Sabtu, 31 Oktober 2026
02:49 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Abdul Hamid Mahmud Talu

Bagikan:

Abdul Hamid bin Mahmud Talu atau Abdul Hamid Asahan (1880–1946) adalah ulama yang berdakwah di Kesultanan Asahan. Ia merupakan putra dari Mahmud Talu asal Talu, Pasaman. Ia belajar agama ke Mekkah kepada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seangkatan dengan Abdul Karim Amrullah.[1]

Sepulang dari Mekkah sekitar tahun 1916, Abdul Hamid mendirikan Madrasah Ulumul Arabiyyah (semula bernama Madrasah Arabiyah). Madrasah ini berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang penting di Asahan, bahkan termasuk di antara madrasah yang terkenal di Sumatera Utara. Di antara ulama terkenal lulusan madrasah ini adalah Syekh Muhammad Arsyad Thalib Lubis (1908–1972).[2][3]

Sekitar tahun 1930, Abdul Hamid bertolak lagi ke Mekkah, kali ini sebagai utusan Kesultanan Asahan. Ia mendapat kehormatan sebagai anggota pemeriksa Ma'ahad Su'udiyah, sebuah sekolah tinggi saat itu.[4]

Pendidikan

Abdul Hamid belajar agama kepada saudara iparnya, Haji Zainuddin, khadi Asahan. Sesudah itu, ia memperdalam berbagai ilmu kepada Syekh Hasyim Tua dan Syekh Muhammad Isa. Nama terakhir merupakan mufti Kerajaan Asahan di Tanjungbalai, Asahan.[4]

Di Mekkah, Abdul Hamid mula-mula belajar di halaqah Syekh Ahmad al-Fathani, tetapi hanya sekitar dua tahun saja karena sang guru meninggal dunia. Ia melanjutkan belajar kepada ulama Nusantara yang mengajar di Mekkah, termasuk Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Muhammad bin Ismail, Nik Mat Kecik, Wan Ali Kutan al-Kalantani, Daud bin Mustafa Al-Fathani, dan Cik Wan Daud al-Fathani.[4]

Terakhir, Abdul Hamid belajar kepada Abdullah az-Zawawi, mufti mazhab Syafi'i di Mekkah. Namun, seiring pecahnya Perang Dunia I, Abdul Hamid terpaksa pulang ke tanah kelahirannya, Tanjungbalai.[4]

Warisan

Sebagai seorang ulama, Syekh Abdul Hamid meninggalkan beberapa kitab karangan, baik berbahasa Arab maupun Melayu. Ia juga pernah menerbitkan majalah berbahasa Arab dan Melayu bernama 'Ulumil Islamiyah. Majalah ini tidak berumur panjang, hanya dua kali terbitan dalam tahun 1939.[4]

Syekh Abdul Hamid meninggal dalam peristiwa Revolusi Sosial Sumatera Timur pada 1946. Ia dimakamkan di kuburan massal dekat Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, Tanjungbalai.

Dalam perkembangannya, murid-murid Syekh Abdul Hamid kelak mendirikan Jam'iyatul Washliyah, organisasi keagamaan yang berbasis pada aliran Sunni dan mazhab Syafi'i. Dalam banyak hal, organisasi ini memiliki persamaan dengan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang didirikan oleh para ulama Minangkabau.[4]

Referensi

Catatan Kaki

  1. ↑ Shobahussurur (2008). Mengenang 100 tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Hamka. Yayasan Pesantren Islam al-Azhar. ISBN 978-979-17785-0-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Siahaan, E. K. (1984). K.H. Zainul Arifin. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
  3. ↑ Tanjung, Yushar (2020-03-07). "Jejak Islam di Tanjungbalai". MUKADIMAH: Jurnal Pendidikan, Sejarah, dan Ilmu-ilmu Sosial (dalam bahasa Inggris). 4 (1): 74–83. doi:10.30743/mkd.v4i1.3716. ISSN 2622-1373.
  4. 1 2 3 4 5 6 Mohammad Arsjad. Thabal Mahkota Asahan. 1933
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan