Selasa, 27 Oktober 2026
10:32 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Ajang kelicung

Ajang kelicung

Jenis pohon

Bagikan:
Ajang kelicung
250px-Stamp_of_Indonesia_-_1997_-_Colnect_254202_-_Flora_and_Fauna_-_Diospyros_macrophylla.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perangko Indonesia tahun 1997
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Asteridae
Ordo: Ericales
Famili: Ebenaceae
Genus: Diospyros
Spesies:
D. macrophylla
Nama binomial
Diospyros macrophylla
Sinonim[1]
  • Diospyros cystopus Miq.
  • Diospyros pachycalyx Merr.
  • Diospyros phyllomegas Steud.
  • Diospyros suluensis Merr.

Ajang kelicung (Diospyros macrophylla) adalah nama sejenis pohon kerabat kayu hitam (marga Diospyros), anggota suku Ebenaceae. Pohon ini merupakan tumbuhan khas Indonesia khususnya Nusa Tenggara Barat.[2] Ajang kelicung di daerah NTB dikenal dengan sebutan kayu kelicung.[2]

Status Perlindungan

Keberadaan ajang kelicung di Nusa Tenggara Barat saat ini sudah hampir punah.[2] Awalnya tanaman ini tumbuh liar di hutan yang terletak di Pulau Lombok dan Sumbawa.[3] Penebangan secara liar yang terjadi secara terus menerus menyebabkan populasi ajang kelicung makin menyusut.[3] Selain karena penebangan liar, menurunnya populasi ajang kelicung karena pertumbuhan tanaman ini sangat lambat sehingga saat dibududayakan juga lama tumbunya.[3] Mahalnya harga kayu ajang kelicung membuat kayu ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga banyak yang ingin menjualnya.[3]

Penggunaan

250px-Stamps_of_Indonesia%2C_043-10.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perangko tempel bergambar hewan dan tumbuhan khas Indonesia

Sebagai flora identitas Indonesia dari Nusa Tenggara Barat, Ajang kelicung pernah digunakan sebagai gambar pada perangko tempel yang ada di Indonesia.[2] Tumbuhan ini juga digunakan sebagai flora identitas dari Provinsi Nusa Tenggara Barat.[2] Tanaman ajang kelicung sering dimanfaatkan bagian kayunya.[2] Kayu ajang kelicung memiliki kualitas yang bagus yaitu kuat dan pola serat kayunya juga indah.[2] Kayu ajang kelicung dimanfaatkan untuk membuat aneka mebel seperti kursi, lemari, dan meja.[2] Pembuatan kusen, jendela, pintu, jembatan, dan kapal juga sering menggunakan kayu jenis ini.[2] Masyarakat setempat memanfaatkan kayu ini untuk membuat berbagai kerajinan tangan seperti patung dan ukiran.[2]

Habitat

Tempat hidup ajang kelicung adalah di daerah tepi sungai, dengan tanah datar tetapi tidak tergenang air.[4] Tanaman ini juga hidup di daerah dengan tanah liat, tanah masir, dan berbatu yang ada di hutan asli.[4] Persebaran ''species'' ajang kelicung tersebar hampir ke seluruh pulai besar di Indonesia yaitu ke Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.[4] Tanaman identitas NTB tersebut hidup pada ketinggian 5 sampai 800 meter di atas permukaan laut.[4]

Deskripsi

Batang

Pohon ajang kelicung dapat mencapai tinggi 46 meter dengan diameter batang 60 meter.[4] Kulit pohon ajang kelicung berwarna merah cokelat dan kayunya berwarna putih bersih.[4] Ajang kelicung termasuk tanaman dengan batang bercabang, cabang tanaman ini antara 9 sampai 30 meter.[4] Bagian batang kadang-kadang juga tumbuh akar papan dengan panjang mencapai satu setengah meter.[4]

Daun

Daun ajang kelicung termasuk daun tunggal karena setiap tangkai hanya menyokong satu helai daun.[5] Daun ajang kelicung berbentuk bulat memanjang atau jorong.[5] Ukuran helaian daun ajang kelicung ialah 7–35 cm X 3,5–19 cm.[5] Permukaan daun berwarna hijau dan bagian bawah daun terdapat bulu-bulu halus.[5] Sistem pertulangan daun dari tumbuhan ini adalah menyirip.[6]

Bunga dan buah

250px-Bunga_Jantan_Ajan_Kelicung_%28D.macrophylla%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bunga jantan Ajan Kelicung

Bunga ajang kelicung berwarna putih serta memiliki bau yang harum.[7] Pohon ini biasa berbunga saat bulan April hingga Oktober.[7] Buah ajang kelicung berbentuk agak bulat, berwarna kemerah-merahan dengan ukuran 5-6,5 X 5-7,5 cm.[7] Pohon Ajan kelicung termasuk berumah dua (dioecious) artinya bunga jantan dan betina berada di dua pohon berbeda.

Referensi

  1. 1 2 "Diospyros macrophylla". World Checklist of Selected Plant Families (WCSP). Royal Botanic Gardens, Kew. Diarsipkan dari asli tanggal Mei 6, 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 "Kayu Kelicung Maskot NTB Terancam Punah". Harian Sinar Harapan. 18 Maret 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-08. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
  3. 1 2 3 4 "Kayu Hitam (Diospyros macrophylla)". Inaturalist. 2012. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 "AJAN KELICUNG". Kementrian lingkungan hidup. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-08. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
  5. 1 2 3 4 "Diospyros macrophylla Blume". Asian Plant. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
  6. ↑ "Diospyros macrophylla A.Chev". The Plant List. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
  7. 1 2 3 "Key To The Javanese Woods On The Basis Of Anatomical Features". Hindrik Haijo Janssoniu. Diakses tanggal 9 Mei 2014.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan