Selasa, 03 November 2026
05:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Virus parainfluenza manusia

Virus parainfluenza manusia

Bagikan:
Virus parainfluenza manusia
Mikrograf elektron transmisi dari virus parainfluenza. Dua partikel utuh dan nukleokapsid filamen bebas
Mikrograf elektron transmisi dari virus parainfluenza. Dua partikel utuh dan nukleokapsid filamen bebas
Klasifikasi ilmiahSunting klasifikasi ini
(tanpa takson): Virus
Dunia: Riboviria
Kerajaan: Orthornavirae
Filum: Negarnaviricota
Kelas: Monjiviricetes
Ordo: Mononegavirales
Famili: Paramyxoviridae
Kelompok yang termasuk
Kelompok yang tidak termasuk secara tradisional, namun secara kladistik termasuk

Virus parainfluenza manusia (bahasa Inggris:Human parainfluenza viruses, disingkat HPIVs) adalah sekelompok virus yang menyebabkan penyakit parainfluenza manusia (human parainfluenza). HPIV adalah kelompok parafiletik dari empat virus RNA untai tunggal yang berbeda yang termasuk dalam famili Paramyxoviridae. Virus-virus ini terkait erat dengan penyakit pada manusia dan hewan.[2] Virion berukuran sekitar 150–250 nm dan mengandung RNA negatif dengan genom yang mencakup sekitar 15.000 nukleotida.[3]

Virus dapat dideteksi melalui kultur sel, mikroskopi imunofluoresens, dan PCR.[4] HPIV menjadi penyebab utama kedua kasus rawat inap pada anak di bawah 5 tahun yang menderita penyakit pernapasan (hanya Human orthopneumovirus yang menyebabkan lebih banyak penyakit pernapasan dengan penderita yang dirawat inap untuk kelompok usia ini).[5]

Klasifikasi

HPIV pertama ditemukan pada akhir 1950-an. Pembagian taksonomi secara luas didasarkan pada karakteristik antigenik dan genetik, yang membentuk empat serotipe atau klad utama, yang saat ini dianggap sebagai virus yang berbeda,[6] termasuk:

Virus Akronim GenBank Taksonomi NCBI Catatan
Human parainfluenza virus type 1 HPIV-1 12730 Penyebab krup yang paling umum
Human parainfluenza virus type 2 HPIV-2 11212 Mengakibatkan krup serta penyakit saluran pernapasan atas dan bawah lainnya
Human parainfluenza virus type 3 HPIV-3 11216 Diasosiasikan dengan bronkiolitis dan pneumonia
Human parainfluenza virus type 4 HPIV-4 11203 Termasuk subtipe 4a dan 4b

HPIV meliputi dua genus: Respirovirus (HPIV-1 & HPIV-3) dan Rubulavirus (HPIV-2 & HPIV-4).[3]

Referensi

  1. ↑ "Virus Taxonomy: 2018 Release". International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV) (dalam bahasa Inggris). Oktober 2018. Diakses tanggal 25 Januari 2019.
  2. ↑ Vainionpää R, Hyypiä T (April 1994). "Biology of parainfluenza viruses". Clin. Microbiol. Rev. 7 (2): 265–275. doi:10.1128/CMR.7.2.265. PMC 358320. PMID 8055470.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Henrickson, KJ (April 2003). "Parainfluenza viruses". Clinical Microbiology Reviews. 16 (2): 242–264. doi:10.1128/CMR.16.2.242-264.2003. PMC 153148. PMID 12692097.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ "Human Parainfluenza Viruses". Centers for Disease Control and Prevention (2011). Diarsipkan dari asli tanggal 20 Maret 2012. Diakses tanggal 21 Maret 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Schmidt, Alexander; Anne Schaap-Nutt; Emmalene J Bartlett; Henrick Schomacker; Jim Boonyaratanakornkit; Ruth A Karron; Peter L Collins (1 Februari 2011). "Progress in the development of human parainfluenza virus vaccines". Expert Review of Respiratory Medicine. 5 (4): 515–526. doi:10.1586/ers.11.32. PMC 3503243. PMID 21859271.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "Paramyxoviruses". Parainfluenza Viruses. University of Texas Medical Branch at Galveston. 1996. ISBN 9780963117212. Diakses tanggal 2009-03-15.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan