| Jumlah populasi | |
|---|---|
| 21.025 (2010)[1] | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
| Papua Selatan (Kabupaten Mappi) | |
| Bahasa | |
| Yaghai | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Boazi ·Warkay-Bipim ·Marind |
Suku Yaghai (Yaqay, Yah'ray) adalah salah satu suku yang tinggal di Kabupaten Mappi. Mereka tinggal di seberang barat Sungai Mappi, pembatas wilayah mereka dengan suku Awyu. Wilayah mereka adalah rawa-rawa gambut (Mbambur) di sepanjang Sungai Oba, Bapai, Miwamon, Mabur, Nambioman, beserta anak-anak sungainya.
Etimologi
Nama Yaghai dibaca Ya'hry, pertama kali ditulis oleh Pater Cornelis Meuwese, m.s.c. sebagai nama yang dipakai oleh suku Awyu untuk menyebut lawan mereka di Sungai Mappi. Tetapi nama tersebut merupakan endonim. Berdasarkan penjelasan panglima perang dan tokoh adat bernama Jaende dari Kepi, nama itu berarti "manusia". Dalam menceritakan asal muasal suku Yaghai ia menyebut 'Babae Jaqajre, Tapaq Kandire' artinya "Nenek moyang suku Yaghai (babae) adalah manusia, matahari (tapaq) berbeda sendiri."
Pandangan tentang babae ini bermacam-macam berdasarkan Drabbe, cuma ada satu Babae yang adalah tuhan yang pencipta segalanya. Sedangkan menurut Maturbongs ada beberapa babae yang berhubungan satu sama lainnya di bawah tanah, tetapi ada satu yang disebut babae-tapaq (babae matahari), pandangan yang tidak disetujui oleh Jaende.
Bahasa
Bahasa asli suku Yaghai adalah bahasa Yaghai yang merupakan anggota rumpun bahasa Yaqayik, bersama bahasa Warkay-Bipim, dan lebih jauh lagi serumpun dengan bahasa Marind dan bahasa Boazi di Papua Nugini. Setidaknya terdapat tiga dialek bahasa Yaghai berdasarkan wilayah pesisir sungai yang mereka tinggali, Oba-Miwamon, Nambiomon-Mabur, dan Bapai.
Rumah adat
Secara tradisional suku Yaghai mengenal dua jenis pemukiman, pemukiman sementara disebut peoqowbbuaq dan pemukiman permanen buaq. Saat mereka berpindah kelompok yang awalnya menetapi buaq akan berpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang menempati peoqowbbuaq dekat dengan wilayah dusun sagu dan tempat memancing.

Secara tata ruang, setiap pemukiman biasanya terdiri dari setidaknya satu rumah laki-laki (qaindaw) dan rumah wanita (wuri). Rumah laki-laki biasanya terletak tidak jauh dari rumah wanita, sehingga suami bisa melihat rumah di mana istri mereka tinggal.
Untuk bentuknya suku yaghai mengenal tiga jenis rumah; moqon-wuri adalah rumah yang terletak pada pemukaan tanah, jambu-pauaq adalah rumah panggung dengan ketinggian sekitar 60 cm dari permukan tanah, dan pauaq-wuri rumah panggung dengan ketinggian 5–6 m. Qaindaw (rumah laki-laki) biasanya berbentuk rumah panjang dan besar yang terletak diatas tanah atau rumah panggung dengan tinggi yang rendah, sedangkan rumah wanita biasanya berbentuk rumah panggung yang tinggi.
Referensi
- ↑ Ananta, A.; Arifin, E.N.; Hasbullah, M.S.; Handayani, N.B.; Pramono, A. (2015). Demography of Indonesia's Ethnicity. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 122. ISBN 978-981-4519-87-8. Diakses tanggal 2023-10-23.