Sabtu, 24 Oktober 2026
03:22 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Al-Mu'ayyad

Bagikan:
Al-Mu'ayyad
المؤيد
Gubernur Suriah
Masa jabatan
850 – 855
Penguasa monarkiAl-Mutawakkil
PendahuluMalik bin Tawk
(847–850)
Penggantial-Fath bin Hakan at-Turki
(856–861)
Masa jabatan
856 – 861
Penguasa monarkiAl-Mutawakkil
Wakilal-Fath bin Hakan at-Turki
Informasi pribadi
Lahir842/844
Meninggal866
Samarra, Kekhalifahan Abbasiyah
Orang tua
Kerabatal-Muntashir (saudara laki-laki)
Al-Musta'in (sepupu)
Al-Mu'tazz (saudara laki-laki)
Al-Muhtadi (sepupu)
Al-Mu'tamid (saudara laki-laki)

Ibrahim bin Jaʽfar al-Mutawakkil (bahasa Arab:ابراهيم بن جعفر المتوكل; meninggal 866), lebih dikenal dengan laqab al-Mu'ayyad (المؤيد), adalah seorang pangeran Abbasiyah, putra ketiga khalifah Abbasiyah al-Mutawakkil. Ia adalah gubernur Suriah dari 850 hingga 861 dan juga untuk sementara waktu berada di urutan ketiga takhta Abbasiyah.

Al-Mua'yyad adalah saudara al-Muntashir dan al-Mu'tazz, yang keduanya akhirnya menjadi khalifah juga.

Kehidupan

Al-Mu'ayyad adalah putra al-Mutawakkil dan selirnya, Ummu Ishaq, seorang selir Andulasia.[1]

Ayahnya, khalifah al-Mutawakkil telah membuat rencana penerus yang akan memungkinkan anak-anaknya untuk mewarisi kekhalifahan setelah kematiannya; ia akan digantikan pertama oleh putra sulungnya, al-Muntashir, kemudian oleh al-Mu'tazz dan ketiga oleh al-Mu'ayyad.[2]

Pada tahun 849, al-Mutawakkil mengatur suksesinya, dengan menunjuk tiga putranya sebagai ahli waris dan menugaskan mereka pemerintahan dan hasil provinsi-provinsi Kekaisaran: yang tertua, al-Muntashir, dinobatkan sebagai pewaris pertama, dan menerima jabatan gubernur Mesir, Jazira, dan hasil sewa di ibukota, Samarra; al-Mu'tazz ditugaskan untuk mengawasi wilayah gubernur di Khorasan; dan al-Mu'ayyad ditugaskan untuk mengurus Suriah.[3]

Al-Mutawakkil tampaknya lebih menyukai al-Muntashir. Akan tetapi, hal ini tampaknya berubah dan al-Muntashir khawatir ayahnya akan menentangnya. Dengan dukungan implisit dari faksi Turki di dalam pasukan, ia merencanakan pembunuhan al-Mutawakkil yang dilakukan oleh seorang prajurit Turki pada tanggal 11 Desember 861.

Resimen Turki kemudian mendesak al-Muntashir untuk menyingkirkan saudara-saudaranya dari suksesi, karena takut akan balas dendam atas pembunuhan ayah mereka. Sebagai gantinya, ia akan mengangkat putranya sebagai pewaris tahta. Pada tanggal 27 April 862, kedua saudara tersebut, al-Mu'ayyad dan al-Mu'tazz, menulis pernyataan turun takhta. Selama masa pemerintahan al-Muntashir yang singkat (memerintah 861–862), Turki meyakinkannya untuk menyingkirkan al-Mu'tazz dan al-Mu'ayyad dari suksesi. Ketika al-Muntashir meninggal karena sebab yang tidak diketahui, para perwira Turki berkumpul dan memutuskan untuk mengangkat sepupu khalifah yang telah meninggal, al-Musta'in (Keponakan al-Mutawakkil) ke atas takhta.[4]

Khalifah baru itu segera menghadapi kerusuhan besar di Samarra untuk mendukung al-Mu'tazz yang kehilangan haknya; para perusuh ditumpas oleh militer tetapi korban di kedua belah pihak sangat banyak. Al-Musta'in, khawatir bahwa al-Mu'tazz atau al-Mua'yyad dapat memaksakan klaim mereka terhadap kekhalifahan, pertama-tama berusaha menyuap mereka dan kemudian menjebloskan mereka ke penjara.[5]

Pada tahun 866, al-Musta'in digulingkan dan al-Mu'tazz berkuasa. Segera setelah menjadi Khalifah baru, al-Mu'tazz mengeksekusi mantan Khalifah al-Musta'in. Tentara Turki, setelah berkelahi dengan pasukan Maghariba, kini mengalihkan dukungan mereka kepada al-Mu'ayyad. Marah dengan kesulitan ini, Khalifah yang cemburu itu memenjarakan saudaranya, al-Mu'ayyad, yang merupakan pewaris takhta berikutnya, bersama dengan saudaranya yang lain, Abu Ahmad, yang dengan berani memimpin pasukan dalam pertempuran terakhir di pihaknya.

Orang-orang Turki berusaha membebaskannya, tetapi al-Mu'tazz, yang lebih khawatir, memutuskan untuk membunuhnya. Ia dibekap dengan jubah berbulu halus (atau, seperti kata orang lain dibekukan di atas hamparan es); dan jasadnya kemudian dipajang di hadapan Pengadilan, seolah-olah, tanpa bekas kekerasan, ia meninggal secara wajar, (tipu daya yang jelas).

Klaim pindah agama ke Kristen

Periode ini menyaksikan munculnya legenda bahwa seorang pangeran Abbasiyah telah masuk Kristen di bawah pengaruh Theodore dari Edessa, mengambil nama "John" dan dibunuh karena kemurtadannya; Alexander Vasiliev berspekulasi bahwa Muayyad mungkin adalah orang yang pindah agama. Namun, tidak ada catatan Kristen atau Muslim yang mengaitkan Muayyad dengan Kristen atau bahkan spekulasi keagamaan. Motif pembunuhannya tampaknya murni politis; jika dia benar-benar pindah agama, itu akan memberi Mutazz alasan untuk membunuhnya karena kemurtadannya dan telah tercatat.[6][7]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Ibn al-Sāʿī 2017, hlm. 36.
  2. ↑ Bosworth 1993, hlm. 793.
  3. ↑ Kennedy 2004, hlm. 167.
  4. ↑ Bosworth, "Muntasir," p. 583
  5. ↑ Saliba (1985) pp. 6-7
  6. ↑ "A History of Orthodox Missions Among the Muslims". Yurij Maximov, Russian author and religious studies teacher in the Religious Studies at the Moscow Orthodox Seminary. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-12-06. Diakses tanggal 2007-08-17.
  7. ↑ Joseph Patrich, The Sabaite Heritage in the Orthodox Church, Peeters Publishers, 2001, ISBN90-429-0976-5, Google Print, p. 157.

Bacaan lanjutan

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan