Senin, 02 November 2026
07:42 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Anidar Kusaini

Anidar Kusaini

Bagikan:
Topik artikel ini mungkin tidak memenuhi kriteria kelayakan umum. Harap penuhi kelayakan artikel dengan: menyertakan sumber-sumber tepercaya yang independen terhadap subjek dan sebaiknya hindari sumber-sumber trivial. Jika tidak dipenuhi, artikel ini harus digabungkan, dialihkan ke cakupan yang lebih luas, atau dihapus.
Cari sumber: "Anidar Kusaini" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
60px-Unbalanced_scales.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kontributor utama artikel ini tampaknya memiliki hubungan dekat dengan subjek. Artikel ini mungkin perlu dirapikan agar mematuhi kebijakan konten Wikipedia, terutama dalam hal sudut pandang netral.
Silakan dibahas lebih lanjut di halaman pembicaraan artikel ini.
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Anidar Kusaini
250px-Nenek_Anidar.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Anidar Kusaini
Lahir
Anidar Kusaini

(1930-11-12)12 November 1930
Meninggal15 Mei 2006(2006-05-15) (umur 75)
AlmamaterSekolah Guru dan Hakim Agama Negeri (SGHA), Yogyakarta
Pasangan menikahDrs. R. Mohammad Zuhdan
AnakDrs. Syamsul Hidayat
Drs. Ahmad Diponegoro, M.A., M.M.
Prof. Dr. M. Zaim, M.Hum
Afifah Asriati, B.A., S.Sn, M.A.
Rahimah Dwiyanti
Dr.Hamdi Aniza Pertama,S.E.Akt.,M.Si.
Yuni Setiawan, S.Ag.
Tri Handayani, S.Pd., M.Pd

Anidar Kusaini (12 November 1930 – 15 Mei 2006), dalam kesehariannya akrab dipanggil Idang atau buk Idang, adalah seorang guru agama, pendakwah, aktivis sosial di Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar. Ketika Pendidikan anak usia dini (PAUD/TK) baru dikenal di kota-kota besar, Anidar bersama Suaminya Drs. R. Mohd. Zuhdan mendirikan Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TA-ABA) di bekas reruntuhan Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah di Sawah Janggi, Desa Tanjung, Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat pada 1 Januari 1976. Di samping itu, dia juga menghidupkan kembali Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, yang melayani pendidikan agama setelah anak-anak selesai mengikuti pendidikan formal di Sekolah Dasar. Anidar adalah aktivis organisasi wanita dan sosial kemasyarakatan di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar.[1]

Biografi

Anidar Kusaini lahir di Pangkalan pada tanggal 12 November 1930 dari Ibu Malai dan Ayah Kusaini St. Rajo Nan Gadang. Dalam darah Anidar mengalir darah ulama besar yang berasal dari Pandai Sikek, yaitu Syekh Muhammad Yunus, seorang qadhi di Pandai Sikek. Dari istri ketiga Syekh Muhammad Yunus, Raliah, lahir seorang anak perempuan yang bernama Malai, yang kemudian dari perkawinannya dengan Kusaini St. Rajo nan Gadang, lahirlah Anidar Kusaini. Neneknya, Raliah, seayah dengan Rahmah El Yunusiyah, pendiri Diniyyah Puteri Padang Panjang. Anidar menempuh Pendidikan Sekolah Rakyat di Koto Baru dan melanjutkan ke Vervolgschool di Pekanbaru, Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah di Pandai Sikek, Training College (SGA) di Payakumbuh, dan Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) di Yogyakarta. Diangkat pertama kali menjadi guru di PGAN Pekalongan (1955), kemudian pindah mengajar di PGAN Yogyakarta (1962). Tahun 1966, Anidar dan keluarga pindah ke kampung halamannya Desa Tanjung, Nagari Pandai Sikek dan mengajar di PGA Yayasan Koto Baru, Padang Panjang, PGAN 4 Tahun Padang Panjang di Koto Baru, dan PGAN 6 Tahun Padang Panjang di Koto Baru sampai pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil. Setelah pensiun ia juga masih mengabdikan dirinya pada kegiatan sosial pada organisasi Aisyiyah Ranting Pandai Sikek, Cabang X Koto, dan Daerah Padang Panjang Batipuh X Koto. Anidar Kusaini dan Suaminya Drs. R. Mohd. Zuhdan berhasil mendidik dan menyekolahkan delapan anaknya ke Perguruan Tinggi, yaitu Drs. Syamsul Hidayat; Drs. Ahmad Diponegoro, M.A., M.M; Prof. Dr. M. Zaim, M.Hum.; Afifah Asriati, B.A., S.Sn, M.A.; Rahimah Dwiyanti, A.P.; Dr. Hamdi Aniza Pertama, S.E., M.Si.; Yuni Setiawan, S.Ag., dan Tri Handayani, S.Pd., M.Pd. Mengikuti darah aktivis ibu dan bapaknya, kedelapan anaknya juga menjadi aktivis organisasi sosial kemasyarakatan dan pemerhati pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.[2]

Riwayat Pendidikan

  • Sekolah Rakyat Koto Baru
  • Vervolgschool di Pekanbaru
  • MTs Muhammadiyah Pandai Sikek (1950)
  • Training College/SGA, Payakumbuh (1952)
  • Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) Negeri, Yogyakarta (1954)

Riwayat Pekerjaan

  • Guru PGAN Pekalongan
  • Guru PGAN Yogyakarta
  • Guru PGA Yayasan Koto Baru, Padang Panjang
  • Guru PGAN 4 Tahun Padang Panjang di Koto Baru
  • Guru PGAN 6 Tahun Padang Panjang di Koto Baru

Organisasi Sosial

  • Ketua Pengurus Ranting Aisyiah Pandai Sikek
  • Ketua Pengurus Cabang Aisyiah Kecamatan X Koto
  • Pengurus Daerah Aisyiyah Padang Panjang Batipuh X Koto

Catatan Kaki

Daftar pustaka
  • Anwar Thahar (2019). Drs. R. Moh Zuhdan: Berjuang di Tanah Seberang. Jakarta: Uhamka Press.
  • Tri Handayani (2017). Idang: Pendidik Gigih. Surabaya: Cipta Media Edukasi. {{cite book}}: Tautan eksternal dalam |ref=
Rujukan
  1. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-05. Diakses tanggal 2020-08-20.
  2. ↑ "Bedah Buku Tentang Moh Zuhdan Dihadiri Rektor dan Dosen Tiga Universitas". Suara Muhammadiyah (dalam bahasa American English). 2019-06-13. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-03-25. Diakses tanggal 2020-03-25.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan