Jumat, 30 Oktober 2026
18:16 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Agus Nur Amal

Pendongeng dan seniman tutur yang berasal dari Aceh

Bagikan:
Agus Nur Amal
Lahir(1969-08-17)17 Agustus 1969
AlmamaterInstitut Kesenian Jakarta
Pekerjaanseniman

Agus Nur Amal adalah seorang pendongeng dan seniman tutur yang berasal dari Aceh.[1] Seni mendongeng yang ditampilkannya terinspirasi dari seni tutur tradisional Aceh yang dibawakan oleh Adnan PMTOH.[2][3] Dalam penampilannya ia berimajinasi dengan barang-barang yang biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Penampilannya tidak hanya di Indonesia tetapi juga sampai ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Eropa dan Amerika Serikat.[4][5][6]

Penampilan

Pada tahun 1990-an yang saat itu masih pada masa Orde Baru, ia cenderung mengambil tema sosial-politik, seperti Jenderal Puyer Bintang Tujuh, yang menyindir korupsi di kalangan perwira tinggi militer, Hikayat Polisi dan Bandit, yang berisi kisah satire perihal batasan moral penegak hukum dan para bandit. Setelah reformasi, ceritanya bergeser ke tema yang jarang diperhatikan orang dan mengajak berpikir alternatif seperti lakonnya yang berjudul Jiwa Laut. Saat konflik Aceh di pengujung 1990-an, ia giat mementaskan karya yang menggugah kesadaran atas hak-hak masyarakat sipil. Pasca tsunami Aceh tahun 2004, ia menampilkan pertunjukan keliling TV Eng Ong ke kamp-kamp pengungsian. Pertunjukan itu berupa set televisi, yang dipakai untuk memancing pemirsa bercerita.[7]

Riwayat Pendidikan

  • D3 Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (1990)
  • S1 Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta (2000)

Jenjang Karier

  • Pertunjukan teater keliling Tv Eng Ong ke kamp pengungsi tsunami Aceh (2006-2007)
  • Solo performance di Japan Foundation, Tokyo, Jepang (Juli 2007)
  • Pameran Tunggal Jendela PM Toh, RURU Gallery, Jakarta (Februari 2009)
  • Pertunjukan TV Eng Ong di Goethe Institute, Boston, Amerika Serikat (Mei 2010)
  • Pertunjukan bersama Komunitas Geunta Aceh di Shanghai Expo, Tiongkok (Juli 2010)
  • Jakarta-Belin Arts Festival, Berlin, Jerman (Juni 2011)
  • Pembicara dalam konferensi Object Theater Network di Nottingham, Inggris (Desember 2011)
  • Pameran Tunggal Hidangan dari Langit, RURU Gallery, Jakarta (Mei 2015)
  • Jiwa:Jakarta Biennale 2017 (November 2017)[8]

Referensi

  1. ↑ https://ikj.ac.id/agus-nur-amal-pmtoh/. Diakses tanggal 2026-05-30.{{cite web}}: |title= tidak ada atau kosong
  2. ↑ HUTOMO, HENDHY. "Sesi Mendongeng bersama PM Toh: Jalan Lurus, Jalan Terus". Museum MACAN. Diakses tanggal 2026-05-30.
  3. ↑ foxdev (2024-10-08). "Agus Nur Amal PM Toh: Healing through Storytelling". The ASEAN Magazine (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-05-30.
  4. ↑ Maskur, Fatkhul (2014-04-20). Marlina, Inda (ed.). "Agus Nur Amal (PT Toh): Dari Gudang Hingga Pinjam". Bisnis.com. Diakses tanggal 2020-09-18.
  5. ↑ Eda, Fikar W. "Seniman Tutur Kontemporer Aceh Agus PMTOH Tampil dalam Repertoar 'Jiwa Laut' di TIM Jakarta". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2021-02-27.
  6. ↑ https://repositori.kemendikdasmen.go.id/14688/1/Ensiklopedi%20tokoh%20kebudayaan%20V.pdf.{{cite journal}}: |title= tidak ada atau kosong; Kutipan journal memerlukan |journal=
  7. ↑ KBA.ONE. "Agus PMTOH Beraksi: Hidupkan Benda Mati di ICAD". KBA.ONE. Diakses tanggal 2021-02-27.
  8. ↑ Fikrie, Muammar. "Agus PM Toh, pendongeng seribu pentas". Lokadata.ID. Diakses tanggal 2021-02-27.[pranala nonaktif permanen]


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan