Selasa, 22 September 2026
06:46 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya
Apanase

Apanase

Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Apanase"  berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Mei 2023)
250px-16th-century_unknown_painters_-_Philip_the_Bold_-_WGA23677.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pada awalnya adalah penitipan suatu wilayah yang diambil dari tanah milik raja dan diberi oleh raja kepada Putra bungsunya, yang tidak akan menggantikannya sebagai raja karena Tahta akan jatuh ke Putra sulung. Kata apa nage berasal dari bahasa latin akhir Ad panem, yang berarti untuk memberi roti maksudnya agar Si Pangeran bungsu kedapatan nafkah.

Apanase (bahasa Prancis: apanage) atau daerah lungguh, pada awalnya adalah penitipan suatu wilayah yang diambil dari tanah milik raja dan diberi oleh raja kepada putera bungsunya, yang tidak akan menggantikannya sebagai raja karena takhta akan jatuh ke putera sulung. Kata apanage berasal dari bahasa Latin akhir ad panem, yang berarti "untuk memberi roti" (panem), maksudnya agar si pangerang bungsu kedapatan nafkah.[1]

Sistem apanase sempat main peranan yang cukup penting dalam sejarah kerajaan Prancis. Sistem ini berkembang dengan meluasnya kewibawaan kerajaan sejak abad ke-13. Kemudian sistem apanase menghilang dengan ditegaskannya kewibawaan khusus raja sejak akhir Abad Pertengahan. Apanase berdampak atas pembangunan wilayah kerajaan, yang terlihat pada lambang banyak provinsi Prancis.[1]

Apanase Bourgogne adalah asal-muasal negara Belgia, yang duc menikmati kedudukan khusus terhadap raja Prancis.

Di Indonesia

Menurut Nagarakretagama, tokoh Rajasawardhana menyandang gelar "Bhre Matahun" (Matahun adalah nama lama Bojonegoro). Dia adalah suami Indu Dewi, yang juga dikenal dengan gelar Bhre Lasem. Sebagai saudara raja Hayam Wuruk dari Majapahit, mereka diberi kekuasaan atas tanah Matahun dan Lasem. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa Rajasawardhana dan Indu Dewi mendapat tanah tersebut sebagai apanase. Istilah Bhre adalah singkatan dari bhatara i, yang berarti "tuan di".[1]

Referensi

Kutipan

  1. 1 2 3 Sururi, M. Muchsin. "Mengenal Sistem Apanage: Tanah Lungguh dan Bekel dalam Sejarah Agraria Nusantara - Neo Historia - Halaman 2". Mengenal Sistem Apanage: Tanah Lungguh dan Bekel dalam Sejarah Agraria Nusantara - Neo Historia - Halaman 2. Diakses tanggal 2025-09-25.

Sumber


Ikon rintisan

Artikel bertopik politik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan