Senin, 02 November 2026
17:09 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Tiang gantungan

Tiang gantungan

Bagikan:
250px-Tombstone_courthouse_gallows.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tiang-tiang gantungan di Taman Sejarah Negara di Gedung Pengadilan Tombstone yang dikelola oleh Taman Negara Bagian Arizona.
250px-Gotland-galgen_hg.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tiang gantungan bersejarah dekat Visby, Gotland, Swedia

Tiang gantungan adalah sebuah kerangka, biasanya dibuat dari kayu, yang digunakan untuk melaksanakan hukuman mati dengan menggantung si terpidana.

Bentuk tiang gantungan bermacam-macam. Yang paling sederhana (yang sering kali digunakan dalam permainan "Hangman" mirip dengan huruf "L" terbalik, dengan sebuah tiang tegak lurus dan satu lagi balok horisontal yang dipasangi jerat tali. Dalam rancangan lainnya, balok horisontalnya ditopang pada kedua ujungnya. Tiang gantungan yang terkenal di Tyburn berbentuk segitiga, dengan tiga balok lurus dan tiga balok menyilang, yang memungkinkan pelaksanaan hukuman mati atas 24 kriminal secara bersamaan pada ketiga sisinya.

Tiang gantungan dapat dibuat secara permanen, sebagai sebuah lambang penangkal yang mengerikan tentang kekuasaan pengadilan tinggi. (Dalam bahasa Prancis, kata yang digunakan untuk tiang gantungan adalah potence, yang berasal dari kata bahasa Latin, potentia, yang berarti "kekuasaan").

Banyak gambar kota-kota di Britania dan Eropa pada masa lampau memperlihatkan tiang gantungan yang permanen seperti ini yang dibangun di sebuah bukit yang menjulang di luar tembok kota, atau yang lebih lazim lagi dekat kastil atau pusat pengadilan lainnya. Pada masa modern, tiang gantungan sering kali ditempatkan di dalam penjara.

Tiang gantungan dapat pula bersifat sementara. Dalam kasus-kasus tertentu, tiang gantungan dapat dipindahkan ke lokasi kejahatan. Misalnya, bila kejahatannya dilakukan di dalam sebuah gedung, si penjahat dapat digantung dekat pintu depan. Dalam kasus penjahat kambuhan, adakalanya beberapa tiang gantungan dibangun, bahkan dengan satu jerat untuk setiap kejahatan yang dituduhkan setelah proses peradilan.

Pada tiang-tiang gantungan pada masa lampau kadang-kadang menggunakan jerat di leher si terpidana, sementara ia berdiri di atas tangga atau di sebuah kereta yang ditarik kuda di bawahnya. Bila tangga itu diangkat atau kereta itu ditarik, si terpidana akan tergantung tercekik pada lehernya. Belakangan digunakan pula tiang gantungan dengan lantai yang dapat terbuka, sehingga si terpidana akan jatuh dan segera mati karena patah lehernya, dan bukan karena tercekik, khususnya bila pergelangan kaki mereka juga diberi beban pemberat.

Pranala luar


Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan