Minggu, 01 November 2026
13:13 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Ahmad Shodiq

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks yang sudah ada. (Juni 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini sudah memiliki referensi, tetapi tidak disertai kutipan yang cukup. Anda dapat membantu mengembangkan artikel ini dengan menambahkan lebih banyak kutipan pada teks artikel. (Juni 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)

Ahmad Shodiq atau dikenal dengan sebutan Mbah Kiai Ahmad Shodiq merupakan ulama sederhana dan tidak berafiliasi dengan politik. Ia lahir pada tahun 1917 masehi, dan meninggal pada hari Jumat 18 Januari 1980 masehi di Dusun Pasirraja, Desa Bantarsoka, Kecamatan Purwokerto Barat. Selain sebagai tokoh penyebar syiar agama Islam di Purwokerto, Ahmad Shodiq juga merupakan seorang mursyid tarekat Syadziliyah yang diturunkan dari gurunya, Muhammad Ma’ruf Mangunwiyoto dari Surakarta.[1]

Latar belakang keluarga

Ahmad Shodiq dikenal sebagai tokoh penyebar ajaran Islam di wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Ia merupakan seorang mursyid dalam tarekat Syadziliyah, yang silsilah keilmuannya bersambung kepada gurunya, Muhammad Ma’ruf Mangunwiyoto dari Surakarta. Ayahnya, Mbah Kiai Raji Mustofa, dikenal sebagai sosok yang hidup sederhana dan memiliki komitmen tinggi dalam mempelajari ajaran agama. Ia berpesan kepada Mbah Shodiq agar meneladani pola hidup dan prinsip-prinsip keagamaannya.[1][2]

Ahmad Shodiq menikah dengan Nyai ‘Aisyah, seorang perempuan asal Purwokerto. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai enam orang anak, yakni Kiai Ahmad Sonhaji, Nyai Muntamah, Nyai Minifah, Ning Shodiqoh, Ning Fatimah, dan Ning Sa’adah. Namun, anak-anak Mbah Kiai Shodiq tidak dapat melanjutkan perjuangannya dalam pengembangan Islam. Hal ini disebabkan oleh wafatnya seluruh putri beliau dan satu-satunya putra laki-laki, Kiai Ahmad Sonhaji, yang meninggal dunia saat masih remaja.[3]

Hidup di masa pendudukan jepang

Mbah Kiai Ahmad Shodiq bin Raji Mustofa dikenal sebagai tokoh agama yang disegani pada masa pendudukan Jepang. Ia tercatat pernah menolak perintah untuk menghadap pimpinan Jepang, suatu tindakan yang mencerminkan sikap nasionalisme dan keberaniannya dalam menolak dominasi asing. Selain itu, beliau secara aktif memberikan wejangan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, guna menumbuhkan semangat perlawanan terhadap penjajahan. Peran dan pengaruhnya dalam membangkitkan semangat kebangsaan membuatnya dijuluki sebagai sumber inspirasi atau penguat moral bagi pemuda pada masanya.[1]

Peninggalan

Terdapat peninggalan berupa sebuah musholla bernama Langgar Kidul merupakan tempat ibadah yang ditinggalkan oleh Mbah Kiai Shodiq dan dijadikan sebagai basis dakwah kultural pada masa hidupnya. Musholla ini berperan sebagai pusat penyebaran ajaran Islam yang dilakukan oleh beliau. Saat ini, pengelolaan Musholla Langgar Kidul diteruskan oleh menantunya, Kiai Iskandar.[3]

Referensi

  1. 1 2 3 "Mbah Kiai Ahmad Shodiq: Kiai Sederhana dan Tidak Tergiur Politik". Alif.ID. 2022-05-12. Diakses tanggal 2025-06-15.
  2. ↑ Kurniawan, Redwan (2023). "PERANAN KH MA'RUF MANGUNWIYOTO PADA MASA REVOLUSI FISIK DI SURAKARTA (1945-1949)". DIAKRONIK: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sejarah (dalam bahasa Inggris). 17 (1). ISSN 1693-0207.
  3. 1 2 Wahyudi, M. Agus. Menelusuri Jejak Enam Kiai di Soloraya.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan