Kamis, 05 November 2026
00:21 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Aliyuddin II dari Banten

Bagikan:
Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin II
[[Sultan Banten]]16
Masa jabatan
1803–1808
PendahuluSultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin
PenggantiSultan Maulana Muhammad Shafiuddin
Informasi pribadi
Lahir
Meninggal
HubunganSultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin I (Ayah)
Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin (Kakak)
Pangeran Ahmad (Adik)
Pangeran Dharma (Adik)
Pangeran Muhammad Abbas (Adik)
Pangeran Musa (Adik)[1]

Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin II yang bernama asli Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aqiluddin merupakan seorang sultan pada Kesultanan Banten yang berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1803 - 1808[2] yang setelah sebelumnya administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh seorang Caretaker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya pada rentang waktu 1802 - 1803.[3] Sultan Aliuddin II merupakan putera dari Sultan Aluiddin I (Sultan Banten ke-13) dan adik kandung dari Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin (Sultan Banten ke-15).[4]

Biografi

Pada tahun 1803, Kesultanan Banten kembali dipegang oleh pewaris resmi takhta kesultanan, Putra Sultan Penuh Banten ke-13, keponakan Sultan Penuh Banten ke-14, adik Sultan Penuh Banten ke-15; yakni Sultan Abul Mufakhir Muhammad Aqiluddin / Aliyuddin II yang memimpin dari tahun 1803 – 1808.

Mulai tahun 1807, Belanda dikuasai oleh Prancis. Louis Bonaparte (adik Kaisar Napoleon Bonaparte, Prancis) diberi kekuasaan atas Belanda dan mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur di Kepulauan Nusantara atau Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Daendels datang ke Batavia tahun 1808 dengan tugas utama mempertahankan pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India, untuk tugas tersebut Daendels berencana membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon dengan mempekerjakan masyarakat Banten dengan sistem Kerja Paksa atau Rodi.[5]

Diasingkan ke Ambon

Sultan Aliuddin II sempat menentang tuntutan Belanda atas sistem kerja paksa. Lantas Daendels mengutus Komandeur Philip Pieter Du Puy dan pasukannya ke Istana Surasowan untuk mendorong Sultan menyetujui tuntutan Belanda, hal ini mendorong kemarahan rakyat Banten sehingga Du Puy dibunuh di depan pintu gerbang Surasowan.

Daendels membalas menyerang Surasowan pada hari itu juga yakni tanggal 22 Nopember 1808 dengan serangan kejutan yang berhasil merebut Surasowan. Sultan kemudian dibuang ke Ambon, Patih Mangkubumi dihukum pancung dan jasadnya dibuang ke laut.[6]

Referensi

  1. ↑ "Sultan Aliuddin II". www.geni.com.
  2. ↑ "Silsilah Sultan Banten dan Keturunannya". ranji.sarkub.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-02-02. Diakses tanggal 2017-02-07.{{cite web}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan)
  3. ↑ "Sejarah Kesultanan Banten". sejarahsejarah.wordpress.com.
  4. ↑ "Profil Sultan Aliuddin II". id.rodovid.org.
  5. ↑ "Sejarah Kesultanan Banten". kesultananbanten.weebly.com.
  6. ↑ "Sejarah Kesultanan Banten". www.kesultananbanten.id.

Pranala luar

  • Sejarah Kesultanan Banten di Sini
  • Sejarah Kesultanan Banten dari Masa ke Masa di Sini
Didahului oleh:
Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin
Sultan Banten
1803 - 1808
Diteruskan oleh:
Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin
Banten sebagai Negara Berdaulat
Sultan Wakil
Pewaris Kesultanan Banten
Di bawah pemerintah Provinsi Banten


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan