Sabtu, 03 Oktober 2026
21:30 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Soeman Hasiboean

Soeman Hasiboean

seorang penulis dan sastrawan Indonesia yang terkenal pada abad ke-20

Bagikan:
Ini adalah nama Batak Mandailing, marganya adalah Hasibuan.
Soeman Hs
250px-Suman_Hs_in_Lontar_Foundation_film_on_Suman_Hs_%2802.42%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Soeman pada tahun 1994
Lahir
Soeman Hasibuan

(1904-04-04)4 April 1904
Meninggal8 Mei 1999(1999-05-08) (umur 95)
Pekanbaru, Riau, Indonesia
Dikenal karenaPelopor sastra detektif dan cerpen, pegiat pendidikan
Karya terkenal
Pasangan menikahSiti Hasnah
Anak8

Soeman Hasibuan (EYD: Suman Hasibuan; 4 April 1904[1] – 8 Mei 1999)[2] yang lebih dikenal dengan nama pena Soeman Hs, adalah seorang sastrawan dan pendidik Indonesia yang diakui sebagai pelopor fiksi detektif serta perintis penulisan cerita pendek dalam kesusastraan Indonesia. Lahir di Bengkalis, Riau, Hindia Belanda, dari keluarga petani, Soeman menempuh pendidikan keguruan dan belajar menulis di bawah bimbingan sastrawan Mohammad Kasim. Ia mulai bertugas sebagai guru bahasa Melayu setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah guru pada tahun 1923, mula-mula di Siak Sri Indrapura, kemudian di Pasir Pengaraian, Rokan Hulu, Riau. Pada periode inilah ia mulai aktif berkarya hingga menerbitkan novel pertamanya, Kasih Tak Terlarai, pada tahun 1929. Dalam kurun waktu dua belas tahun, ia telah menerbitkan lima novel, satu buku kumpulan cerpen, serta tiga puluh lima cerita pendek dan puisi.

Selama pendudukan Jepang (1942–1945) dan masa revolusi kemerdekaan setelahnya, Soeman—meski tetap berprofesi sebagai guru—mulai aktif terjun ke kancah politik; mula-mula bertugas di dewan perwakilan daerah (Syu Sangi-kai), lalu bergabung dalam Komite Nasional Indonesia wilayah Pasir Pengaraian di Pekanbaru. Menyusul pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada tahun 1949, Soeman diangkat menjadi kepala jawatan pendidikan daerah. Dalam posisi tersebut, ia berupaya memulihkan sarana pendidikan yang rusak akibat perang serta memprakarsai pendirian sekolah-sekolah baru, termasuk Sekolah Menengah Atas (SMA) pertama di Riau dan Universitas Islam Riau. Ia terus mendedikasikan dirinya dalam bidang pendidikan hingga akhir hayatnya.

Sebagai pengarang, Soeman menulis kisah-kisah yang menonjolkan unsur ketegangan dan humor, memadukan pengaruh fiksi detektif dan petualangan Barat dengan corak sastra Melayu klasik. Ragam bahasa Melayu yang ia gunakan banyak dipengaruhi oleh latar belakangnya di wilayah pesisir timur Sumatra, dengan gaya penulisan yang mengalir lancar, lugas, serta menghindari penggunaan kalimat yang bertele-tele. Karyanya yang paling populer adalah novel Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan (1932), sedangkan kumpulan cerpennya, Kawan Bergeloet (1941), dipandang sebagai karyanya yang paling memikat dari sudut pandang estetika sastra.[3] Kendati kerap dikategorikan sebagai penulis minor pada era Pujangga Baru, jasa kepengarangannya diabadikan menjadi nama Perpustakaan Soeman H.S. di Pekanbaru dan karya-karyanya diajarkan dalam kurikulum sekolah.

Kehidupan awal

Soeman lahir pada 4 April 1904 di Bantan Tua, sebuah desa di Bengkalis, Riau.[a] Kedua orang tuanya, Lebai Wahid Hasibuan dan Turumun Lubis, berasal dari Kotanopan (kini bagian dari Kabupaten Mandailing Natal), tetapi pindah ke Bengkalis setelah menikah guna menghindari perselisihan antarkeluarga antara marga Hasibuan dan marga saingannya. Dalam sebuah wawancara pada tahun 1989, Soeman menuturkan bahwa ia tidak tahu pasti sumber konflik tersebut, kendati ia menduga ayahnya—yang merupakan keturunan bangsawan Mandailing—merasa kehormatannya dilecehkan.[4] Ia memiliki lima orang saudara laki-laki, yaitu Raman, Riban, Abdurrachim, Hamzah, dan Jumaat.[5]

Di Bengkalis, Wahid dan Turumun bertani nanas dan kelapa. Wahid juga mengajar mengaji Al-Qur'an yang menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga Muslim tersebut.[6] Karena ayahnya membuka pengajian di rumah, Soeman mulai belajar membaca Al-Qur'an sejak usia dini. Di samping itu, dari para saudagar yang kerap bertamu kepada Wahid, ia sering mendengarkan cerita mengenai kejahatan-kejahatan di kota-kota besar seperti Singapura. Pada tahun 1913, Soeman masuk ke sekolah Melayu setempat, tempat para gurunya senantiasa menanamkan pentingnya membaca. Soeman mengingat betul nasihat tersebut dan melahap berbagai buku karya sastrawan Eropa maupun Melayu dari perpustakaan sekolah sebelum ia lulus pada tahun 1918.[b][7]

Berharap dapat menjadi guru, tak lama setelah lulus Soeman mengikuti seleksi kursus calon guru di Medan, Sumatera Utara. Setelah dinyatakan diterima, ia menempuh studi selama dua tahun di kota tersebut. Salah seorang pengajarnya adalah Mohammad Kasim, sastrawan yang kelak menerbitkan kumpulan cerpen Teman Doedoek (1937)—buku yang tercatat sebagai karya kumpulan cerpen pertama dalam khazanah kesusastraan Indonesia.[8] Di luar jam pelajaran, Soeman kerap mendengarkan cerita-cerita Kasim seputar dunia kepengarangan dan proses kreatif penulisan fiksi; pengalaman ini memantik minatnya untuk terjun sebagai penulis.[9] Selepas dua tahun di Medan, Soeman melanjutkan pendidikannya ke sekolah normal di Langsa, Aceh, hingga tahun 1923. Di sanalah ia pertama kali bertemu dengan calon istrinya, Siti Hasnah.[8]

Setelah lulus, Soeman diterima mengajar di HIS Siak Sri Indrapura, sebuah sekolah dasar berbahasa Belanda untuk kaum pribumi di Siak Sri Indrapura, Riau.[10] Soeman bertugas sebagai guru bahasa Melayu di sana selama tujuh tahun,[11] hingga pada tahun 1930 ia berkenalan dengan seorang guru muda asal Jawa yang terlibat dalam pergerakan nasional. Soeman bersama beberapa guru lainnya bergabung untuk berdiskusi dan memainkan lagu "Indonesia Raya" secara sembunyi-sembunyi, yang saat itu dilarang keras oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ketika aktivitas tersebut terendus pihak berwenang, Soeman dijatuhi sanksi mutasi tugas ke Pasir Pengaraian, Rokan Hulu, Riau. Kendati telah berulang kali mengajukan permohonan pindah, Soeman tetap bertahan di Pasir Pengaraian hingga masa pendudukan Jepang dimulai pada tahun 1942, dan pada akhirnya ia diangkat sebagai kepala sekolah di sana.[12]

Kehidupan pribadi

Soeman menikah dengan Siti Hasnah dan dikaruniai enam orang anak laki-laki—Syamsul Bahri, Syamsiar, Faharuddin, Mansyurdin, Burhanuddin, dan Rosman—serta dua orang anak perempuan, yaitu Sawitri dan Najemah Hanum.[5] Pernikahan keduanya bertahan hingga Soeman meninggal dunia pada 8 Mei 1999.[5]

Karier penulisan

Soeman mulai aktif menulis pada tahun 1923, tak lama setelah menyelesaikan pendidikannya.[13] Terinspirasi oleh ayahnya yang menanggalkan penggunaan nama marga Hasibuan di Bengkalis yang didominasi oleh masyarakat Melayu, ia memilih menggunakan nama pena Soeman Hs.[14] Ia mengirimkan naskah novel pertamanya, Kasih Tak Terlarai, ke penerbit milik pemerintah Balai Pustaka. Novel yang mengisahkan seorang pemuda yatim piatu yang kawin lari bersama kekasihnya tetapi harus menikahinya kembali dengan menyamar setelah sang kekasih pulang ke rumah keluarganya tersebut diterbitkan pada tahun 1929.[15] Soeman menerima imbalan sebesar 37 gulden atas penerbitan buku perdananya itu.[16]

250px-Pertjobaan_Setia_%282nd_edition%29%2C_cover.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sampul novel Pertjobaan Setia (edisi cetak ulang tahun 1955).

Karya tersebut disusul oleh novel Pertjobaan Setia pada tahun 1931, yang bercerita tentang seorang pemuda bernama Sjamsoeddin yang diwajibkan menunaikan ibadah haji sebelum diperkenankan meminang Hajjah Salwiah, putri seorang saudagar kaya. Sekembalinya Sjamsoeddin dari perjalanannya, ia mengalami musibah dan diperdaya oleh seorang pria licik yang menginginkan Salwiah. Namun, pada akhirnya sahabat Sjamsoeddin, Djamin, berhasil membongkar tipu muslihat tersebut sehingga Sjamsoeddin dan Salwiah dapat melangsungkan pernikahan.[17] Pada tahun berikutnya, dua edisi terjemahan dari novel-novel Soeman diterbitkan oleh Balai Pustaka; Kasih Tak Terlarai diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan judul Asih tan Kena Pisah oleh Soehardja, sedangkan Pertjobaan Setia diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda dengan judul Tjotjoba oleh Martaperdana.[18]

Soeman menerbitkan novel lainnya, Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan, pada tahun 1932. Novel ini menceritakan tokoh Sir Joon, seorang pemuda yang pertunangannya dengan Nona dibatalkan setelah ayah Nona, Gadi, tergiur tawaran mahar yang lebih tinggi dari pria lain. Ketika Nona dikabarkan diculik, Joon menawarkan jasanya untuk membantu melacak keberadaan gadis tersebut. Ia secara cerdik menanamkan kecurigaan antara Gadi dan calon suami baru Nona, hingga akhirnya rencana pernikahan itu pun turut dibatalkan. Setelah itu, Joon meninggalkan desa bersama Nona—yang sebenarnya telah ia bawa kabur dari rumahnya—dan mereka hidup bahagia di Singapura.[19] Untuk novel ini, yang kembali diterbitkan oleh Balai Pustaka, Soeman menerima honorarium sebesar 75 gulden.[20] Dalam beberapa dasawarsa berikutnya, buku ini menjadi karyanya yang paling populer,[21] serta diakui sebagai novel detektif pertama dalam kanon kesusastraan Indonesia.[22]

Antara tahun 1932 dan 1938, Soeman menulis dua novel lanjutan, yakni Kasih Tersesat (dimuat secara bersambung di majalah Pandji Poestaka pada 1932) dan Teboesan Darah (terbit dalam majalah Doenia Pengalaman pada 1939).[23] Novel yang disebut terakhir menandai kembalinya karakter Sir Joon, yang kala itu sempat pula dipinjam dan dimunculkan dalam cerita-cerita detektif karya penulis lain.[24] Soeman juga menerbitkan tiga puluh lima cerita pendek dan puisi, yang sebagian besar dimuat di majalah Pandji Poestaka, serta beberapa di majalah Pedoman Masjarakat dan Poedjangga Baroe.[25] Tujuh cerpen Soeman dari Pandji Poestaka kemudian dihimpun ke dalam buku Kawan Bergeloet, bersama dengan lima cerpen orisinal lainnya.[26] Melalui buku kumpulan cerpen yang terbit pada tahun 1941 ini, Soeman diakui sebagai salah satu perintis penulisan cerita pendek dalam sejarah sastra Indonesia modern.[27]

Pendudukan Jepang dan Revolusi Nasional Indonesia

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, Soeman diangkat menjadi penilik sekolah oleh pemerintah pendudukan. Ia segera terlibat dalam dunia politik setelah terpilih menjadi anggota Syu Sangi-kai (dewan perwakilan daerah bentukan Jepang) untuk wilayah Riau. Ia kelak mengenang bahwa karena ia terpilih lewat pemungutan suara dan bukan hasil penunjukan langsung oleh pihak Jepang—sehingga memiliki dukungan akar rumput yang kuat yang dapat dimanfaatkan untuk revolusi—ia merasa gerak-geriknya selalu diawasi secara ketat oleh militer Jepang.[28] Kondisi tersebut berlangsung hingga Jepang menyerah dan Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.[29]

Kendati Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah dibacakan pada 17 Agustus 1945, kabar kemerdekaan tersebut baru sampai ke Riau pada bulan September. Pada bulan-bulan berikutnya, Soeman terpilih sebagai anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Pasir Pengaraian yang baru dibentuk, dan belakangan dipercaya menjadi ketuanya. Dalam kedudukan tersebut, ia harus menjaga keseimbangan dan meredam ketegangan antara mantan pegawai pamong praja kolonial yang mengharapkan kembalinya Belanda dengan kalangan pemuda yang mendukung kemerdekaan; terlebih saat itu tentara Belanda mulai kembali mendarat di Jawa dan kontak senjata fisik telah meletus antara pasukan Sekutu dan kaum republikan di Surabaya. Pada tahun berikutnya, Soeman terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah untuk wilayah Riau yang berkedudukan di Pekanbaru.[30]

Menyusul meletusnya Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948—ketika pasukan Belanda menduduki ibu kota republik di Yogyakarta dan menawan sebagian besar jajaran kabinet Sukarno—Soeman diangkat menjadi komandan pasukan gerilya di Riau. Selain memimpin perlawanan bersenjata, ia diberi mandat untuk merekrut laskar-laskar baru guna menyokong perjuangan kaum republikan. Dalam menjalankan tugas ini, ia sangat terbantu oleh jejaring luas yang dimilikinya berkat profesinya sebagai guru selama bertahun-tahun; banyak di antara para pejuang gerilya yang dipimpinnya merupakan mantan murid-muridnya sendiri. Meski pasukannya berlengkapkan persenjataan yang sangat minim, Soeman memimpin mereka bertempur beberapa kali melawan serdadu pribumi yang bersekutu dengan pihak militer Belanda.[31]

Pendidik dan masa tua

Setelah revolusi fisik berakhir menyusul disepakatinya Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949, Soeman dipanggil kembali ke Pekanbaru dan ditunjuk sebagai kepala kantor perwakilan daerah Jawatan Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Tugas utamanya adalah menata ulang dan menghidupkan kembali sistem pendidikan di Riau pasca-tiga tahun masa pendudukan Jepang dan empat tahun masa revolusi. Bangku-bangku sekolah sempat dijadikan kayu bakar, gedung-gedung sekolah dibumihanguskan agar tidak dimanfaatkan oleh pihak lawan, dan sebagian besar anak-anak tidak dapat mengenyam pendidikan secara teratur. Di samping itu, jawatan pendidikan tidak memiliki anggaran yang memadai untuk membiayai rekonstruksi. Selama tiga tahun berikutnya, Soeman memimpin berbagai kegiatan gotong royong untuk memulihkan fasilitas pendidikan di Riau dengan mengandalkan swadaya serta sumbangan sukarela dari masyarakat.[32]

Langkah tersebut disusul dengan pembangunan infrastruktur pendidikan tingkat lanjut. Guna membantu para guru sekolah dasar meningkatkan kualifikasi pendidikan mereka, Soeman turut memprakarsai pendirian sekolah menengah pertama (SMP) swasta pada tahun 1953.[c] Pada tahun berikutnya, ia turut membidani berdirinya SMA Setia Dharma, Sekolah Menengah Atas pertama di Riau. Menteri Pendidikan Mohammad Yamin hadir dalam upacara peresmian tersebut, tempat Soeman membandingkan ketertinggalan situasi di Riau dengan kondisi di Aceh dan Sumatera Utara, serta secara blak-blakan menyatakan bahwa masyarakat Riau seolah-olah dianaktirikan.[d] Ia mendesak Yamin untuk mengirimkan guru-guru pegawai negeri demi menyokong kelangsungan SMA Setia Dharma. Kendati Yamin sempat tersinggung dengan retorika Soeman dan tidak menempatkan guru ke SMA Setia Dharma, ia menindaklanjutinya dengan menginstruksikan pembukaan SMA negeri pertama di Riau.[33]

Soeman terus berupaya mendirikan sekolah-sekolah baru di Riau. Pada akhir 1950-an, melihat pesatnya pembangunan sekolah oleh organisasi-organisasi Kristen, Soeman bersama sejumlah tokoh Muslim di Riau mulai memprakarsai pendirian sekolah-sekolah Islam dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Pada tahun 1961, Gubernur Riau Kaharuddin Nasution menemui Soeman dan memintanya bergabung ke dalam Badan Pemerintah Harian (BPH)[e] pemerintah provinsi.[f] Ia menerima tawaran tersebut, dan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) berhasil mendirikan Universitas Islam Riau.[34] Soeman memimpin langsung upacara peresmian universitas tersebut pada tahun 1962.[35]

Kendati telah pensiun resmi sebagai guru demi mengemban tugas di Badan Pemerintah Harian, sejak dekade 1960-an Soeman tetap aktif mengurus berbagai yayasan pendidikan. Ia menjabat sebagai direktur utama/ketua umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI), sekaligus ketua pengurus yayasan Setia Dharma, Yayasan Pendidikan Riau (YPR), dan Lembaga Sosial Budaya Riau. Ia juga terus memelihara hubungan erat dengan jajaran pemerintah provinsi; pada tahun 1966, ia resmi menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dan pada tahun 1976, atas rekomendasi Gubernur Arifin Achmad, ia menunaikan ibadah haji dengan pembiayaan dari pemerintah daerah.[g][36]

Soeman wafat di Pekanbaru pada 8 Mei 1999, setelah terus aktif mendedikasikan dirinya dalam berbagai lini dunia pendidikan di Riau hingga setahun sebelum kepergiannya.[27]

Proses kreatif dan gaya penulisan

Film pendek tentang Soeman oleh Yayasan Lontar (dalam bahasa Indonesia).

Soeman mengakui bahwa kisah-kisah petualangan karya Alexandre Dumas dan pengarang serupa—yang ia baca melalui edisi terjemahan—telah memantik minatnya pada genre petualangan dan fiksi detektif. Soeman tertarik dengan kepiawaian kisah-kisah tersebut dalam mengolah unsur ketegangan, yang membedakannya dari karya-karya pengarang sezaman yang kental dipengaruhi corak sastra tradisional seperti Marah Rusli.[37] Menurut tokoh kebudayaan Sutan Takdir Alisjahbana, dalam membangun unsur ketegangan, Soeman lebih condong meniru teknik cerita detektif Barat ketimbang mengadaptasikan gaya tersebut ke dalam latar alam Timur.[38] Kendati demikian, pengaruh sastra tradisional tetap tampak dalam karya-karyanya. Soeman menyebut bahwa unsur jenaka dalam cerpen-cerpennya banyak diilhami oleh aspek humor dalam sastra rakyat Melayu, seperti kisah dongeng "Lebai Malang".[37]

Penyair Eka Budianta mencatat bahwa tema yang kerap berulang dalam karya-karya Soeman adalah kekuatan cinta dan kemampuannya dalam mendobrak rintangan.[39] Soeman mengangkat kekuatan asmara dan pernikahan atas dasar cinta sebagai bentuk kritik terhadap kedudukan kaum perempuan dalam tatanan hukum adat tradisional. Di kalangan masyarakat Melayu Riau saat itu, praktik perjodohan atau kawin paksa merupakan hal yang lazim, dan perempuan terkadang dinikahkan dengan pria yang usianya jauh lebih tua daripada ayah mereka sendiri. Sebelum menikah, anak-anak gadis harus menjalani tradisi pingit sehingga tidak diperkenankan berinteraksi dengan laki-laki mana pun kecuali calon suami yang telah dipilihkan bagi mereka.[40] Dengan semangat yang sama, Soeman memanfaatkan novel Kasih Tak Terlarai untuk melontarkan kritik sosial atas perlakuan sewenang-wenang terhadap anak yatim piatu setelah diadopsi.[40]

Beberapa karakter dalam karya Soeman tidak digambarkan sebagai kaum pribumi, seperti tokoh Nona (nama yang lazim di kalangan etnis Tionghoa) dan Sir Joon (seorang peranakan Eurasia). Hal tersebut merupakan salah satu strategi untuk menarik minat pembaca dari berbagai latar belakang budaya, termasuk pembaca yang bermukim di Singapura.[41] Pemilihan tokoh luar ini juga berfungsi memperhalus kritik sosial yang dilontarkannya. Dalam sebuah wawancara, Soeman menuturkan: "Roman saya selalu mendobrak adat yang kaku. Nah, untuk menggambarkan itu, sengaja saya pilih tokoh orang asing, yang lebih diterima jika memberontak adat. Itu hanya strategi kepengarangan, biar cerita kita diterima."[42]

Diksi yang digunakan Soeman dalam cerpen-cerpennya sangat dipengaruhi oleh latar belakangnya di kawasan pesisir timur Sumatra, dengan perbendaharaan kosakata Melayu yang kaya serta minimnya pengaruh bahasa Jawa bila dibandingkan dengan pengarang sezamannya.[43] Kendati demikian, sebagaimana rekan-rekan seangkatannya pada era Poedjangga Baroe, ia menghindari penggunaan ungkapan-ungkapan khas sastra Melayu klasik yang klise seperti kata alkisah dan maka. Ia mengkritik gaya penulisan sastra lama yang bertele-tele dan berpanjang-panjang, memilih gaya pengungkapan yang lebih ringkas, padat, lugas, serta menghindari penggunaan kata-kata kiasan yang berlebihan.[44] Dalam sebuah artikel tahun 1936, Alisjahbana menulis bahwa di tangan Soeman, "bahasa Melayu lama yang telah kaku dan beku oleh karena telah tetap susunan dan acuannya, menjadi cair kembali".[h][45]

Warisan

250px-Soeman_HS_Library%2C_Pekanbaru%2C_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gedung Perpustakaan Soeman H.S. di Pekanbaru.

Karya-karya Soeman kerap dijadikan bahan ajar sastra bagi siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), khususnya di wilayah Riau, yang pada tahun 1970-an buku-bukunya dicetak dan disebarluaskan oleh pemerintah daerah setempat.[46] Salah satu cerpen Soeman, "Papan Reklame", dimuat dalam buku ajar terbitan Cornell University Press bagi pengajar asing bahasa Indonesia,[47] sedangkan HB Jassin memasukkan salah satu puisinya yang berjudul "Iman" ke dalam buku antologi Pudjangga Baroe (1963).[48] Pada tahun 1993, novel Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan diadaptasi menjadi serial sinetron televisi yang disutradarai oleh August Melasz.[49]

Menjelang akhir hayat Soeman, karya-karyanya mulai jarang dicetak ulang maupun diperbincangkan kembali,[50] dan sebuah profil yang dirilis oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Tanjungpinang pada tahun 2014 mendeskripsikan sosoknya sebagai pendidik dan sastrawan yang sempat terlupakan.[51] Kendati demikian, karya-karya Soeman tetap dihimpun dalam berbagai antologi sastra, dan pada tahun 2008 nama beliau diabadikan sebagai nama Perpustakaan Soeman H.S. di Pekanbaru. Gedung perpustakaan berlantai enam berdinding kaca yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Riau tersebut dirancang menyerupai bentuk alas baca Al-Qur'an sebagai lambang kebudayaan Melayu Islam.[52] Pada tahun 2010, Yayasan Sagang secara anumerta menganugerahkan Anugerah Sagang Kencana kepada Soeman atas dedikasi dan pengabdiannya dalam memelihara serta mengembangkan kebudayaan Melayu.[53]

Penilaian

Soeman kerap dikategorikan sebagai pengarang minor dari era Poedjangga Baroe. Pakar sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw, menulis bahwa kendati puisi-puisi Soeman masih mempertahankan bentuk yang konvensional,[54] cerita-cerita detektif karyanya "bersahaja tetapi memikat dan enak dibaca". Namun, ia memandang buku kumpulan cerpen Soeman, Kawan Bergeloet, sebagai sumbangsih kepenulisannya yang paling menarik bagi kesusastraan berkat sketsa-sketsa ceritanya yang "diamati dengan tajam dan digambarkan secara realistis".[3] Sementara itu, Alisjahbana memuji pembaruan bahasa Melayu yang dibawakan Soeman, tetapi menilai alur cerita gubahannya terkadang tidak konsisten dan kurang logis, dengan gaya penuturan yang "seperti kanak-kanak yang mengilatkan sekejap mata permainannya, tetapi segera menyembunyikannya pula untuk membangkitkan 'keinginan hendak tahu' pada temannya".[i] Ia menganggap karya-karya Soeman paling tepat dinikmati semata karena nilai hiburannya.[55]

Dalam film dokumenter untuk mengenang Soeman yang diproduksi oleh Yayasan Lontar,[56] Budianta menyimpulkan:

Karya-karyanya boleh dikata sedikit. Karya-karyanya boleh dikata kurang disukai, tidak terlalu monumental, tetapi kehadiran Soeman Hs sebagai penulis cerita humor dan penulis cerita detektif, itu tidak bisa diabaikan. Kalau kita mau bercerita tentang pelopor penulis humor atau pelopor cerita detektif, Soeman Hs itu bapaknya. Dia bisa dianggap bapak cerita humor dan detektif.

— Eka Budianta, dalam Nasution (1998, 11:30–12:08)

Daftar pustaka pilihan

  • Kasih Tak Terlarai (novel, 1929)
  • Pertjobaan Setia (novel, 1931)
  • Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan (novel, 1932)
  • Kasih Tersesat (novel, 1932)
  • Teboesan Darah (novel, 1939)
  • Kawan Bergeloet (kumpulan cerita pendek; 1941)

Catatan penjelas

  1. ↑ Tanggal kelahirannya tidak tercatat secara resmi. Soeman kelak menyatakan bahwa tahun kelahirannya diberitahukan oleh ayahnya, kendati ia sendiri tidak yakin akan ketepatannya (Kasiri 1993, hlm. 92).
  2. ↑ Soeman mengenang kembali dalam wawancara tahun 1994 bahwa ia dapat dikatakan telah membaca habis seluruh dari ratusan koleksi buku di perpustakaan sekolahnya (Nasution 1998, 7:30–7:50).
  3. ↑ Sebagian besar guru saat itu hanya memiliki latar belakang pendidikan setingkat sekolah dasar (Kasiri 1993, hlm. 102).
  4. ↑ Kutipan asli: "... kami di Riau seolah-olah dianaktirikan."
  5. ↑ Badan Pemerintah Harian; fungsinya saat itu menyerupai badan eksekutif pembantu pemerintah daerah/Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
  6. ↑ Menyusul kemerdekaan Indonesia, Riau awalnya merupakan bagian dari Provinsi Sumatra Tengah. Wilayah Sumatra Tengah kemudian dimekarkan menjadi tiga provinsi (Sumatra Barat, Jambi, dan Riau) berdasarkan Undang-Undang No. 61 Tahun 1958.
  7. ↑ Dalam sebuah wawancara pada tahun 1989, Soeman menuturkan bahwa ia menganggap rekomendasi dari Achmad tersebut sebagai bentuk permohonan maaf atas reaksi keras sang gubernur terhadap kritik-kritik yang pernah dilontarkan Soeman atas kebijakannya (Kasiri 1993, hlm. 117).
  8. ↑ Ejaan asli: "... bahasa Melajoe lama jang telah kakoe dan bekoe oleh karena telah tetap soesoenan dan atjoeannja, mendjadi tjair kembali..."
  9. ↑ Ejaan asli: "... seperti kanak-kanak jang mengilatkan sekedjap mata permainannja, tetapi segera menjemboenjikannja poela oentoek membangkitkan 'keinginan hendak tahoe' pada temannja."

Referensi

  1. ↑ Astuti, Indarti Yuni (2008). Ensiklopedi sastrawan Indonesia. Permata Equator Media. ISBN 9786028266437.
  2. ↑ "Melihat Sepeda Ontel Peninggalan Sastrawan Riau Soeman HS". Riau24. 22 November 2016. Diakses tanggal 5 Mei 2020.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)[pranala nonaktif]
  3. 1 2 Teeuw 2013, hlm. 73.
  4. ↑ Kasiri 1993, hlm. 91.
  5. 1 2 3 Pemerintah Provinsi, Riau. "Riwayat Hidup Soeman HS". www.riau.go.id. Diakses tanggal 17 Maret 2024.
  6. ↑ Tanjungpinang 2014 harvnb error: tanpa target: CITEREFTanjungpinang2014 (bantuan); Muhammad 2002, hlm. 201; Kasiri 1993, hlm. 93.
  7. ↑ Kasiri 1993, hlm. 92–93; Nasution 1998, 7:07.
  8. 1 2 Kasiri 1993, hlm. 94–95.
  9. ↑ Kasiri 1993, hlm. 107.
  10. ↑ Kasiri 1993, hlm. 95.
  11. ↑ Rampan 2000, hlm. 455; Eneste 1981, hlm. 92.
  12. ↑ Rampan 2000, hlm. 455; Kasiri 1993, hlm. 96–97.
  13. ↑ Kasiri 1993, hlm. 106.
  14. ↑ Muhammad 2002, hlm. 201.
  15. ↑ Eneste 1981, hlm. 92.
  16. ↑ Kasiri 1993, hlm. 111; Alisjahbana 1941, hlm. 7.
  17. ↑ Mahayana, Sofyan & Dian 1992, hlm. 23–24.
  18. ↑ Kasiri 1993, hlm. 111.
  19. ↑ Mahayana, Sofyan & Dian 1992, hlm. 33–34.
  20. ↑ Kasiri 1993, hlm. 112.
  21. ↑ Nasution 1998, 21:09–21:12.
  22. ↑ Kasiri 1993, hlm. 89.
  23. ↑ Rampan 2000, hlm. 455; Jassin 1963, hlm. 309
  24. ↑ Teeuw 2013, hlm. 72; Jedamski 2009, hlm. 397–398.
  25. ↑ Kratz 1988, hlm. 566–567.
  26. ↑ Balai Pustaka 1941, hlm. 3–4.
  27. 1 2 Rampan 2000, hlm. 455.
  28. ↑ Rampan 2000, hlm. 455; Kasiri 1993, hlm. 99.
  29. ↑ Kasiri 1993, hlm. 99.
  30. ↑ Kasiri 1993, hlm. 100.
  31. ↑ Rampan 2000, hlm. 455; Kasiri 1993, hlm. 100–101.
  32. ↑ Kasiri 1993, hlm. 101–102.
  33. ↑ Muhammad 2002, hlm. 201–202.
  34. ↑ Muhammad 2002, hlm. 202; Kasiri 1993, hlm. 104–105.
  35. ↑ Kasiri 1993, hlm. 105.
  36. ↑ Eneste 1981, hlm. 92; Kasiri 1993, hlm. 116–118
  37. 1 2 Kasiri 1993, hlm. 109–110.
  38. ↑ Alisjahbana 1941, hlm. 12.
  39. ↑ Nasution 1998, 9:12–9:57.
  40. 1 2 Kasiri 1993, hlm. 107–108.
  41. ↑ Kasiri 1993, hlm. 109.
  42. ↑ Muhammad 2002, hlm. 203.
  43. ↑ Rosidi 1968, hlm. 36.
  44. ↑ Kasiri 1993, hlm. 112–113.
  45. ↑ Alisjahbana 1941, hlm. 5.
  46. ↑ Kasiri 1993, hlm. 114.
  47. ↑ Wolff 1978, hlm. 161.
  48. ↑ Nasution 1998, 21:50; Jassin 1963, hlm. 310.
  49. ↑ Eneste 2001, hlm. 50.
  50. ↑ Muhammad 2002, hlm. 203; Nasution 1998, 3:41
  51. ↑ Tanjungpinang 2014. sfn error: tanpa target: CITEREFTanjungpinang2014 (bantuan)
  52. ↑ Tanjungpinang 2014 harvnb error: tanpa target: CITEREFTanjungpinang2014 (bantuan); Herawati & Yogiyanti 2015.
  53. ↑ Riau Pos 2015, Peraih Anugerah Sagang.
  54. ↑ Teeuw 2013, hlm. 47.
  55. ↑ Alisjahbana 1941, hlm. 9–10.
  56. ↑ "Biography of Suman Hs., 1904- | Southeast Asia Digital Library". sea.lib.niu.edu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 11 Juli 2022.

Karya yang dikutip

  • Alisjahbana, Sutan Takdir (1941). "Soeman Hs". Kawan Bergeloet [Playmate] (dalam bahasa Indonesian). Batavia: Balai Pustaka. hlm. 5–13. OCLC 20651467.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Balai Pustaka (1941). "Pengantar" [Foreword]. Kawan Bergeloet [Playmate] (dalam bahasa Indonesian). Batavia: Balai Pustaka. OCLC 20651467.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Eneste, Pamusuk, ed. (1981). Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern [Lexicon of Modern Indonesian Literature] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Gramedia. OCLC 8785600.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Eneste, Pamusuk (2001). Bibliografi Sastra Indonesia [Bibliography of Indonesian Literature] (dalam bahasa Indonesian). Magelang: Yayasan Indonesiatera. ISBN 978-979-9375-17-9. Diakses tanggal 13 Agustus 2011.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Herawati, Elly; Yogiyanti, Nadira Octova (28 Desember 2015). "Wisata Edukasi ke Perpustakaan Soeman HS Pekanbaru" [Educational Tourism to the Soeman HS Library, Pekanbaru]. VIVA.co.id (dalam bahasa Indonesian). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-04-16. Diakses tanggal 16 April 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Jassin, HB (1963). Pudjangga Baru Prosa dan Puisi [Pudjangga Baru Prose and Poetry] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Gunung Agung. OCLC 9399495.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Jedamski, D.A. (2009). "The Vanishing Act – Sherlock Holmes in Indonesia's National Awakening". Dalam Jedamski, D.A. (ed.). Chewing Over the West: Occidental Narratives in Non-Western Readings (PDF). Cross/Cultures. Vol. 119. Amsterdam: Rodopi. hlm. 349–379. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2012-09-03. Diakses tanggal 3 September 2012.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Kasiri, Julizar (1993). "Soeman Hs: Guru yang Berjiwa Guru" [Soeman Hs: A Teacher with the Soul of a Teacher]. Memoar: Senarasi Kiprah Sejarah [Memoir: A Narration of History] (dalam bahasa Indonesian). Vol. 3. Jakarta: Grafiti Press. hlm. 89–118. ISBN 978-979-444-274-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Kratz, Ernst Ulrich (1988). A Bibliography of Indonesian Literature in Journals: Drama, Prose, Poetry. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ISBN 978-979-420-108-4.
  • Mahayana, Maman S.; Sofyan, Oyon; Dian, Achmad (1992). Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern [Summaries and Commentary on Modern Indonesian Novels] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Grasindo. ISBN 978-979-553-123-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Muhammad, Aulia A (2002). Bayang Baur Sejarah: Sketsa Hidup Penulis-penulis Besar Dunia [The Blending Shadows of History: Sketches of the Lives of the World's Greatest Writers] (dalam bahasa Indonesian). 2002: Tiga Serangkai. ISBN 978-979-668-401-4.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Lokasi (link)
  • Nasution, Arswendy (1998). Soeman Hasibuan (streamed video) (dalam bahasa Indonesian). Lontar Foundation. OCLC 56795585. {{cite AV media}}: |ref=harv tidak validPemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • "Peraih Anugerah Sagang dan Sagang Kencana Diumumkan" [Recipients of the Sagang and Sagang Kencana Award Announced]. Riau Pos (dalam bahasa Indonesian). 12 Oktober 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-04-16. Diakses tanggal 16 April 2016.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Rampan, Korrie Layun (2000). Leksikon Susastra Indonesia [Lexicon of Indonesian Literature] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Balai Pustaka. ISBN 978-979-666-358-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • Rosidi, Ajip (1968). Tjerita Pendek Indonesia [Indonesian Short Stories] (dalam bahasa Indonesian). Jakarta: Gunung Agung. OCLC 348467.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  • "Soeman HS: Tokoh Sastra dan Pendidikan yang Terlupakan" [Soeman HS: A Forgotten Figure in Literature and Education] (dalam bahasa Indonesian). Tanjungpinang Center for Preserving Cultural Values. 6 Juni 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2016-04-12. Diakses tanggal 12 April 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Teeuw, A. (2013). Modern Indonesian Literature. Leiden: KITLV Press. ISBN 978-94-015-0768-4.
  • Wolff, John Ulrich (1978). Indonesian Readings. Ithaca: Cornell University Press. OCLC 923614542.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan