Sabtu, 31 Oktober 2026
02:23 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Tano Ponggol

Tano Ponggol

kanal di Pulau Samosir, Sumatera Utara, Indonesia

Bagikan:
Untuk jembatan yang dibangun di atas kanal Tano Ponggol, lihat Jembatan Aek Tano Ponggol.
250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Sloepen_worden_langs_een_brug_en_door_een_kanaal_getrokken_bij_Pangoeroeran_TMnr_10018534.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sekoci yang sedang melewati kanal Tano Ponggol di Pangururan pada sekitar tahun 1900—1926.
Kanal Tano Ponggol pada tahun 2014, sebelum pelebaran untuk konstruksi Jembatan Aek Tano Ponggol.

Tano Ponggol (terj. har. 'tanah putus'),[1] terkadang disebut sebagai Tano Magotap (terj. har. 'tanah terpotong'), adalah sebuah kanal di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir yang mulai dibangun pada 17—20 Maret 1906[2] oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk memisahkan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatra.[3] Kanal ini selesai dan diresmikan pada tahun 1913 oleh Ratu Wilhelmina dan sempat dijuluki sebagai Terusan Wilhelmina. Tanah yang dikeruk bertujuan agar air Danau Toba yang berasal dari pesisir Silalahi dapat melewati Pangururan dan sebaliknya, sehingga kapal-kapal dapat mengelilingi Danau Toba. Pada saat pengerukan itu, masyarakat Batak di Samosir diliputi oleh ketakutan bahwa pulau mereka akan tenggelam karena jalur roh yang menghubungkannya ke Pusuk Buhit dipotong. Untuk menenangkan masyarakat itu, L.C. Welsink dan pegawai-pegawainya duduk di bawah sebuah pohon di pulau itu.[4] Air danau yang mengalir melalui kanal Tano Ponggol disebut sebagai Aek Tano Ponggol, sedangkan jembatan yang dibangun di atas kanal untuk memudahkan transportasi darat dari Pulau Sumatra ke Pulau Samosir disebut Jembatan Aek Tano Ponggol.[1] Pada tahun 2022, Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II memperlebar alur Tano Ponggol yang awalnya 25 meter menjadi 80 meter untuk memungkinkan kapal pesiar melewati kanal ini.[5]

Referensi

  1. 1 2 Simanjuntak, B.A.; Hasyim, Hasmah; Turnip, A.W.; Purba, Jugat; Siahaan, E.K. (1979). Sistim Gotong Royong Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Sumatera Utara. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 114–115.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Malau, Gens G. (1997). Lopian Boru Sinambela: Gadis Pejuang dari Tanah Batak. Yayasan Taotoba Nusabudaya & Partukkoan Dalihan Natolu. hlm. 113. ISBN 978-979-8950-04-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Malau, Gens G. (1995). Adat Istiadat Batak. hlm. 9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Castles 1972, hlm. 34.
  5. ↑ "Diresmikan Presiden Jokowi, Jembatan Aek Tano Ponggol Buka Peluang Pengembangan Pariwisata Samosir". Sahabat PU. 25 Agustus 2023. Diakses tanggal 26 Maret 2024.

Daftar pustaka

Ikon rintisan

Artikel bertopik geomorfologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan