Minggu, 04 Oktober 2026
13:23 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya

Tektekan

Bagikan:
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Alasannya ialah: Tidak sesuai dengan standar wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (November 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Tektekan" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks yang sudah ada. (November 2025) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Tektekan" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR

Tektekan adalah seni pertunjukan musik tradisional dari Kerambitan, Tabanan, Bali, yang didominasi oleh suara ketukan dari alat musik bambu seperti kulkul. Awalnya merupakan tradisi spontan masyarakat untuk mengusir bala atau roh jahat, terutama saat Hari Raya Pengrupukan (sebelum Nyepi), tetapi kini telah berkembang menjadi pertunjukan yang dipentaskan dengan kolaborasi berbagai alat musik tradisional dan sering digunakan untuk mengiringi dramatari seperti Calonarang atau. Kesenian ini menjadi warisan budaya takbenda Indonesia pada tahun 2013 dan kini menjadi daya tarik wisata.

Asal-usul dan perkembangan

  • Asal kata: Berasal dari kata "tek" yang menjadi "tektek" dan ditambahkan akhiran "-an" menjadi tektekan.
  • Awal mulanya: Muncul sebagai kegiatan spontan masyarakat Kerambitan untuk memohon keselamatan, terutama pada malam Pengrupukan, untuk mengusir roh jahat.
  • Evolusi: Seiring waktu, kesenian ini mengalami perkembangan dan kreativitas, sehingga alat-alat musiknya lebih variatif dan mulai dipadukan dengan unsur-unsur dramatari.

Ciri-ciri

  • Instrumen utama: Mayoritas instrumennya terbuat dari bambu, seperti kulkul atau kentongan, dan dimainkan dengan suara "tek...tek...tek...".
  • Instrumen pendukung: Sering kali dipadukan dengan alat musik tradisional Bali lainnya seperti kendang, cengceng, kempur, suling, dan kemong.
  • Jumlah penabuh: Dimainkan oleh sekitar 30-40 orang dengan ritme yang terkadang mirip dengan suara pertunjukan Kecak.
  • Komposisi: Komposisi, teknik permainan, dan melodi dibuat untuk mengiringi lakon dramatari.

Fungsi dan makna

  • Religius: Secara tradisional berkaitan dengan upacara Bhuta Yadnya dan memiliki makna religius untuk mengusir roh jahat.
  • Sosial: Dapat mengukuhkan nilai solidaritas dan kebersamaan di antara masyarakat pendukungnya, seperti melalui Sekaa Taruna Patria di Banjar Tengah Kerambitan.
  • Wisata: Kini telah dikembangkan menjadi seni pertunjukan wisata dan dikenal hingga ke mancanegara.

Pementasan

  • Pengrupukan: Sering ditampilkan pada Hari Raya Pengrupukan, terutama untuk mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh.
  • Dramatari: Digunakan sebagai pengiring pertunjukan dramatari seperti Calonarang dan fragmentari Puputan Margarana.
  • Pesta Kesenian Bali: Pernah ditampilkan dalam acara Pesta Kesenian Bali.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan