Sabtu, 10 Oktober 2026
16:24 WIB
TERKINI
Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober
Agama Serer

Agama Serer

Bagikan:
250px-Yooniir_%28Serer_cosmological_star%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Yoonir, lambang alam semesta dalam kepercayaan Serer.

Agama Serer atau A ƭat Roog ("jalan ilahi") adalah kepercayaan tradisional yang dianut oleh suku Serer di Senegal, Afrika Barat. Suku Serer percaya akan pencipta yang disebut Roog (atau Rog). Dalam bahasa-bahasa Cangin, Roog disebut Koox (variasi: Kooh[1]), Kopé Tiatie Cac, atau Kokh Kox.[2] Kepercayaan tradisional Serer juga mencakup berbagai puisi dan nyanyian tradisional, pemujaan dan pemberian persembahan kepada para dewa dan roh (pangool), astronomi, ritus inisiasi, kedokteran, kosmologi dan sejarah suku Serer. Namun, mereka percaya bahwa Roog ada di mana-mana dan juga tidak ada di mana-mana pada saat yang sama. Maka dari itu tidak ada bangunan yang menjadi rumah Roog. Suku Serer berdoa kepada Roog melalui perantara, tetapi tidak memberikan kurban secara langsung kepada Roog.[3][4][5]

Saat ini agama Serer merupakan agama minoritas di antara orang-orang Serer. Sebagian besar di antara mereka (sekitar 85%) sudah masuk Islam[6] atau Katolik. Agama dan etnis Serer sendiri pernah ditindas semenjak abad ke-11, ketika King War Jabi merebut tahta Tekrur pada tahun 1030, dan kemudian pada tahun 1035 memberlakukan hukum syariah dan memaksa bawahannya untuk masuk Islam.[7] Dengan bantuan dari anaknya (Leb) dan juga dari Murabithun dan suku-suku Afrika lain yang sudah masuk Islam, mereka melancarkan jihad melawan suku Serer di Tekrur yang menolak meninggalkan agama Serer dan masuk Islam.[8][9][10][11] Penindasan berlanjut hingga abad ke-19 dan memicu Pertempuran Fandane-Thiouthioune. Pada abad ke-20 dan ke-21, penindasan agama Serer sudah berkurang, tetapi agama ini tetap dipandang sebelah mata.[12][13]

Catatan kaki

  1. ↑ (Prancis) Dupire, Marguerite, "Sagesse sereer: Essais sur la pensée sereer ndut", KARTHALA Editions (1994), hlm. 54, ISBN2865374874
  2. ↑ (Prancis) Ndiaye, Ousmane Sémou, "Diversité et unicité sérères: l’exemple de la région de Thiès", Éthiopiques, no 54, vol. 7, 2e semestre 1991 Diarsipkan 2020-08-01 di Wayback Machine
  3. ↑ (Prancis) Issa Laye Thiaw, « Mythe de la création du monde selon les sages Seereer », hlm. 45
  4. ↑ (Prancis) Salif Dione, L’Éducation traditionnelle à travers les chants et les poèmes sérères, Dakar, Université de Dakar, 1983, hlm. 344.
  5. ↑ (Prancis) Gravrand, Henry, La civilisation sereer, vol. II: Pangool, Nouvelles éditions africaines, Dakar, 1990
  6. ↑ Olson, James Stuart (1996). The Peoples of Africa: An Ethnohistorical Dictionary. Greenwood. hlm. 516. ISBN 978-0313279188.
  7. ↑ Clark, Andrew F., & Phillips, Lucie Colvin, "Historical Dictionary of Senegal". ed: 2, Metuchen, New Jersey: Scrarecrow Press (1994) hlm. 265
  8. ↑ Page, Willie F., "Encyclopedia of African history and culture: African kingdoms (500 to 1500)", pp 209, 676. Vol.2, Facts on File (2001), ISBN0-8160-4472-4
  9. ↑ Streissguth, Thomas, "Senegal in Pictures, Visual Geography", Second Series, p 23, Twenty-First Century Books (2009), ISBN1-57505-951-7
  10. ↑ Oliver, Roland Anthony, Fage, J. D., "Journal of African history", Volume 10, p 367. Cambridge University Press (1969)
  11. ↑ Mwakikagile, Godfrey, "Ethnic Diversity and Integration in The Gambia: The Land, The People and The Culture," (2010), hlm. 11, ISBN9987-9322-2-3
  12. ↑ Abbey, M T Rosalie Akouele, "Customary Law and Slavery in West Africa", Trafford Publishing (2011), hlm. 481-482, ISBN1-4269-7117-6
  13. ↑ Mwakikagile, Godfrey, "Ethnic Diversity and Integration in The Gambia: The Land, The People and The Culture," (2010), hlm. 241, ISBN9987-9322-2-3
Ikon rintisan

Artikel bertopik agama atau kepercayaan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan