Syurahbil bin Hasanah | |
|---|---|
| Informasi pribadi | |
| Meninggal | 639 |
| Anak | Abdullah Abdurrahman Rabi'ah Amatullah (putri) |
| Orang tua |
|
| Julukan | Abu Abdullah |
| Karier militer | |
| Pertempuran/perang | |
Abu Abdullah Syurahbil bin Hasanah (bahasa Arab:أبو عبد الله شُرَحبيل بن حسَنة) adalah seorang sahabat Nabi yang tergolong pemeluk Islam awal dan komandan selama Penaklukan Suriah.
Asal-usul
Ayah Syurahbil adalah Abdullah bin Mutha' bin Amr, seorang anggota suku Arab Kindah. Syurahbil dinisbahkan kepada ibunya, Hasanah. Melalui garis keturunan ibunya, ia terhubung dengan kabilah Quraisy dari Bani Zuhrah dan Bani Jumah di Makkah. Syurahbil termasuk pemeluk Islam awal dan dihitung sebagai salah seorang sahabat Nabi Muhammad. Ia turut serta dalam hijrah kaum Muslimin dari Makkah ke Habasyah untuk menghindari penganiayaan kaum Quraisy musyrik.[1]
Karier militer
Peperangan pada masa Nabi Muhammad dan Perang Riddah
Syurahbil kemudian ikut serta dalam peperangan melawan orang-orang Arab musyrik pada masa Nabi Muhammad masih hidup. Setelah Nabi Muhammad wafat pada tahun 632, banyak suku Arab yang telah memeluk Islam kemudian murtad dan memberontak terhadap pemerintahan Muslim. Khalifah Abu Bakar (berkuasa 632–634) lalu melancarkan Perang Riddah di seluruh Jazirah Arab untuk menundukkan suku-suku tersebut. Dalam perang itu, Syurahbil bertempur di pihak Muslim sebagai wakil komandan Khalid bin Walid dalam Pertempuran Aqrabah atau Pertempuran Yamamah di Najd tengah.[1]
Penaklukan Suriah
Setelah kemenangan tentara muslim dalam Perang Riddah, Syurahbil diangkat menjadi salah satu dari empat komandan tentara muslim yang dikirim untuk menaklukkan Suriah dari kekuasaan Bizantium dan sekutunya yang berasal dari Kristen Arab.[1][2] Pasukan Syurahbil berkekuatan 7.000 orang dan zona operasinya sesuai dengan wilayah Palaestina Secunda. Hanya ada sedikit rincian mengenai kampanye Syurahbil.[1] Tugas pertamanya adalah ke wilayah yang berbatasan dengan wilayah selatan Yordania saat ini, kemungkinan untuk mengawasi suku Qudha'ah yang telah memeluk Islam, memisahkan diri, dan berdamai dengan pemerintahan muslim yang baru dibentuk di Madinah pada tahun-tahun sebelumnya.[3] Menurut sejarawan abad ke-8 Ibnu Ishaq dan al-Waqidi, Syurahbil turut serta dalam pengepungan Bosra yang dipimpin oleh Khalid bin Walid pada bulan Mei 634. Bosra adalah kota besar pertama di Suriah yang ditaklukkan oleh tentara muslim.[4]
Kemudian, pada bulan Juli, Syurahbil menjadi wakil Amr bin al-Ash dalam kemenangan besar melawan Bizantium di Pertempuran Ajnadain meskipun tentara muslim mengalami kerugian besar. Pertempuran tersebut terjadi di situs yang terletak antara Ramlah dan Bayt Jibrin.[4] Tentara muslim kemudian mengejar Bizantium ke utara dan mengalahkan mereka di Pertempuran Fahl pada bulan Desember 634/Januari 635 dengan Syurahbil juga menjadi wakil komandan.[5] Menurut sejarawan abad ke-8 Saif bin Umar, Abu Ubaidah bin al-Jarrah meninggalkan Syurahbil dan Amr yang bertanggung jawab atas Fahl (Pella) dan mereka melanjutkan untuk mengepung Baysan yang akhirnya menyerah setelah bentrokan kecil selama beberapa hari.[6] Syurahbil berperan penting dalam penaklukan di Gerasa (Jerash) dan wilayah Golan antara akhir tahun 634 dan awal tahun 635 juga.[1]
Setelah tentara Bizantium yang dipimpin oleh Kaisar Heraklius dikalahkan dalam Pertempuran Yarmuk, Syurahbil diperintahkan untuk menaklukkan Palestina utara.[1][7] Ia berhasil menaklukan wilayah tersebut dengan pengecualian kota Kaisarea, yang di kemudian hari ditaklukan oleh komandan muslim lainnya setelah pengepungan beberapa tahun.[7] Di antara kota yang ditaklukkan oleh Syurahbil di Palestina utara adalah kota Akka (Acre)[8] dan Tiberias (Thabariyah).[9] Kedua kota tersebut memilih untuk menyerah tanpa perlawanan.[8][9]
Kematian
Syurahbil meninggal pada tahun 639 akibat Wabah Amwas di Palestina tengah bersama Yazid bin Abi Sufyan, salah satu dari empat panglima utama pasukan muslim. Al-Baladzuri berpendapat bahwa Syurahbil meninggal pada usia 69 tahun, sedangkan sejarawan abad ke-13 Ibnu al-Atsir menulis bahwa ia meninggal pada usia 67 tahun.[1]
Keturunan
Syurahbil tercatat memiliki keturunan. Anak-anaknya antara lain Abdullah,[10] Abdurrahman, dan Rabi'ah; dua nama terakhir disebutkan turut serta dalam Penaklukan Mesir.[11][12] Putrinya, Amatullah, menikah dengan al-Miswar bin Makhramah dan melahirkan Abdurrahman bin al-Miswar.[13] Cucunya, Imran bin Abdurrahman bin Syurahbil, menjabat sebagai kepala syurthah dan qadhi di Mesir pada masa Abdullah bin Abdul Malik menjabat sebagai gubernur Mesir pada era Umayyah.[14][15]
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 Bosworth 1997, hlm. 508.
- ↑ Donner 1981, hlm. 114.
- ↑ Donner 1981, hlm. 116.
- 1 2 Donner 1981, hlm. 129.
- ↑ Donner 1981, hlm. 130.
- ↑ Donner 1981, hlm. 137.
- 1 2 Donner 1981, hlm. 152–153.
- 1 2 Sharon, 1997, hlm. 23, mengutip sejarawan abad ke-9 Ahmad al-Baladzuri
- 1 2 Le Strange, 1890, hlm. 340, mengutip Yaqut
- ↑ "Tarajm - Abdullah bin Syurahbil bin Hasanah". tarajm.com (dalam bahasa Arab). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-08-12. Diakses tanggal 2024-03-14.
- ↑ Ibnu Hajar al-'Asqalani. Kitab Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah - Abdurrahman bin Syurahbil (dalam bahasa Arab). Vol. 5. hlm. 31. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-24. Diakses tanggal 2024-03-14.
{{cite book}}:|website=diabaikan - ↑ (Arab) Rabi'ah bin Syurahbil bin Hasanah di situs sahaba.rasoolona.com
- ↑ "Tarajm - Abdurrahman bin al-Miswar bin Makhramah Abi al-Miswar al-Qurasyi az-Zuhri al-Madani". tarajm.com (dalam bahasa Arab). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-10-02. Diakses tanggal 2024-03-14.
- ↑ Al-Kindi, Abu Umar. Kitab al-Walah wa Kitab al-Qudat oleh Al-Kindi - Abdullah bin Abdul Malik - Al-Maktaba al-Shamela al-Haditha (dalam bahasa Arab). hlm. 45. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-01-24. Diakses tanggal 2024-03-14.
{{cite book}}:|website=diabaikan - ↑ Al-Kindi, Abu Umar. Kitab al-Walah wa Kitab al-Qudat oleh Al-Kindi - Abdullah bin Abdul Malik - Al-Maktaba al-Shamela al-Haditha (dalam bahasa Arab). hlm. 46. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-03-14. Diakses tanggal 2024-03-14.
{{cite book}}:|website=diabaikan
Daftar pustaka
- Bosworth, C. E. (1997). "Shuraḥbīl b. Ḥaṣana". Dalam Bosworth, C. E.; van Donzel, E.; Heinrichs, W. P. & Lecomte, G. (ed.). Encyclopaedia of Islam. Volume IX: San–Sze (Edisi 2). Leiden: E. J. Brill. ISBN 978-90-04-10422-8.
{{cite encyclopedia}}:|ref=harvtidak valid - Donner, Fred M. (1981). The Early Islamic Conquests. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-1-4008-4787-7.
- Le Strange, G. (1890). Palestine Under the Moslems: A Description of Syria and the Holy Land from A.D. 650 to 1500. Komite Dana Eksplorasi Palestina.
- Perlman, Yaara (April 2020). "The Tribal Affiliations of Shuraḥbīl ibn Ḥasana". Journal of Near Eastern Studies. 79 (1): 113–124. doi:10.1086/707614.
{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - Sharon, M. (1997). Corpus Inscriptionum Arabicarum Palaestinae, A. Vol. 1. BRILL. ISBN 978-90-04-10833-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-12-21. Diakses tanggal 2018-12-10.
| Internasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |