Rabu, 28 Oktober 2026
08:40 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Seni tanah

Seni tanah

Bagikan:
250px-Spiral-jetty-from-rozel-point.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Spiral Jetty, karya seni tanah oleh Robert Smithson, di Rozel Point, Utah, Amerika Serikat, difoto pada April 2005.

Seni tanah (dalam bahsa Inggris : land art) juga dikenal sebagai Earth art merupakan gerakan seni yang berkembang pada 1960-an dan 1970-an[1] dan banyak dikaitkan dengan Britania Raya serta Amerika Serikat, meskipun praktiknya juga muncul di berbagai negara lain.[2][3][4] Gerakan ini memperluas batas seni rupa dengan memanfaatkan material alami dan menempatkan karya langsung pada lanskap terbuka. Material yang digunakan umumnya mencakup tanah, batu, vegetasi, dan air yang tersedia di lokasi, sementara lokasi pembuatan karya sering berada jauh dari pusat permukiman. Walaupun sejumlah karya sulit diakses, dokumentasi fotografis biasanya ditampilkan kembali di galeri seni perkotaan.[5][6]

Gerakan ini terkait dengan penolakan terhadap komersialisasi produksi seni dan berhubungan dengan meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan. Kemunculannya sejalan dengan meningkatnya minat untuk melepaskan diri dari kehidupan urban serta meningkatnya penghargaan terhadap wilayah pedesaan, termasuk munculnya kecenderungan kultural yang menempatkan Bumi sebagai ruang hidup bersama bagi manusia.

Bentuk

Perkembangan gerakan ini pada 1960-an dan 1970-an. Pada periode tersebut, bentuk seni tanah berkembang karena karyanya dianggap tidak mudah diperdagangkan, berbeda dengan objek seni yang diproduksi massal pada masa itu.[2] Para perintis seni tanah menolak museum dan galeri sebagai ruang utama pembuatan karya, kemudian menciptakan proyek lanskap berskala besar yang berada di luar batas karya patung yang dapat dipindahkan serta di luar mekanisme pasar seni komersial, meskipun dokumentasi visual tetap dipresentasikan di ruang pamer. Seni tanah memperoleh pengaruh dari seni minimal, seni konseptual, dan berbagai gerakan modern seperti De Stijl, Kubisme, serta minimalisme, termasuk pengaruh dari karya Constantin Brâncuși dan Joseph Beuys.[7] Salah satu contoh awal seni tanah adalah Grass Mound karya Herbert Bayer di Aspen, Colorado pada tahun 1955.[8] Beberapa seniman terkait seni tanah sebelumnya terlibat dalam seni minimal dan seni konseptual. Desain Isamu Noguchi pada 1941 untuk Contoured Playground di New York sering dipandang sebagai pendahulu seni tanah, meskipun Noguchi sendiri menyebut karyanya sebagai patung. Pengaruh gagasan dan pendekatannya tampak dalam perkembangan seni tanah, arsitektur lanskap, dan seni lingkungan kontemporer.[7]

Referensi

  1. ↑ Tate. "Land art". Tate (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-11-21.
  2. 1 2 Kastner, Jeffrey (2010-06-23). Land and Environmental Art (dalam bahasa Inggris). Phaidon Press. ISBN 978-0-7148-5643-8.
  3. ↑ Dempsey, Amy (2002). Art in the modern era: styles, schools, movements. New York: Harry N. Abrams. ISBN 978-0-8109-4172-4.
  4. ↑ "Earth Art Movement Overview". The Art Story. Diakses tanggal 2025-11-21.
  5. ↑ Hosmer, Katie (2013-11-06). "Unexpected Land Art Beautifully Formed in Nature". My Modern Met (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-21.
  6. ↑ "http://www.land-arts.com/Land_art.html". www.land-arts.com. Diakses tanggal 2025-11-21.{{cite web}}: Tautan eksternal dalam |title=
  7. 1 2 Weilacher, Udo, ed. (1999). Between landscape architecture and land art. Basel: Birkhäuser. ISBN 978-3-7643-6119-8.
  8. ↑ "Grass Mound | AspenModern". www.aspenmod.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-21.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan