Senin, 26 Oktober 2026
14:49 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Shalih bin Mirdas

Shalih bin Mirdas

Bagikan:
Shalih bin Mirdas
Bagian depan koin emas dengan tulisan Arab
Dinar emas dicetak di Aleppo atas nama Shalih bin Mirdas dan mengakui kekuasaan khalifah Fathimiyah az-Zahir, 1028/29 M
Emir Aleppo
BerkuasaJuni 1025–Mei 1029
PendahuluTsu'ban bin Muhammad
PenerusMu'izz ad-Daulah Tsimal
Syibl ad-Daulah Nashr
MeninggalMei 1029
Al-Uqhuwanah, pantai timur Danau Tiberias
AyahMirdas bin Idris
IbuRabab al-Zawqaliyya
PasanganTarud
KeturunanSyibl ad-Daulah Nashr
Mu'izz ad-Daulah Tsimal
Asad ad-Daulah Atiyya
Nama lengkap
Abū ʿAlī Ṣāliḥ bin Mirdās
Nama takhta
Asad ad-Daulah (Singa Negara)
SukuBanu Kilab
DinastiMirdas
AgamaIslam Syiah

Abu Ali Shalih bin Mirdas (bahasa Arab:ابو علي صالح بن مرداس, translit. Abū ʿAlī Shāliḥ ibn Mirdās), juga dikenal dengan laqab (julukan kehormatan) Asad al-Dawla ("Singa Negara"), adalah pendiri dinasti Mirdas dan emir Aleppo dari tahun 1025 hingga kematiannya pada Mei 1029. Menurut sejarawan Suriah Ibnu al-Adim (meninggal 1262) dan Ibnu Khallikan (meninggal 1282), nama lengkap dan silsilah Shalih adalah Abū ʿAlī Ṣāliḥ bin Mirdās bin Idrīs bin Nāṣir bin Ḥumaid bin Mudrik bin Syaddād bin ʿUbaid bin Qais bin Rabīʿah bin Kaʿab bin ʿAbdullāh bin Abū Bakr bin Kilāb bin Rabīʿah bin ʿĀmir bin Ṣhaʿṣhaʿah bin Muʿāwiyah bin Bakr bin Hawāzin bin Manṣūr bin ʿIkrimah bin Khaṣafah bin Qays ʿAylān. Pada puncaknya, emirat (kerajaannya) mencakup sebagian besar wilayah barat Jazirah (Mesopotamia Atas), utara Suriah dan beberapa kota Suriah tengah. Meskipun mengalami beberapa kali gangguan, keturunan Shalih memerintah Aleppo selama lima dekade berikutnya.

Shalih memulai kariernya pada tahun 1008, ketika ia merebut benteng sungai Efrat di ar-Rahbah. Pada 1012, dia dipenjara dan disiksa oleh emir Aleppo, Mansur bin Lu'lu'. Dua tahun kemudian dia melarikan diri, menangkap Mansur dalam pertempuran dan membebaskannya untuk berbagai konsesi, termasuk setengah dari pendapatan Aleppo. Ini menjadikan Shalih sebagai emir tertinggi dari sukunya, Bani Kilab, yang kepala sukunya banyak yang telah meninggal di ruang bawah tanah Mansur. Dengan prajurit Badui miliknya, Shalih merebut serangkaian benteng di sepanjang Efrat, termasuk Manbij dan Raqqa, pada tahun 1022. Dia kemudian membentuk aliansi dengan Bani Kalb dan Bani Thayyi' dan mendukung perjuangan mereka melawan Fathimiyah dari Mesir. Selama pemberontakan suku ini, Shalih mencaplok kota-kota Suriah tengah Homs, Baalbek dan Sidon, sebelum menaklukkan Aleppo yang dikuasai Fatimiyah pada tahun 1025, dan berhasil "menyukseskan rencana yang memandu nenek moyangnya, Bani Kilab selama satu abad", menurut sejarawan Thierry Bianquis.

Shalih mendirikan administrasi yang terorganisir dengan baik atas wilayah kekuasaannya yang berbasis di Aleppo. Secara militer, ia mengandalkan Banu Kilab, sambil memercayakan administrasi fiskal kepada wazir Kristen lokalnya, mengawasi aḥdāts (milisi perkotaan) di bawah Salim bin Mustafad, dan masalah peradilan kepada qāḍī (hakim kepala) Syiah. Pemerintahannya secara resmi ditoleransi oleh Fatimiyah, yang secara formal dipatuhi olehnya. Aliansinya dengan Bani Tayy akhirnya membuatnya terlibat konflik dengan jenderal Fatimiyah, Anusytakin ad-Dizbari, dan membuatnya terbunuh oleh pasukan ad-Dizbari dalam pertempuran di dekat Danau Tiberias. Shalih digantikan oleh putranya Nashr dan Tsimal.

Bibliografi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan