Minggu, 01 November 2026
12:12 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Angka Prodjosoedirdjo

dokter di Hindia Belanda

Bagikan:
Angka Projosudirjo
Lahir(1887-12-13)13 Desember 1887
Meninggal1975
Almamater
  • Holland Indische School (HIS)
  • Hoogere Burger School (HBS)
  • School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA)
PekerjaanDokter
Dikenal karena
  • Salah satu pendiri Boedi Oetomo-sebagai bendahara
  • Dokter Boemiputra lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA)
Pasangan menikahRaden Adjeng Sudijah
Anak7
Orang tua
  • Raden Prajadiwirya (Ayah)
  • Raden Ayu Prajadiwirya (Ibu)

Raden Angka Prodjosoedirdjo (Banjarnegara, Jawa Tengah, 13 Desember 1887 - Banyumas, Jawa Tengah, 1975) adalah salah satu tokoh pendiri Boedi Oetomo.[1] Ia juga menerima gelar dokter Jawa dari School tot Opleiding van Inlandsche Artsen STOVIA-gelar ini diberikan untuk orang-orang Boemiputra setelah lulus dari STOVIA.

Riwayat hidup

Raden Anggoro Kasih Prodjosoedirdjo lahir 13 Desember 1887, dari pasangan Raden Prajadiwiryo dengan Raden Ayu Prajadiwiryo. Ia menempuh pendidikan di Holland Indische School (HIS) selama 7 tahun, dan Hoogere Burger School (HBS) selama 5 tahun. Kemudian melanjutkan sekolah di STOVIA pada 4 Januari 1904.

pada 30 Juli 1912, ia lulus dari STOVIA, dengan predikat cumlaude. Atas prestasinya itu, STOVIA menganugerahkan cendera mata berupa kuku macan, dan jam saku berantai dengan gantungan terbuat dari emas. Angka menikah dengan Raden Adjeng Sudijah, puteri dari pasangan Raden Purwasudirjo dengan Raden Ayu Samsirin Purwasudirjo. Keduanya dikaruniai 7 anak.

pada tahun 1949, Angka beserta beberapa dokter di Purwokerto mendirikan apotek Dwiwarna. Apotek yang didirikan dengan sahabatnya adalah apotek pertama di Purwokerto. Namun usahanya tidak berlangsung lama, pada tahun 1970 apotek dijual, karena para pemegang saham pindah dari Purwokerto dan menarik semua sahamnya.

Semasa hidupnya, ia sudah pernah bertugas di beberapa tempat, di antaranya di Pemalang, menangani pemberantasan penyakit frambosia tahun 1935, dan menangani penyakit malaria di Cilacap bersama UNICEF, pada tahun 1954.

Tahun 1967, ia membuat surat tertulis tentang kesaksian hidup mengenai pendirian Boedi Oetomo. Sebagai jawaban dari surat Sardjito yang menyaksikan pendirian Boedi Oetomo oleh para pelajar STOVIA pada 1908.

Saat usia 88 tahun, ia meninggal dunia dan dimakamkan di Pesarean Keluarga, Sokaraja, di samping makam isterinya yang meninggal lebih dulu, pada 1968 dalam usia 75 tahun.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Para pendiri "Boedi OEtomo" : Para pelajar STOVIA, a.l. R. Soetomo, M. Goenawan, Moh. Saleh, M. Goembrek, dan R. Angka. Mereka adlah para pendiri Boedi Oetomo yang merupakan awal Kebangkitan Nasional.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan