Guardian. Diakses tanggal 7 November 2015.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ebon Atoll.


Ikon rintisan

Artikel bertopik geografi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan