Rabu, 28 Oktober 2026
06:44 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Pekari bibir putih

Pekari bibir putih

Bagikan:
Pekari bibir putih
Rentang waktu: Pliocene–present
250px-White-lipped_peccary_%28Tayassu_pecari%29_Rio_Negro.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
CITES Apendiks II (CITES)[2]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Tayassuidae
Genus: Tayassu
Fischer von Waldheim, 1814
Spesies:
T. pecari
Nama binomial
Tayassu pecari
(Link, 1795)
250px-Tayassu_pecari_range_map.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebaran Pekari bibir putih (bagian Amerika Tengah dari persebarannya jauh lebih terfragmentasi dan kehadirannya di El Salvador merupakan sebuah kekeliruan)
Sinonim

Of the genus:[3]

  • Dicotyles G. Cuvier, 1817

Of the species:

  • Sus pecari (Link, 1795)

Pekari bibir putih[4] (Tayassu pecari) adalah sebuah spesies pekari yang ditemukan di Amerika Selatan dan Tengah serta menjadi satu-satunya anggota sintas genus Tayassu.[note 1] Terdapat beberapa subspesies yang telah diidentifikasi. Baik jantan dan betinanya tertutup oleh rambut gelap (kecuali pada beberapa wilayah, seperti di lehernya, yang berwarna krem). Sebaran spesies ini, yang membentang dari Meksiko ke Argentina, telah terfragmentasi, dan populasi spesies ini kini menurun (terkhususnya di Amerika Tengah dan Meksiko). Mereka dapat ditemukan di berbagai jenis habitat. Sebagai hewan sosial, pekari bibir putih umumnya mencari makan dalam kawanan besar, yang dapat mencakup hingga 300 ekor pekari.

Mereka berperan penting dala ekosistemnya, dan banyak upaya telah dilaksanakan untuk melestarikan mereka di alam liar. Tidak semua insiden pekari hilang telah terjelaskan, tetapi aktivitas manusia berperan dalam hal ini, dengan deforestasi dan perburuan sebagai dua ancaman utama; yang kedua sangat lumrah terjadi di pedesaan. Mereka diburu untuk kulit dan dagingnya.

Referensi

  1. ↑ Keuroghlian, A.; Desbiez, A.; Reyna-Hurtado, R.; Altrichter, M.; Beck, H.; Taber, A. & Fragoso, J.M.V. (2013). "Tayassu pecari". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2013 e.T41778A44051115. doi:10.2305/IUCN.UK.2013-1.RLTS.T41778A44051115.en. Diakses tanggal 12 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Appendices | CITES". cites.org. Diakses tanggal 14 Januari 2022.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ "Tayassu G. Fischer [von Waldheim], 1814". Integrated Taxonomic Information System.
  4. ↑ Suraga, Ina (2025-12-24). "7 Fakta Unik Pekari, Saudara Babi yang Bertaring Tombak". IDN Times. Diakses tanggal 2026-10-11.
  5. ↑ Acosta, Luis E.; Garbino, Guilherme S. T.; Gasparini, Germán M. & Dutra, Rodrigo Parisi (9 September 2020). "Unraveling the nomenclatural puzzle of the collared and white-lipped peccaries (Mammalia, Cetartiodactyla, Tayassuidae)". Zootaxa. 4851 (1): 60–80. doi:10.11646/zootaxa.4851.1.2. hdl:11336/144227. PMID 33056737. S2CID 222846767.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "Explore the Database". Mammaldiversity.org. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Oktober 2020. Diakses tanggal 13 Oktober 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑
  8. ↑ Kiltie, Richard A. (September 1982). "Bite Force as a Basis for Niche Differentiation Between Rain Forest Peccaries (Tayassu tajacu and T. pecari)". Biotropica. 14 (3): 188–195. Bibcode:1982Biotr..14..188K. doi:10.2307/2388025. JSTOR 2388025.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  1. ↑ Although identified by the American Society of Mammalogists as Dicotyles tajacu,[5][6] some sources incorrectly describe the collared peccary as another member of Tayassu.[7][8]
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan