Sabtu, 10 Oktober 2026
14:17 WIB
TERKINI
Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah

Anemokori

metode penyebaran biji menggunakan angin

Bagikan:

Anemokori adalah salah satu metode penyebaran biji pada tumbuhan yang memanfaatkan agen pemencar berupa angin. Penyebaran biji pada suatu waktu dan tempat melalui anemokori ditentukan oleh arah angin.[1] Hembusan angin berperan menerbangkan spora atau biji ke tempat baru yang sesuai dengan habitat tumbuhnya menjadi tumbuhan baru.[1]

Ciri-ciri tumbuhan

Tumbuhan yang dapat melakukan anemokori memiliki biji berukuran kecil, ringan, berbulu, berambut, atau bersayap. Anemokori dapat terjadi pada tumbuhan yang memiliki salah satu atau beberapa ciri-ciri tersebut. Biji kecil dan ringan merupakan ciri Orchidaceae dan spora jamur. Biji berbulu atau berambut merupakan ciri dari alang-alang dan kapuk. Sedangkan biji bersayap misalnya pada biji mahoni dan damar. Pada kondisi tertentu, anemokori dapat melalui buah yang bersayap, misalnya pada meranti dan tengkawang. Anemokori juga dapat terjadi karena angin mengguncang tangkai tumbuhan, sehingga biji dapat keluar melalui celah-celah. Tumbuhan yang mengalami kondisi ini ialah opium.[2]

Agen pemencar

Proses anemokori pada tumbuhan dilakukan dengan memanfaatkan alat bantu pemencar pada biji. Fungsi alat pemencar ini adalah menjauhkan biji dari tumbuhan induknya. Tujuan anemokori ini adalah mencapai tempat yang sesuai untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan jenis tumbuhan tersebut. Alat bantu pemencar antara lain berbentuk sayap atau bulu pada biji. Bentuk sayap juga dapat diperoleh dari bagian kulit buah atau mahkota bunga yang tipis dan mengering.[3]

Strategi pemencaran

Anemokori dapat dibagi menjadi tiga strategi pemencaran, yaitu penerbang (meteoranemokori), pemencaran dengan bergulung-gulung (kamaekori), dan pelempar (anemokori balistik). Kelompok tumbuhan penerbang umumnya memiliki diaspora serbuk, struktur tumbuhan yang menyerupai balon, diaspora berbulu yang menyerupai helaian benang atau rambut, maupun diaspora bersayap. Strategi pemencar bergulung-gulung umumnya dilakukan oleh biji tumbuhan yang menyatu dengan bagian buah yang mengering ketika telah masak hingga berwarna kecokelatan. Strategi pemencaran bergulung umum ditemukan pada Dipterocarpaceae. Pada anemokori dengan strategi pelempar, waktu dan kondisi pelemparannya beragam tetapi hanya terjadi pada buah kering. Ada buah kering yang memencarkan biji ketika masak dan pecah terbuka. Pada buah kering yang memancarkan biji dalam keadaan tertutup, bentuknya pipih sehingga menjadi sayap yang mampu menerbangkan keseluruhan buah yang di dalamnya mengandung biji.[4]

Kemampuan biji

Biji yang mengalami anemokori umumnya memiliki kemampuan dormansi. Kemampuan ini membuat biji hasil anemokori tidak akan menumbuhkan kecambah pada kondisi lingkungan yang tidak sesuai untuk pertumbuhan semai bagi biji berikutnya. Dormansi membuat biji anemokori berperan secara ekologi dalam mempertahankan keberlanjutan jenis tumbuhan. Kelemahan dari biji anemokori yang memiliki kemampuan dormansi adalah peluang pertahananan hidup dan peluang pertumbuhannya rendah. Biji tidak akan langsung menumbuhkan kecambah beberapa saat setelah jatuh dari tumbuhan induknya.[5]

Lihat pula

Catatan kaki

  1. 1 2 Paiman 2020, hlm. 60.
  2. ↑ Paiman 2020, hlm. 61.
  3. ↑ Latifah dan Sudarmono 2018, hlm. 1-2.
  4. ↑ Latifah dan Sudarmono 2018, hlm. 2.
  5. ↑ Latifah dan Sudarmono 2018, hlm. 11.

Daftar pustaka

  • Paiman (2020). Yudono, Prapto (ed.). Gulma Tanaman Pangan (PDF). Yogyakarta: UPY Press. ISBN 978-623-76680-9-1. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2021-09-12. Diakses tanggal 2021-09-12.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan)Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Latifah, D., dan Sudarmono (2018). Lestari, R., dan Ariati, S. R. (ed.). Flora Anemokori Hijaukan Bumi. Jakarta: LIPI Press. ISBN 978-979-799-958-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-09-12. Diakses tanggal 2021-09-12.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan)Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan