Selasa, 27 Oktober 2026
01:50 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Anantarika-karma

istilah kejahatan dalam Buddhis

Bagikan:

Ānantarika-kamma (Pali) atau ānantarika-karma (Sanskerta) adalah daftar kejahatan besar yang membawa malapetaka melalui proses karma.[1][2] Kejahatan-kejahatan tersebut dianggap sangatlah besar dan bahkan non-Buddhis pun harus menjauhinya. Menurut Agama Buddha, melakukan kejahatan semacam itu akan membuat pelaku menjauhi tahap-tahap sotāpanna, sakadagami, anāgāmi atau arahat pada masa hidupnya.[3] Lima kejahatan tersebut adalah:[4][5][6]

  • Sengaja membunuh ayahnya.
  • Sengaja membunuh ibunya.
  • Membunuh seorang Arahat (orang yang tercerahkan penuh).
  • Menumpahkan darah seorang Buddha.
  • Menciptakan perpecahan dalam Sangha, komunitas biksu, biksuni dan pariṣā Buddha yang berniat untuk mencapai pencerahan.

Devadatta

Devadatta dikenal karena berniat untuk membunuh Buddha Sakyamuni sebanyak beberapa kali yang meliputi:

  • Melempar batu besar terhadapnya. Devadatta salah arah, tetapi serpihan dari batu tersebut menumpahkan darah dari kaki sang Buddha.
  • Mengarahkan seekor gajah ke arah sang Buddha. Sang Buddha menjinakkan gajah tersebut dengan memberikan Mettā kepadanya.

Raja Suppabuddha

Raja Suppabuddha adalah ayah dari Devadatta dan Yasodharā dan ayah mertua dari Pangeran Siddhattha. Pada suatu hari, Suppabuddha menghalangi perjalanan sang Buddha, menolak untuk memberikannya jalan, dan memberikan pesan, "Aku tak dapat memberikan jalan kepada sang Buddha, yang lebih muda ketimbang saya". Mengetahui jalannya dihalangi, sang Buddha dan para biksu berbalik. Saat sang Buddha berbalik, ia berkata kepada Ananda, "Karena sang raja enggan memberikan jalan kepada sang Buddha, ia menerima karma buruk dan tak lama lagi ia akan mendapatkan akibatnya". Raja tersebut dikatakan meninggal pada hari ketujuh usai peristiwa tersebut terjadi. Ia jatuh dari tangga, pingsan dan meninggal dan lahir dalam keadaan menderita, tak dapat lari dari dampak karma buruknya (menurut kepercayaan Buddha).[7] Menurut prediksi sang Buddha, bumi menelannya. Ia berkata, "Sehingga, raja jatuh dari tangga dan tak lama saat ia menyentuh tanah, tanah tersebut terbuka dan menelannya dan membawanya ke Avici Niraya."[8]

Referensi

  1. ↑ Gananath Obeyesekere (1990), The Work of Culture: Symbolic Transformation in Psychoanalysis and Anthropology, University of Chicago, ISBN 978-0-226-61599-8
  2. ↑ Walters, Jonathan S. (1990). "The Buddha's Bad Karma: A Problem in the History of Theravâda Buddhism". Numen. 37 (1): 70–95. JSTOR 3269825.
  3. ↑ Nakamura, Hajime (1991). Ways of Thinking of Eastern Peoples: India, China, Tibet, Japan. Motilal Banarsidass. hlm. 285. ISBN 978-8120807648.
  4. ↑ "The Sutra Preached by the Buddha on the Total Extinction of the Dharma". buddhism.org. Diakses tanggal 10 Januari 2013.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Nyanatiloka (1980), Buddhist Dictionary: Manual of Buddhist Terms and Doctrines, Buddhist Publication Society, ISBN 978-955-24-0019-3
  6. ↑ Triplegem glossary Diarsipkan 2006-12-28 di Wayback Machine
  7. ↑ IX:12 King Suppabuddha blocks the Buddha's path
  8. ↑ Dhammapada Verse 128 Suppabuddhasakya Vatthu

Bacaan tambahan

  • Silk, Jonathan A. (2007). Good and Evil in Indian Buddhism: The Five Sins of Immediate Retribution, Journal of Indian Philosophy 35 (3), 253-286
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan