Selasa, 27 Oktober 2026
02:05 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Ahmad Rashid Talu

Bagikan:

Ahmad bin Muhammad Rashid Talu (1889-1939) adalah seorang sastrawan Malaysia. Ia merupakan novelis Melayu modern pertama yang banyak mengangkat cerita masyarakat Melayu.

Latar belakang

Ahmad Rashid lahir di Penang, Malaysia pada tahun 1889. Kakeknya Sheikh Abdul Majid bin Abdullah, adalah seorang ulama yang berasal dari Talu, Pasaman Barat, Sumatera Barat. Ia mengenyam pendidikan di sekolah Melayu Chowrasta, di Penang hingga kelas tiga.

Kehidupan

Ahmad Rashid memulai kariernya dengan menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Kawan Benar (1927).[1] Dua tahun kemudian ia menerbitkan Iakah Salmah? yang menjadi salah satu novel populer di Malaysia. Novel ini bertemakan mengenai emansipasi dan kebebasan wanita Melayu. Dalam novel tersebut dikisahkan bahwa Salmah, seorang pelajar lulusan junior Cambridge, tidak pernah mengenakan kerudung dan bebas bergerak seperti halnya wanita Barat.[2] Seperti dalam novel-novelnya yang lain, dalam novel tersebut dia mengajak masyarakat Melayu untuk segera mengejar ketertinggalannya dengan menegakkan kebenaran dan berpikir terbuka.[3]

Selanjutnya novel-novel karya Ahmad Rashid ialah 12 Kali Sengsara (1929), Siapa Jahat? atau Datuk Cencano Perompak yang Termashor (1929), Rahmah Binti Abdullah atau Peti Rahsia (1933) dan Perangkap Hitam atau Kelawar Pulau Pinang (1934). Kemudian ia juga menerbitkan tiga novelet, yaitu Silap atau Ciu yang Taat (1934), Sedih atau Riwayat Sekapur Sireh (1935), dan Dua Kali Selamat atau Selamah yang Beruntung (1935).

Pada tahun 1934, ia sempat menerbitkan majalah Kawan Bercakap. Namun tak lama setelah itu penerbitannya dihentikan karena tak cukup modal.

Referensi

  1. ↑ Maimunah Mohd. Tahir (Ungku.), Modern Malay Literary Culture: A Histororical Perspective, 1987
  2. ↑ Pemikiran Islam di Malaysia: Sejarah dan Aliran, Abdul Rahman Haji Abdullah, Gema Insani Press, 1997
  3. ↑ http://www.utusan.com.my Rashid Talu Ketengahkan Wanita Diarsipkan 2014-08-11 di Wayback Machine
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan