Senin, 19 Oktober 2026
00:01 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Thomas Braidwood

Bagikan:

Thomas Braidwood (1715-1860), adalah seorang guru dari Skotlandia, mendirikan sekolah bagi anak tunarungu yang pertama di Britania Raya pada tahun 1760. Karena tidak mengetahui metode mengajar anak tunarungu yang telah dikembangkan di Eropa oleh Heinicke, Epee, dan yang lainnya, membuatnya mengembangkan tekniknya sendiri; yakni murid-muridnya itu belajar bicara dan membaca gerak bibir, belajar membaca dan menulis. Begitu memperoleh keefektifan dari metodenya itu, Braidwood mengajukan sebuah usul untuk penyediaan uang dari dana publik untuk pendidikan murid-murid yang tunarungu dari keluarga yang tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya, serta untuk biaya pelatihan guru-gurunya menurut metode-metodenya itu. Ketika usulan untuk mendapatkan dana publik itu tidak diluluskan, Braidwood menyatakan bahwa sistem itu akan tetap menjadi hak propertinya, lalu ia meminta agar para anggota keluarga dan lain-lainnya di sekolah yang telah mempelajari tekniknya itu untuk bersumpah akan merahasiakannya (Bender, 1970)[1]

Braidwood memindahkan sekolahnya ke Hackney, dekat London pada tahun 1783. Karena obsesinya dengan perahasiannya itu, bagian-bagian dari metodenya tidak dikenal sampai kemudian setelah Braidwood meninggal dunia. Tulisan-tulisan dari keponakannya, Joseph Watson, yang membantunya di Hackney dan kemudian mendirikan sekolah pertama di Inggris bagi anak-anak tunarungu yang tidak mampu menunjukkan bahwa Braidwood telah mengembangkan suatu metode mutut yang pelik dengan pelatihan-pelatihan yang umumnya paralel dengan perkembangan oral approach ditempat-tempat lain. Kontribusi Braidwood yang besar adalah prakarsanya untuk pendidikan bagi orang-orang tunarungu di Britania Raya (Bender, 1970) [1]

Catatan Kaki

  1. 1 2 Baihaqi, MIF (2014). Tokoh Pendidikan Luar Biasa. Bandung: Nuansa Cendekia. hlm. 98–99.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan