Selasa, 27 Oktober 2026
17:57 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Zuster Theresia

Zuster Theresia

Film 1932 Disutradarai oleh *M. H. Schilling *Wong Brother

Bagikan:
Zuster Theresia
250px-Zuster_Theresia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Poster teater
Sutradara
Pemeran
  • M. H. Schilling
  • Daisy Diephuis
  • Henk Maschhaup
  • Alle Heymann
Perusahaan
produksi
Halimoen Film
Tanggal rilis
  • 1932 (1932)(Hindia Belanda)
NegaraHindia Belanda

Zuster Theresia adalah film Hindia Belanda (sekarang Indonesia) tahun 1932 yang disutradarai M. H. Schilling dengan bantuan Wong Bersaudara. Film yang dibintangi Henk Maschhaup, Daisy Diephuis, dan Alle Heymann ini mengisahkan seorang pemuda dan hubungannya dengan dua wanita. Film ini gagal di pasaran dan menjadi film terakhir yang dibuat Schilling. Kegagalan tersebut juga mengakibatkan Wong Bersaudara berhenti membuat film selama dua tahun.

Alur

Bob (Hugo de Rode) meninggal tidak lama setelah selesai menuntut ilmu di Belanda. Teman sekelasnya, Henk (Henk Maschhaup) pergi ke Hindia Belanda, tempat ayah Bob, Gelder (M. H. Schilling), mendirikan kebun anggrek kecil di luar Bandung. Henk mulai membantu keuangan keluarga Bob dan menikahi adik Bob, Daisy (Daisy Diephuis). Sayangnya, Daisy gemar berpesta dan berdansa sampai-sampai anak mereka, Baby (Carl Schilling), ditinggal sendirian.

Henk memanggil sepupunya, Flora (Alle Heymann), untuk membantu mengurus Baby dan mulai jatuh cinta dengannya. Ketika Baby sakit, Flora merawatnya. Kedekatan mereka membuat Daisy cemburu. Ia kabur ke Pelabuhan Ratu dan berusaha bunuh diri dengan menceburkan diri ke laut, tetapi gagal. Flora dan Henk menikah. Namun, setelah Daisy pulang, Flora dipaksa membatalkan pernikahanya dan meninggalkan rumah mereka. Flora bergabung dengan kelompok biarawati dan menjadi Suster Theresia.

Produksi

Zuster Theresia disutradarai M. H. Schilling yang dikenal karena film-film komedinya. Schilling menyiapkan skenario dan produksi film[1] sambil menyesuaikan alurnya dengan kehidupan sehari-hari di Hindia Belanda.[2] Schilling juga dikenal karena sering menyertakan budaya pribumi dan Indo di film-filmnya. Ia memasukkan unsur tersebut ke film Zuster Theresia.[3]

Penyutradaraan aktifnya dilakukan oleh Wong Bersaudara, keluarga etnis Cina yang rajin membuat film khusus penonton Cina. Karena Zuster Theresia ditujukan pada penonton Belanda, sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran berpendapat bahwa kreativitas Wong Bersaudara berkurang.[1]

Film ini adalah karya terakhir Halimoen Film.[3] Ini adalah film suara, tetapi kualitasnya buruk.[4] Film suara pertama di Hindia Belanda, Karnadi Anemer Bangkong, dirilis tahun 1930.[5] Posternya menekankan budaya Belanda dan hanya menampilkan Flora, pemeran Suster Theresia, sedang berdoa disertai teks di atas dan bawah gambar. Saat menyusun daftar poster film Indonesia terbaik sepanjang masa untuk Tabloid Bintang, Ade Irwansyah menempatkan poster Zuser Theresia di peringkat ke-20. Ia menyebut kesederhanaan poster ini memperkuat citra seorang suster yang sedang berdoa.[6]

Rilis dan tanggapan

Film ini dirilis di Hindia Belanda pada tahun 1932,[1] sayangnya gagal di pasaran. Film ini tidak diedarkan di Belanda. Meski target penonton utamanya adalah orang Belanda, kaum pribumi berpendidikan seperti Armijn Pane juga dikabarkan ikut menonton. Film ini adalah karya terakhir Schilling[7] dan Wong Bersaudara berhenti dari dunia perfilman sampai 1934, ketika mereka bekerja sama dengan Albert Balink dalam pembuatan Pareh (1936).[8]

Lihat pula

Referensi

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Biran 2009, hlm. 126.
  2. ↑ Biran 2009, hlm. 127.
  3. 1 2 Biran 2009, hlm. 128.
  4. ↑ Biran 2009, hlm. 135.
  5. ↑ Biran 2009, hlm. 137, 380.
  6. ↑ Irwansyah 2011, 20 Poster Film.
  7. ↑ Biran 2009, hlm. 190.
  8. ↑ Biran 2009, hlm. 143.

Daftar pustaka

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan