Minggu, 01 November 2026
20:45 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Wallago attu

Wallago attu

Bagikan:
Tapah putih
250px-Waatt_u1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah
Domain:
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Wallago attu

Sinonim
  • Silurus boalis Hamilton, 1822
  • Silurus wallagoo Valenciennes, 1840
  • Silurus muelleri Bleeker, 1846
  • Wallago russellii Bleeker, 1853
Artikel takson sembarang

Wallago attu adalah ikan berkumis air tawar dari keluarga Siluridae, asli Asia Selatan dan Tenggara. Ikan ini dikenal dengan nama tapah.[2]

Selain itu, ikan ini juga dikenal dengan berbagai nama di berbagai nama lokal di daerah asia lain, seperti Borali (বৰালি) dalam bahasa Assam, Tamil ஆத்துவாளை (Aaththu vaalai), Manipuri Sareng, Mizo: Thaichhawninu, Odisha Balia (ବାଳିଆ), Bengal Boal (বোয়াল), Vietnam: Cá le.

W. attu ditemukan di sungai-sungai besar dan danau-danau di dua wilayah yang secara geografis tidak terhubung, yakni satu populasi tinggal di sebagian besar anak benua India dan yang lainnya di beberapa bagian Asia Tenggara. Spesies ini dapat mencapai panjang maksimum 2 m (6 ft 7 in).[3]

Biologi dan ekologi

Sebagai ikan predator berukuran besar, W. attu sebagian besar memakan makanan karnivora. Analisis isi usus yang dilakukan terhadap spesimen dari sungai Godavari di India menunjukkan bahwa sekitar 90 hingga 95% makanan yang dikonsumsi terdiri dari bahan hewani. Di antara ikan mangsa yang paling sering ditemukan di perut sungai Godavari W. attu adalah Salmophasia phulo, Pethi ticto dan Chanda nama semuanya merupakan spesies kecil yang mencapai panjang maksimal sekitar 10–12 cm (3,9–4,7 in). 10–12 cm (3,9–4,7 in).[4]

Morfologi

Tubuhnya memiliki warna bervariasi dan pada bagian dorsal berwarna coklat keabu-abuan dan kepalanya berwarna keunguan.[5] Tubuh memanjang dan terkompresi lateral. Profil dorsal tubuh hampir lurus dengan perut. Kepalanya sangat besar dan lebar kepala sedikit kurang dari panjangnya dan sama dengan setengah dari tinggi badannya. Mulut lebar, bergigi besar serta rahang bagian bawah sedikit lebih panjang. Matanya kecil dan tepat berada di atas tingkat mulut dan tidak tertutup oleh kulit.[6]

Wallago attu tidak bersisik[5] serta memiliki sirip dorsal (punggung) yang pendek dan tidak bertulang. Sirip bagian perut lebih kecil, sedangkan sirip dubur sangat panjang. Sirip pektoral cukup kuat dan bergerigi halus serta memiliki insang yang berselaput. Sirip dubur dan ekor berwarna agak kehitaman.[6]

Reproduksi

Pola reproduksi Wallago attu baik itu jantan maupun betina termasuk ke dalam dimorfisme seksual yang dapat terjadi di semua tahap dan di semua musim serta dapat dengan mudah ditandai dari struktur tulang belakang dada yang berkembang dengan baik, luas dan sangat jelas pada jantan sementara perberkembangan pada betina lemah dan sempit. Ikan ini berkembang biak sekali dalam satu tahun di musim hujan selama Mei-Agustus dengan puncaknya pada bulan Juni-Juli di negara-negara bagian timur, Juni-Agustus di negara-negara barat utara.[6]

Referensi budaya

Menurut cerita rakyat Malaysia, keturunan seseorang yang bernama Tok Kaduk tidak bisa makan dan menyentuh ikan tersebut karena menurut legenda dahulu kala, Tok Kaduk menangkap tapah ini. Saat perutnya dibelah, ternyata di dalam ikan tersebut terdapat emas sehingga Tok Kaduk mengambil emas tersebut, menjahit ikan tersebut, dan melepaskannya kembali ke sungai. Sejak saat itu, jika keturunannya bersentuhan dengan ikan tersebut, kulitnya akan menjadi merah dan gatal hingga mereka pergi ke Kg Tua, Lambor Kanan dekat Bota di Distrik Perak Tengah Perak, Malaysia untuk mencari obat. Obatnya adalah sisa emas ikan yang disimpan untuk dijadikan obat penyakit. Ada yang mengatakan bahwa emas perlu direndam dalam air dan dikonsumsi oleh pasien serta membasuh bagian yang gatal. Cerita lain menceritakan bahwa sareng akan melahap bangkai manusia yang terkubur di dalam air, dan akan membawa jiwa manusia tersebut kepada para dewa.[7]

Referensi

  1. ↑ Ng, H.H.; de Alwis Goonatilake, S.; Fernado, M.; Kotagama, O. (2019). "Wallago attu". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2019 e.T166468A174784999. doi:10.2305/IUCN.UK.2019-3.RLTS.T166468A174784999.en. Diakses tanggal 19 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite iucn}}: uses deprecated |page= identifier (help)
  2. ↑ Iman, Mustafa (30 Mei 2022). "Ikan Tapah, Ikan Air Tawar Raksasa yang Hidup di Sungai-Sungai Indonesia". goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 25 November 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Roberts, T.R. (2014): Wallago Bleeker, 1851 and Wallagonia Myers, 1938 (Ostariophysi, Siluridae), Distinct Genera of Tropical Asian Catfishes, with Description of †Wallago maemohensis from the Miocene of Thailand.
  4. ↑ Babare R. S., Chavan S.P., Kannewad P. M. (2013): Gut Content Analysis of Wallago attu and Mystus (Sperata) seenghala, the common Catfishes from Godavari River System in Maharastra State.
  5. 1 2 Lal, S. S. 2008. Practical Zoology. Volume-3. Capital Offset Press, India.
  6. 1 2 3 Gupta, S. 2015. Wallago attu (Bloch and Schneider, 1801), a threatened catfish of Indian waters. International Journal of Research in Fisheries and Aquaculture 2015: 5(4): 140-142.
  7. ↑ http://www.suaraperak.com/tidak-boleh-makan-ikan-tapah-bukan-sekadar-mitos/ (in malay)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan