Senin, 28 September 2026
20:21 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto

Apriori

Apriori adalah pengetahuan yang ada sebelum bertemu dengan pengalaman.[1] Atau dengan kata lain, sebuah istilah yang dipakai untuk menjelaskan bahwa seseorang dapat berpikir dan memiliki asumsi tentang segala sesuatu, sebelum bertemu dengan pengalaman dan akhirnya mengambil kesimpulan.[1] Hal ini dipakai untuk mengkritik filsafat empirisme yang hanya menekankan yang logis, yang dialami, yaitu selalu bergantung pada pengalaman, hal itu disebut sebagai a posteriori.[1]

Asal kata apriori adalah bahasa Latin prius yang berarti unsur-unsur, dan a berati "tidak" atau "sebelum", jadi, apriori adalah unsur-unsur sebelum, yaitu sebelum bertemu dengan pengalaman.[2] Dan unsur-unsur yang dimaksud adalah kategori-kategori yang dimiliki manusia yang dipakai untuk mengolah data inderawi sehingga menghasilkan pengetahuan yang sahih atau andal.[2]

Istilah ini paling sering dan penting dikemukakan oleh Imanuel Kant, seorang filsuf besar.[1] Bagi Kant, apriori berangkat dari dugaan tanpa bergantung yang empiris atau pengalaman yang bisa ditangkap oleh inderawi.[1] Istilah ini dipakai untuk menyatakan bahwa manusia sudah memiliki kesadaran dalam dirinya sebelum bertemu dengan pengalaman-pengalaman dalam lingkungan dan dunianya.[1] Kant menyatakan bahwa pengetahuan yang sahih bukan hanya bergantung dari pengalaman saja, sebab hal ini kurang logis berkenaan dengan waktu dan asal mula.[1] Bagi dia, terdapat hal-hal yang selalu tidak bisa ditangkap dan dijelaskan oleh inderawi saja.[1] Imanuel Kant meyakini bahwa ada sesuatu yang menjadi "dalang" atas pikirannya.[1] Dan dia memakai istilah "transenden" untuk menunjukkan subjek yang niscaya sudah ada itu.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Lorens Bagus., Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996, Hlm. 68
  2. 1 2 Simon Petrus Lili Tjahjadi, Tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan, Yogyakarta: Kanisius, 2007, Hlm. 49
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan