Rabu, 28 Oktober 2026
02:19 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Akses universal terhadap pendidikan

Akses universal terhadap pendidikan

kemampuan semua orang untuk memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan, tanpa memandang kelas sosial, ras, jenis kelamin, seksualitas, latar belakang etnis, atau disabilitas fisik dan mental.

Bagikan:
250px-Students_in_Ghana_in_a_parade_for_inclusive_education.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Siswa dan guru di Ghana dalam sebuah pawai untuk pendidikan inklusif.
250px-Cienfuegos_teaching_art_to_people_with_disabilities.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Cienfuegos, sebuah kelompok nirlaba yang mengajarkan seni kepada penyandang disabilitas di Kuba.

Akses universal terhadap pendidikan[1] adalah kemampuan semua orang untuk memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan, tanpa memandang kelas sosial, ras, jenis kelamin, seksualitas, latar belakang etnis, atau disabilitas fisik dan mental.[2] Istilah ini digunakan baik dalam penerimaan perguruan tinggi untuk kelas menengah dan bawah, dan dalam teknologi bantu[3] untuk penyandang disabilitas. Beberapa kritikus merasa bahwa praktik yang dilakukan di pendidikan tinggi ini, yang berbeda dengan sistem meritokrasi yang ketat, telah menyebabkan penurunan standar akademik.[4] Untuk memfasilitasi akses pendidikan bagi semua, negara-negara di dunia telah mengadopsi hak atas pendidikan.[5]

Akses universal terhadap pendidikan mendorong berbagai pendekatan pedagogis untuk mencapai penyebaran pengetahuan di seluruh ragam latar belakang sosial, budaya, ekonomi, nasional dan biologis. Konsep ini awalnya dikembangkan dengan tema akses kesempatan yang sama dan penyertaan siswa dengan disabilitas fisik dan mental. Kini, tema yang mengatur akses universal terhadap pendidikan ini telah berkembang dalam semua bentuk kemampuan dan keragaman. Namun, karena definisi keragaman itu sendiri merupakan sebuah peleburan konsep yang luas, guru yang menjalankan akses universal akan terus menghadapi tantangan dan perlu memasukkan penyesuaian dalam rencana pelajaran mereka untuk mendorong kesempatan pendidikan yang sama.[6]

Referensi

  1. ↑ "Universal Access to Primary Education - World Affairs Council". www.wacphila.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2018-07-01. Diakses tanggal 2018-07-01.
  2. ↑ "Universal Access to Learning Improves all Countries | Global Campaign For Education United States Chapter". Global Campaign For Education United States Chapter (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-07-01.
  3. ↑ "Definition of Assistive Technology". www.gpat.org (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-17. Diakses tanggal 2018-07-01.
  4. ↑ MacDonald, Heather (Musim semi 2018). "How Identity Politics Is Harming the Sciences". City Journal. Manhattan Institute. Diakses tanggal 12 Juni 2018. Lowering standards and diverting scientists' energy into combating phantom sexism and racism is reckless in a highly competitive, ruthless, and unforgiving global marketplace.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "Understanding education as a right". Right to Education Initiative (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-07-01.
  6. ↑ "Equal Right, Equal Opportunity – Inclusive Education for All | Education". www.unesco.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-07-01.


Ikon rintisan

Artikel bertopik pendidikan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan