Rabu, 21 Oktober 2026
17:31 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama
Abu Hayat II dari Ternate

Abu Hayat II dari Ternate

Bagikan:
250px-Ternate_ulama_insulted_by_Portuguese.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Anak buah Jorge de Meneses menghina seorang ulama di Ternate dengan mengusapkan daging babi ke wajahnya

Sultan Abu Hayat II (periode 1529-1533), atau orang Eropa mengenalnya sebagai Boheyat, adalah penguasa Ternate ke-21 yang merupakan putera Sultan Bayanullah (periode 1500-1522) dari permaisurinya Sultana Nukila, puteri Sultan Almansur (periode 1512-1526) dari Tidore. Pada masa kekuasaannya, bangsa Portugis memperkuat posisi mereka di Ternate.

Sultan Abu Hayat II naik tahta menggantikan kakaknya Sultan Dayalu/Hidayatullah (periode 1522-1529) yang tewas dalam perang saudara melawan Wali Raja Teruwese (periode 1521-1529). Mengingat Sultan Abu Hayat II naik takhta pada usia belia, penyeleksian kebijakan kerajaan didampingi oleh Ibu Suri Nyaicili Boki Raja (Ratu Nukila) dan Pangeran Taruwese (Kaicili Darwis) yang bertindak sebagai wali raja.[1] Pada tahun 1521 dan 1522, pihak kesultanan mengirimkan dua pucuk surat resmi atas nama Sultan Abu Hayat II kepada Raja Portugal. Surat tersebut bertujuan untuk memelihara hubungan aliansi serta menyampaikan dinamika politik dan potensi ancaman dari kerajaan-kerajaan lain di Maluku. Hubungan diplomatik ini ditandai dengan pembangunan benteng Portugis pertama di Ternate pada tahun 1522, yang dinamai São João Baptista (kini dikenal sebagai Benteng Kastela).

Dalam perkembangannya, pengaruh politik Portugis yang kuat di kawasan tersebut membatasi otonomi pemerintahan Kesultanan Ternate selama masa kekuasaannya. Sebenarnya, Sultan Abu Hayat II membenci Portugis dan tak jarang terlibat konflik dengan mereka yang sering lancang mencampuri urusan kerajaan.[2] Suatu ketika pada tahun 1531 ia dituduh sebagai dalang pembunuhan terhadap Gubernur Portugis Gonzalo Pereira dan ditangkap, ia sempat dibebaskan sebelum akhirnya dibuang ke Malaka di mana ia menutup usia setahun kemudian.[2]

Didahului oleh:
Hidayatullah
Sultan Ternate
1529-1533
Diteruskan oleh:
Tabariji

Surat kepada Raja Portugis

Terdapat dua pucuk surat dari Sultan Abu Hayat II kepada Raja Portugal tertanggal 27 April dan 8 November 1521 diakui sebagai salah satu naskah berbahasa Melayu tertua di dunia setelah naskah Tanjung Tanah. Saat ini, kedua dokumen bersejarah tersebut tersimpan dalam koleksi Museum Lisboa di Portugal. Selain berupa naskah diplomatik, peninggalan Kesultanan Ternate meliputi kompleks pemakaman para sultan serta artefak yang tersimpan di Museum Kesultanan Ternate. Koleksi artefak tersebut mencakup peralatan perang, singgasana kerajaan, dan mushaf Al-Qur'an manuskrip karya sultan.[3]

Berikut adalah isi surat pertama secara lebih detail:

Al-Fattah[4]

"Raja Sultan Abu Hayat surat datang kepada Mama (Maharaja) Raja Portugal besar dunia alam semuanya tuan besar, karena dahulu Raja Portugal menyuruh Francisco Serrão datang dari Maluku binasa dari Ambon. Maka Raja Maluku semuanya dengar Feringgi dan binasa dari Ambon. Maka Raja Tidore dan Jailolo disuruh Ambon semuanya berhimpun mau bunuh pada Francisco Serrão. Maka Raja Ternate dengar, disuruh saudara dua membawa perahu tujuh buah diambil Francisco Serrão membawa ke Ternate. Maka negeri Ternate seperti negeri Portugal. Maka Raja Portugal suruh korvet membawa surat datang pada Raja Ternate. Korvet dan harta dan laskar diserahkan pada tangan Raja Ternate. Maka jung Ternate dan korvet berlayar ke Melaka musim kasap diam di Bacan. Maka Tidore dan Jailolo disuruh Raja Bacan bunuh pada orang Feringgi diam di Bacan. Harta dan laskar semuanya dirampas. Maka Raja Ternate dengar. Maka Raja Ternate kata, "Bagaimana Raja Portugal, jung dan harta dan laskar diserahkan pada tangan kita, marilah jung dan harta dan laskar kita suruh kembalikan ke Melaka, jika tiada kembali, berperanglah pada Raja Bacan." Maka Raja Bacan pun hadirlah senjata, Tidore dan Jailolo pun serta Bacan semuanya, lengkaplah Tidore dan Jailolo. Bacan lekas suruh anak perempuan, itu anak Raja Bacan dalam Raja Ternate, perempuan itu kasih. Maka dapat diberinya racun. Maka wafat Raja Ternate dahulu. Raja Tidore suruh jemput membawa Francisco Serrão ke Tidore beri minum, waktu itu diberi racun. Maka datang ke rumah empat hari sakit mati. Beberapa hari sudah Raja mati, maka ia waktu mati itu Raja Abu Hayat diserahkan daripada Mama Raja Portugal karena... Ternate pelabuhan Raja Portugal, karena Tidore dan Jailolo dan Bacan bagi harta Raja Portugal berperang pada Ternate... kembali Mama kasih lekas tolong pada Ternate. Surat ini seperti kita membawa baik jahat."[4]

250px-Arquivo_Nacional_da_Torre_do_Tombo%2C_Lisboa%2C_Portugal.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Arquivo Nacional da Torre do Tombo, Lisboa, Portugal

Selain itu, surat keduanya berbunyi seperti ini:

Al-hamdulillahi rabbil 'alamin[4]

Ya Aziz Ya Ghaffar

"Ini surat kasih Sultan Abu Hayat, surat datang kepada Ayahanda Sultan Portugal dunia alam ialah yang maha besar. Karya mengatakan hal negeri sangkalah anakda, Sultan Bayan Sirrullah meninggalkan negeri Ternate. Sekalianlah hal negeri Ternate sekarang. Raja Castile datang dua buah kapal menghantarkan senjatanya dan hartanya dan memelihara akan bandar Raja Tidore, bandar Raja Castile sebenarnyalah. Sultan Portugal memelihara akan Sultan Ternate dari kerana bandar Sultan Ternate bandar Sultan Portugal. Sekarang ini Raja Castile memberi Raja Tidore bedil empat puluh buah bedil, gandi tujuh puluh buah gandi. Janji tuan ini akan datang ke Tidore, sebuah kapal belayar bulan Muharram, sebuah kapal tinggal, nantikan kapal dua puluh buah tahun lagi kan datang. Adapun anakda Sultan Abu Hayat tiada harap lain, harap Ayahanda Sultan Portugal. Sebenarnyalah Sultan Portugal memeliharakan anakda piatu lagi kanak-kanak, sebenarnyalah memeliharakan negeri Ternate. Cenderamata anakda tiada sepertinya."[4]

Wassalamu bilkhair.[4]

Naskah asli surat

Naskah asli kedua dokumen tersebut tersimpan di Pusat Arsip Nasional Portugal (Torre do Tombo) di Lisboa dengan nomor rekor arsip Gavetas 15-16-38. Transliterasi dan kajian terhadap teks surat tersebut telah dilakukan oleh C. O. Blagden melalui artikel berjudul "Two Malay Letters from Ternate in the Moluccas, Written in 1521 and 1522", yang dipublikasikan dalam Bulletin of the School of Oriental Studies, University of London, Volume 6 Nomor 1 (1930), halaman 87-101.[5]

Abu Hayat II meninggal

Hubungan Sultan Abu Hayat II dengan Portugis memburuk akibat campur tangan Portugis dalam urusan internal Kesultanan Ternate. Pada 1531, Abu Hayat II ditangkap dan diasingkan ke Malaka, tempat ia meninggal dunia. Setelah penahanan Abu Hayat II, Portugis memengaruhi dewan kerajaan untuk mengangkat Pangeran Tabariji, saudara tiri Abu Hayat II, sebagai sultan Ternate. Hubungan Tabariji dengan Portugis kemudian memburuk. Pada 1534, Tabariji dituduh melakukan pelanggaran terhadap kepentingan Portugis dan diasingkan ke Gowa, India.[2]

Referensi

20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  1. ↑ Media, Kompas Cyber (2023-04-29). "Sultan Abu Hayat II, Raja Ternate yang Ditawan Portugis". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2026-10-05.
  2. 1 2 3 Raditya, Iswara N. "Keruwetan Perang Ternate-Portugis vs Tidore-Spanyol". tirto.id. Diakses tanggal 2026-10-05.
  3. ↑ Fandy. "Kesultanan Ternate: Asal-Usul, Struktur, dan Warisan Peninggalan". Diakses tanggal 2026-10-05.
  4. 1 2 3 4 5 "Surat Sultan Ternate kepada Raja Portugal - Wikisumber, perpustakaan bebas dalam talian". ms.wikisource.org (dalam bahasa Melayu). Diakses tanggal 2026-10-05.
  5. ↑ "Manuskrip Kesultanan Ternate Zaman Wali Sanga (928 H/ 1522 M)". NI. 2019-03-31. Diakses tanggal 2026-10-05.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan