Rabu, 28 Oktober 2026
23:57 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Studi keberlanjutan

Bagikan:

Studi keberlanjutan adalah bidang interdisipliner yang mempelajari prinsip dan praktik keberlanjutan serta pembangunan berkelanjutan. Bidang ini mengintegrasikan geografi, pertanian, kebijakan lingkungan, etika, ekologi, arsitektur lanskap, perencanaan perkotaan, ekonomi, manajemen sumber daya alam, sosiologi, dan antropologi.[1]

Sejarah

Pembentukan awal

Gagasan mengenai keberlanjutan mulai berkembang pada abad ke-19 sebagai tanggapan terhadap eksploitasi sumber daya alam selama Revolusi Industri, ketika peningkatan penggunaan batu bara, minyak, dan besi menyebabkan perubahan lingkungan dalam skala yang lebih luas.[2] Organisasi konservasi seperti Lembaga Nasional Audbon (1886) dan Sierra Club (1892) dibentuk untuk melindungi satwa liar dan kawasan alami. Lacey Act tahun 1900 ditetapkan sebagai undang-undang federal pertama di Amerika Serikat yang mengatur perdagangan satwa liar.[3]

Pada awal abad ke-20 kegiatan pelestarian dipopulerkan oleh tokoh-tokoh publik seperti Gene Stratton-Porter. Penelitian ilmiah yang dilakukan George Washington Carver dan Marie Curie berkontribusi pada perkembangan praktik pertanian dan energi yang kemudian dihubungkan dengan konsep keberlanjutan.[4][5] Pada periode yang sama, Presiden Amerika Serikat Theodore Roosevelt menetapkan sejumlah taman nasional dan kawasan lindung, dengan total luasan lebih dari 230 juta acre, yang turut meningkatkan perhatian publik terhadap isu konservasi.[6]

Pada dekade 1980-an perhatian terhadap batas ekologi global mengalami peningkatan. Brundtland Commission (1983–1987) merumuskan definisi pembangunan berkelanjutan melalui Brundtland Report (1987), yaitu pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.[7][8]

Perkembangan

Konferensi Tingkat Tinggi Bumi Perserikatan Bangsa Bangsa (UN Earth Summit) tahun 1992 di Rio de Janeiro menghasilkan Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC), yang kemudian menjadi dasar penetapan target pengurangan emisi dalam Protokol kyoto pada 1997.[7] Perjanjian tersebut membentuk kerangka kerja internasional untuk penanganan perubahan iklim, meskipun tingkat ratifikasi dan pencapaiannya berbeda antar negara anggota. Pada 2015, Majelis Umum PBB menetapkan tujuh belas Tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dengan target pencapaian global pada 2030.[9]

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, penelitian mengenai keberlanjutan menyoroti perlunya kerangka penilaian yang mencakup dimensi ekonomi, lingkungan, sosial, dan kelembagaan. Kajian pada periode ini juga mempertimbangkan penggunaan perspektif jangka panjang, penerapan pendekatan kehati-hatian, serta analisis terkait keadilan intra dan antargenerasi.[10]

Referensi

  1. ↑ "The Growing Field of Sustainability Studies". HuffPost (dalam bahasa American English). 2012-02-13. Diakses tanggal 2025-11-22.
  2. ↑ "The Dark Side Of Industrial Revolution: Environmental Destruction - Massive Earth Foundation" (dalam bahasa American English). 2024-12-21. Diakses tanggal 2025-11-22.
  3. ↑ Smola, Travis (2022-02-14). "How Our Favorite Game Species Barely Survived Overhunting". Wide Open Spaces (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-22.
  4. ↑ McAtee, Charlie (2024-01-29). "Gene Stratton-Porter: A Hoosier Renaissance Woman". Indiana Historical Society (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-22.
  5. ↑ "George Washington Carver: Prolific Inventor Known as the "Peanut Man"". Biography (dalam bahasa American English). 2024-01-24. Diakses tanggal 2025-11-22.
  6. ↑ "Theodore Roosevelt and Conservation - Theodore Roosevelt National Park (U.S. National Park Service)". www.nps.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-22.
  7. 1 2 "History and Sustainability". www.histecon.magd.cam.ac.uk. Diakses tanggal 2025-11-22.
  8. ↑ Du Pisani Professor of History, Jacobus A. (2006-06-01). "Sustainable development – historical roots of the concept". Environmental Sciences. 3 (2): 83–96. doi:10.1080/15693430600688831. ISSN 1569-3430.
  9. ↑ dpicampaigns. "Take Action for the Sustainable Development Goals". United Nations Sustainable Development (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-22.
  10. ↑ Gasparatos, Alexandros; El-Haram, Mohamed; Horner, Malcolm (2008-05-01). "A critical review of reductionist approaches for assessing the progress towards sustainability". Environmental Impact Assessment Review. 28 (4): 286–311. doi:10.1016/j.eiar.2007.09.002. ISSN 0195-9255.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan