Selasa, 27 Oktober 2026
15:49 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Spesies adventif

Bagikan:

Spesies adventif adalah spesies yang telah tiba di suatu lokasi baru, bisa jadi karena mendapat bantuan dari manusia sebagai spesies yang diperkenalkan atau bisa juga tidak mendapat bantuan dari manusia.

Istilah ini sekarang digunakan oleh beberapa penulis dalam arti yang lebih terbatas daripada penggunaan awalnya. Konsep paling awal mengenai spesies adventif dan yang paling luas diterima di kalangan ahli biologi adalah bahwa spesies yang telah tiba di wilayah geografis tertentu dari wilayah yang berbeda (tanpa peringatan lebih lanjut). Spesies adventif merupakan pelopor dari istilah "spesies non-asli", meskipun tidak memiliki dasar yang sering digunakan dari kata "diperkenalkan", yang dapat diartikan secara berbeda tergantung masing-masing penulis.[1][2][3][4] Dalam konsep ini, kuntul kerbau (Bubulcus ibis) yang tiba di Amerika Utara dalam ekspansi jangkauan alaminya, tikus hitam (Rattus rattus) yang diyakini telah tiba dengan cara menumpang di dalam kapal laut dan anggur kudzu (Pueraria lobata) yang "diperkenalkan" secara sengaja oleh manusia, semuanya merupakan spesies yang bersifat adventif (petualang) dan telah membentuk populasi. Spesies adventif yang umum adalah serangga herbivora.[5]

Konsep selanjutnya dan yang lebih terbatas yaitu spesies yang telah tiba di wilayah geografis tertentu dari wilayah yang berbeda, tetapi populasinya tidak berkelanjutan. Jumlah populasi hanya meningkat melalui pengenalan ulang. Setelah beberapa waktu, spesies adventif dapat dinaturalisasi atau beberapa populasi tidak bisa mempertahankan diri secara reproduktif, tetapi tetap ada karena berdatangan terus menerus dari tempat lain. Populasi yang tidak berkelanjutan seperti itu atau individu yang ada di dalamnya, disebut bersifat adventif.[6] Tanaman budidaya adalah sumber utama populasi adventif. Diperkirakan 10-20% spesies adventif yang digunakan dalam program kontrol biologis akhirnya dinaturalisasi.[7]

Kita dapat dengan mudah melihat bagaimana konsep kedua ini berlaku untuk tanaman budidaya. Tanaman yang tumbuh dalam batas-batas pembudidayaan disebut "adventif", sedangkan yang tumbuh di luar batas itu berarti dinaturalisasi. Namun, konsep ini berantakan ketika diterapkan pada spesies hewan invertebrata dan mikroorganisme yang jauh lebih banyak, sangat sedikit dari mereka yang dibudidayakan sehingga mereka cenderung telah terbentuk ('dinaturalisasi') pada saat mereka terdeteksi di alam.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Morse A.P. 1916. "A New England orthopteran adventive Diarsipkan 2020-02-02 di Wayback Machine". Psyche 23: 178-179.
  2. ↑ Townes H.K. 1947. "A Eumenes wasp and six adventive Ichneumonidae new to Hawaii (Hymenoptera)". Proceedings of the Hawaiian Entomological Society 13: 105-105
  3. ↑ Pemberton C.E. 1964. "Highlights in the history of entomology in Hawaii 1778-1963". Pacific Insects 6: 689-729
  4. ↑ Frank J.H., McCoy E.D. 1995. "Introduction to insect behavioral ecology: The good, the bad, and the beautiful: Non-indigenous species in Florida. Invasive adventive insects and other organisms in Florida Diarsipkan 2019-05-31 di Wayback Machine". Florida Entomologist 78: 1-15
  5. ↑ Martin N.A., Paynter Q. 2013. Predicting risk from adventive herbivores to New Zealand indigenous plants. New Zealand Entomologist: 1-8. DOI:10.1080/00779962.2012.759308
  6. ↑ Warren L. Wagner, Derral R. Herbst, and Sy H. Sohmer. Manual of the Flowering Plants of Hawaii, Revised Edition, 1999. Bishop Museum Press: Honolulu
  7. ↑ Stiling, P. 1993. Why do natural enemies fail in classical Biological Control Programs? American Entomologist. 39:31-39.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan