Rabu, 28 Oktober 2026
20:24 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Abu Syamah

Bagikan:

Abu Syamah (meninggal 665 H) adalah seorang sejarawan, ahli hadis sekaligus ulama dari Mazhab Syafi'i pada abad ke-7 Hijriah. Ia merupakan salah seorang perintis ilmu mengenai gaya bahasa kiasan di dalam Al-Qur'an dan ilmu mengenai qiraat dengan kitabnya yang berjudul AI-Mursyidul Wajiz fi ma Yata’allaqu bil Al-Qur'anil ‘Aziz. Abu Syamah memiliki beberapa pendapat penting mengenai tahapan pewahyuan Al-Qur'an dan jumlah salinan mushaf Utsmani yang dibuat pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Pendapat penting lainnya dari Abu Syamah yaitu mengenai larangan mengamalkan hadis daif secara mutlak, kemungkaran salat nisfu Sya’ban, dan kebolehan maulid nabi.

Abu Syamah juga memiliki kesaksian penting mengenai kondisi penduduk Mesir akbat bencana kelaparan pada tahun 597–598 H atau 1201 M. Selain itu, Abu Syamah memberikan kesaksian penting dalam ajaran Islam mengenai kemunculan api teramat terang di Madinah selama sebulan sejak tanggal 5 Jumadil Akhir 645 H hingga 5 Rajab 645 H. Kesaksian ini ditulis oleh Abu Syamah menjadi kitab berjudul Adz-Dzail wa Syarhuhu. Kesaksian ini berkaitan dengan keyakinan tentang pemenuhan nubuat mengenai salah satu tanda akan terjadinya kiamat menurut hadis. Kesaksian penting lainnya yang dikemukakan oleh Abu Syamah yaitu kesaksian mengenai ketaatan Salahuddin Al-Ayyubi kepada pemimpinnya yaitu Nuruddin Zanki. Abu Syamah menyatakan kesaksiannya atas Salahuddin Al-Ayyubi untuk menentang berbagai tuduhan Ibnu Atsir mengenai ketidaktaatan Salahuddin Al-Ayyubi kepada Nuruddin Zanki. Abu Syamah juga menulis kitab berisi biografi dari Nuruddin Zanki dan Salahuddin Al-Ayyubi yang berjudul Ar-Raudhataini fi Akhbari Ad-Daulataini.

Kehidupan pribadi dan keilmuan

Nama asli Abu Syamah adalah Abdurrahman bin Ismail.[1] Abu Syamah berasal dari Syria.[2] Ia berguru ilmu fikih kepada Izzuddin bin Abdussalam yang mengikuti Mazhab Syafi'i karena pengaruh keilmuan fikih dari Ibnu Asakir.[3] Keilmuan utama yang dipelajari oleh Abu Syamah adalah ilmu Al-Qur'an.[4]

Abu Syamah merupakan seorang ulama yang berpengaruh dalam perkembangan Mazhab Syafi'i.[5] Ia merupakan seorang muslim yang menjadi cendekiawan, sejarawan sekaligus ahli hadis.[6][2][7] Abu Syamah menjadi salah seorang ulama yang merintis ilmu mengenai gaya bahasa kiasan di dalam Al-Qur'an dan ilmu mengenai qiraat pada abad ke-7 Hijriah.[8] Selain itu, ia menjadi salah satu guru bagi An-Nawawi yang juga mengikuti Mazhab Syafi'i.[9] Abu Syamah merupakan guru utama bagi An-Nawawi dalam belajar tentang ilmu hadis.[10]

Karya tulis penting

Kitab AI-Mursyidul Wajiz fi ma Yata’allaqu bil Al-Qur'anil ‘Aziz

Kitab AI-Mursyidul Wajiz fi ma Yata’allaqu bil Al-Qur'anil ‘Aziz ditulis oleh Abu Syamah untuk membahas tentang ilmu mengenai gaya bahasa kiasan di dalam Al-Qur'an dan ilmu mengenai qiraat.[8] Penulisan kitab AI-Mursyidul Wajiz fi ma Yata’allaqu bil Al-Qur'anil ‘Aziz menjadikan Abu Syamah sebagai salah satu ulama pada abad ke-7 Hijriah yang mengawali penulisan mengenai gaya bahasa kiasan di dalam Al-Qur'an dan ilmu mengenai qiraat. Para ulama mulai merintis ilmu mengenai gaya bahasa kiasan di dalam Al-Qur'an dan ilmu mengenai qiraat pada abad ke-7 Hijriah.[11]

Kitab Adz-Dzail wa Syarhuhu

Kitab Adz-Dzail wa Syarhuhu ditulis oleh Abu Syamah untuk menceritakan secara lengkap mengenai peristiwa kemunculan api di tanah Hijaz pada tahun 654 H. Kemunculan api di Hijaz merupakan salah satu tanda akan terjadinya kiamat dalam ajaran Islam sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Peristiwa munculnya api di Hijaz terjadi di wilayah Madinah sejak tanggal 5 Jumadil Akhir 654 H dan berakhir pada tanggal 5 Rajab 655 H. Penduduk Madinah kemudian mengirimkan surat ke Damaskus mengenai peristiwa ini dan Abu Syamah membaca surat-surat kesaksian terebut pada tanggal 10 Sya’ban. Setelah mengumpulkan kitab-kitab yang menyatakan kesaksian langsung atas peristiwa kemunculan api di Hijaz dengan saksi mata dalam jumlah yang banyak, vAbu Syamah memulai penulisan kitab Adz-Dzail wa Syarhuhu.[12]

Kitab Ar-Raudhataini fi Akhbari Ad-Daulataini

Kitab Ar-Raudhataini fi Akhbari Ad-Daulataini ditulis oleh Abu Syamah sebagai kitab berisi biografi. Tokoh yang dituliskan biografinya dalam kitab Ar-Raudhataini fi Akhbari Ad-Daulataini yaitu Nuruddin Zanki dan Salahuddin Al-Ayyubi.[13]

Pendapat penting

Tahapan pewahyuan Al-Qur'an

Di dalam kitab AI-Mursyidul Wajiz fi ma Yata’allaqu bil Al-Qur'anil ‘Aziz, Abu Syamah menyatakan pendapatnya mengenai kedua tahapan pewahyuan Al-Qur'an. Tahapan yang pertama yaitu tahapan pewahyuan Al-Qur'an secara sekaligus dan tahapan yang kedua yaitu tahapan pewahyuan Al-Qur'an secara berangsur-angsur. Tahapan pewahyuan Al-Qur'an secara sekaligus dilakukan oleh Allah dengan menurunkannya ke langit dunia untuk diumumkan penurunannya kepada para malaikat. Sedangkan tahapan yang kedua yaitu diturunkan melalui wahyu kepada Muhammad sebagai nabi dalam Islam. Menurut Abu Syamah, kedua jenis tahapan pewahyuan Al-Qur'an merupakan bentuk kemuliaan bagi Muhammad sebagai penerima kitab terakhir yang diturunkan oleh Allah kepada nabi dan rasul-Nya yang juga terakhir.[14]

Penyebab perbedaan qiraat

Abu Syamah merupakan salah seorang ulama yang menyatakan bahwa penyebab perbedaan qiraat dalam bacaan Al-Qur'an disebabkan oleh perbedaan bahasa dan dialek yang dituturkan oleh bangsa Arab pada masa hidup Muhammad. Pendapat Abu Syamah didasari oleh hadis yang diriwayatkan oleh Al-Dahhak dari Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Allah menurunkan Al-Qur'an sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh suku-suku dari kalangan bangsa Arab.[6] Oleh karena itu, Abu Syamah berpendapat bahwa Al-Qur'an dapat dibaca menggunakan dialek bahasa Arab selain dialek Quraisy yang merupakan dialek utamanya.[15] Kebolehan membaca Al-Qur'an menggunakan dialek lain dalam bahasa Arab merupakan bentuk kemudahan dalam pembacaan Al-Qur'an. Selain itu, Abu Syamah berpendapat bahwa seseorang tidak boleh dipaksa untuk membaca Al-Qur'an dengan dialek bahasa Arab yang tidak dikuasainya.[6]

Jumlah salinan mushaf Utsmani

Abu Syamah merupakan salah satu ulama yang memberikan pendapatnya mengenai jumlah salinan mushaf Utsmani yang dibuat oleh Khalifah Utsman bin Affan. Dalam pendapatnya, Abu Syamah menyatakan bahwa jumlah salinan mushaf Utsmani yang dibuat oleh Khalifah Utsman bin Affan sebanyak 7 salinan. Satu salinan disimpan oleh Utsman bin Affan sebagai dokumen pribadi bagi khalifah. Sedangkan enam salinan lainnya dikirimkan ke Makkah, Basrah, Kufah, Syam, Yaman dan Bahrain. Masing-masing salinan dikirim untuk diajarkan cara membacanya kepada penduduk di masing-masing negeri. Khalifah Utsman bin Affan mengirimkan pula sedikitnya satu orang pengajar bersama dengan setiap salinan mushaf Utsmani agar penduduk dapat mudah membaca dan menghapal isinya.[16]

Larangan mengamalkan hadis daif secara mutlak

Abu Syamah merupakan salah satu ulama dari kalangan ahli hadis yang berpendapat bahwa hadis daif dilarang untuk diamalkan. Larangan pengamalan hadis daif dalam pendapat Abu Syamah berlaku secara mutlak untuk masalah akidah, hukum-hukum syariat, pemberian kabar gembira dan acaman, maupun dalam menyampaikan keutamaan amal.[17] Pelarangan mutlak terhadap pengamalan hadis daif merupakan pendapat yang dipilih oleh sebagian besar ulama dari kalangan ahli hadis.[7] Abu Syamah dan sebagian besar ulama dari kalangan ahli hadis yang melarang pengamalan hadis daif menganggap bahwa hadis-hadis dengan status hadis sahih dan hadis hasan sudah mencukupi untuk diamalkan oleh umat Islam.[18]

Kemungkaran salat nisfu Sya’ban

Salat nisfu Sya’ban merupakan salah satu salat yang dilaksanakan oleh sebagian penduduk di lingkungan hidup Abu Syamah semasa hidupnya. Pengerjaan salat nisfu Sya’ban dilakukan pada rumah maupun masjid dengan menerangi bangunan menggunakan lampu. Abu Syamah menyatakan bahwa salat nisfu Sya’ban merupakan salah satu jenis bid’ah yang mungkar. Kemungkaran pengamalan Salat nisfu Sya’ban menurut Abu Syamah karena hadis-hadis yang menjadi dalil mengenai pelaksanaannya hanya berstatus sebagai hadis daif, hadis palsu atau hadis mungkar.[9]

Kebolehan maulid nabi

Abu Syamah merupakan salah seorang tokoh yang memiliki teori mengenai orang yang pertama kali menetapkan tradisi maulid nabi. Di dalam kitab tulisannya yang berjudul Al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits, Abu Syamah menyatakan bahwa tradisi maulid nabi pertama kali dimulai oleh Umar al-Mulla. Ia adalah seorang lelaki yang saleh dan disenangi oleh Nuruddin Mahmud Zanki yang dikenal sebagai raja yang saleh dan adil dalam memerintah. Nuruddin Mahmud Zanki bertemu dan berkawan dengan Umar al-Mulla antara 511 H hingga 516 H.[19]

Abu Syamah menyatakan kebolehan perayaan maulid nabi di dalam kitab Al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits.[20] Ia menyatakan di dalam kitabnya ini bahwa maulid nabi Muhammad yang diadakan oleh penduduk di Kota Arbil merupakan sebuah bid’ah yang paling bagus pada masa hidupnya. Kebagusan maulid nabi Muhammad pada penduduk Kota Ibril dijelaskan oleh Abu Syamah karena kegiatannya berupa sedekah, melakukan perbuatan baik kepada kalangan fakir dan miskin, menampakkan perhiasan sekaligus menghadirkan suasana suka cita. Abu Syamah menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah atas diutusnya Muhammad sebagai rasul yang menjadi rahmat bagi alam semesta.[21]

Kesaksian penting

Bencana kelaparan di Mesir

Abu Syamah menyatakan kesaksiannya atas bencana kelaparan yang melanda penduduk Mesir pada tahun 597–598 H atau 1201 M di dalam kitab tulisannya yang berjudul Tarajim Rijal al-Qarnayn al-Sadis wa al-Sabi’. Dalam kitabnya, Abu Syamah menyatakan bahwa bencana kelaparan yang melanda Mesir telah membuat sebagian penduduknya melakukan kanibalisme. Tindakan kanibalisme dilakukan dengan mengundang kawan untuk makan malam atau mengundang tabib untuk mengobati ke suatu rumah dan kemudian dibunuh untuk dimakan. Kanibalisme terjadi karena sebagian besar penduduk Mesir mengalami busung lapar dan sebagian lainnya berpindah ke Maghrib, Syria, Hijaz dan Yaman.[2]

Kemunculan api teramat terang di Madinah

Abu Syamah memiliki sebuah penuturan yang menjadi salah satu kesaksian terhadap pemenuhan nubuat mengenai salah satu tanda akan terjadinya kiamat dalam ajaran Islam menurut Muhammad sebagai nabi dalam Islam. Tanda akan terjadinya kiamat oleh Abu Syamah menurut penuturannya sesuai dengan salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim yaitu kemunculan api di kawasan Hijaz yang menerang leher-leher unta di Bushra. Abu Syamah dalam penuturan kesaksiannya menyebutkan mengenai kemunculan api pada beberapa lembah di Madinah dengan ukuran panjang 4 farsakh dan lebar 4 mil. Kemunculan api menurut penuturan Abu Syamah terjadi pada tanggal 5 Jumadil Akhir 645 H dan disaksikan oleh para penduduk Madinah. Selama sebulan, cahaya yang dihasilkan oleh api di Madinah menerangi penduduk Madinah yang bepergian ke Taima pada malam hari.[22]

Kesaksian mengenai Salahuddin Al-Ayyubi

Abu Syamah merupakan salah satu tokoh yang mmeberikan kesaksian mengenai ketaatan Salahuddin Al-Ayyubi kepada pemimpinnya yaitu Nuruddin Zanki. Kesaksian Abu Syamah disampaikannya untuk menentang berbagai tuduhan ketidaktaatan Salahuddin Al-Ayyubi kepada Nuruddin Zanki yang dinyatakan oleh Ibnu Atsir. Abu Syamah menyatakan bahwa Salahuddin Al-Ayyubi tidak pernah mengkritik kepemimpinan Nuruddin Zanki kecuali mengenai anggaran negara. Kritik Salahuddin Al-Ayyubi menurut Abu Syamah hanya berkaitan dengan pemborosan anggaran negara oleh Nuruddin Zanki yang dilakukannya tanpa ajakan musyawarah terlebih dahulu dengan dirinya. Pemborosan anggaran negara yang dikritik oleh Salahuddin Al-Ayyubi diberikan bukti oleh Abu Syamah dengan keberadaan akta berisi wakaf yang ditulis tangan oleh Nuruddin Zanki dan mengatasnamakan dirinya sendiri.[23]

Kematian

Abu Syamah meninggal pada tahun 665 H.[24]

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim (November 2005). Manajemen Qalbu: Melumpuhkan Senjata Syetan [Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan] (PDF). Diterjemahkan oleh Thayib, Ainul Haris Umar Arifin. Jakarta: Darul Falah. hlm. 237. ISBN 979-3036-19-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 Usman, Ali (Agustus 2022). Tasawuf Falsafi (PDF). Yogyakarata: SUKA-Press. hlm. 154. ISBN 978-623-7816-67-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Zulkayandri (November 2022). Metode Ijtihad Al-Ihsani (PDF). Sleman: Kalimedia. hlm. 14. ISBN 978-623-7885-37-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Zuhdi, A., dkk. (September 2021). Siregar, W. Z. B., dkk. (ed.). Studi Al-Quran (PDF). Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. hlm. 16–17. ISBN 978-602-9239-17-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Basyir, Abu Umar (2007). Imam Syafi'i Menggugat Syafi'iyyah. Diterbitkan oleh Rumah Dzikir. hlm. 106.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. 1 2 3 Jamal, K., dan Putra, A. (November 2020). Hermanto, Edi (ed.). Pengantar Ilmu Qiraat (PDF). Sleman: Kalimedia. hlm. 49. ISBN 978-623-7885-09-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. 1 2 Darussamin, Zikri (November 2020). Zulkifli (ed.). Ilmu Hadis I (PDF). Sleman: Kalimedia. hlm. 185. ISBN 978-623-7885-03-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. 1 2 Tolchah, Moch. (Februari 2016). Wahyudi, Chafid (ed.). Aneka Pengkajian Studi Al-Qur'an (PDF). Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara. hlm. 170. ISBN 978-602-74505-2-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. 1 2 Suaidi, R., dkk. (Agustus 2024). Antoni dan Yahya (ed.). Fiqih Ibadah (PDF). Palembang: CV Insan Cendekia. hlm. 117. ISBN 978-602-501-707-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ↑ Asnawati (Desember 2023). Emawati (ed.). Keajaiban Membaca dan Pemanfaatan Perpustakaan: Terungkapnya Sejarah Peradaban Kegemilangan Islam Masa Lalu Melalui Perpustakaan Dan Minat Baca (PDF). Mataram: UIN Mataram Press. hlm. 57. ISBN 978-623-8497-23-2.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ↑ Nahar, Syamsu (April 2015). Studi Ulumul Quran (PDF). Medan: Perdana Publishing. hlm. 11. ISBN 978-602-8935-96-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  12. ↑ Al-Asygar, Umar Sulaiman (Mei 2002). Subagyo, Hilman (ed.). Ensiklopedia Kiamat [Al-Yaum al-Akhir: Al-Qiyamah ash-Shughra wa Alamat al-Qiyamah al-Kubra]. Diterjemahkan oleh Salim, I., dkk. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. hlm. 135–136. ISBN 978-979-160-009-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penerjemah (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ↑ Mursi, Muhammad Sa'id (Oktober 2020). Ihsan, Muhammad (ed.). Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah [Uzhamma'u Al-Islam 'Abra Arba'ah 'Asyra Qarnan Min Az-Zaman]. Diterjemahkan oleh Harahap, K. A., dan Faozan, A. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm. 233.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penerjemah (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ↑ Sardana (Juli 2023). Arief, S., dan Suwandi (ed.). Pondasi Dasar Memahami Ulumul Quran (PDF). Jakarta Selatan: Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Universitas PTIQ Jakarta. hlm. 38–39.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penyunting (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ↑ Al-Abyasi, Ibrahim (1996). Murad, A. (ed.). Sejarah Alquran: Tarikh Al-Quran [Tarikh Al-Quran] (PDF). Diterjemahkan oleh Harun, Ramli. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. hlm. 86. ISBN 979-459-652-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. ↑ Naqiyah (2023). Ulumul Quran (PDF). Diterbitkan oleh STAIN Press. hlm. 33–34.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |lay-url= diabaikanPemeliharaan CS1: Status URL (link)
  17. ↑ Shafwan, Muhammad Hambal (Juli 2023). Salamah, Umi (ed.). Studi Ilmu Hadits: Panduan Lengkap Memahami Ilmu Hadits Dirayah dan Riwayah, serta Dilengkapi Studi Sembilan Kitab Induk Hadits (PDF). Malang: CV. Pustaka Learning Center. hlm. 209. ISBN 978-623-94128-4-5.{{cite book}}: line feed karakter dalam |title= pada posisi 68Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  18. ↑ Nadhiran, H., dan Hayati, S. (November 2021). Kontribusi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Pengembangan Moderasi Pemahaman Hadis di Indonesia (PDF). Palembang: UIN Raden Fatah Press. hlm. 117–118. ISBN 978-623-250-308-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ Ansory 2018, hlm. 50-51.
  20. ↑ Ansory 2018, hlm. 19.
  21. ↑ Asy'ari, Muhammad Hasyim (September 2013). Koreksi Peringatan Maulid Nabi SAW [Tanbihat al-Wajibat li Man Yashna' al-Maulid bi al-Munkarat] (PDF). Diterjemahkan oleh Rosidin. Malang: Bayumedia Publishing. hlm. 4–5. ISBN 978-602-284-022-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ Katsir, Ibnu (2016). Hikmatiar, Ikhlas (ed.). Dahsyatnya Hari Kiamat: Rujukan Lengkap Hari Kiamat dan Tanda-Tandanya Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah [An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim]. Diterjemahkan oleh Nurdin, Ali. Jakarta: Qisthi Press. hlm. 14. ISBN 978-979-1303-85-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  23. ↑ Ash-Shallabi, Ali Muhammad (Februari 2013). Aisyah, Abu (ed.). Shalahuddin Al-Ayyubi: Pahlawan Islam Pembebas Baitul Maqdis [Shalahuddin Al-Ayyubi wa Juhuduhu fi Qadha ala Ad-Daulah Al-Fathimiyah wa Tahriri Baitil Maqdis]. Diterjemahkan oleh Taman, M., dan Tarmudzi, A. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm. 284. ISBN 978-979-592-613-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penerjemah (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  24. ↑ Zulyadain (Desember 2015). Hidayat, Dahlia (ed.). Ulumul Quran (PDF). Mataram: CV. Sanabi. hlm. 16. ISBN 978-602-6223-04-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan