Minggu, 04 Oktober 2026
10:27 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Seni Reak

Bagikan:

Seni Reak merupakan salah satu kesenian masyarakat Sunda yang berbentuk seni musik dan seni tari Kuda Lumping dan barong singa barong dengan penutup karung goni.

Sejarah

250px-Seni_reak.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seni Reak berawal dari seni Reog Ponorogo

terdapat dua versi keberadaan seni Reak di Jawa Barat, namun dari seluruh versi yang ada masih berkaitan dengan barong asal Ponorogo, Jawa Timur atau Reog Ponorogo.

Versi Pajajaran

Seni Reak merupakan tiruan dari sindiran yang dibuat oleh ki Ageng Surya Alam kepada Raja Majapahit berupa barongan hingga mengakibatkan perang, kabar tentang raja Majapahit yang disindir oleh demangnya terdengar ke seluruh nusantara termasuk kerajaan Pajajaran pada abad ke 15 yang kini dikenal dengan reog.

Karena Kerajaan Pajajaran pernah mengalami tragedi majapahit, maka raja pajajaran membuat sindiran serupa yang dimainkan di istana Pajajaran untuk merendahkan raja Majapahit,

Versi Cirebonan

Seni Reak dibawa oleh orang-orang ponorogo pada abad ke 16-17, jawa timur pada zaman kesultanan Cirebon yang juga berhubungan baik dengan kesultanan Mataram setelah majapahit runtuh. Orang-orang ponorogo yang ahli dalam perang berada di tanah sunda untuk memberikan penjagaan kesultanan Cirebon di daerah-daerah yang rawan untuk melakukan pemberontakan kepada kesultanan Cirebon.

Adapula yang menyebutkan asal kata Seni Reak berasal dari seni Reog, namun dalam vocal orang sunda yang lebih ke "A" menjadikan penyebutan Reog menjadi Reag ataupun Reak. Hingga juga digunakanlah pada seni reak sebuah makna filosofi reog ponorogo yang disusun pemerintah kabupaten ponorogo tahun 1990an, bahwa reog berasal dari kata riyoqun bahasa arab yang berarti Husnul qotimah.

Adapula yang menyebutkan Kata Reak berasal dari eak-eakan ( sahuta-sahutan pemain kesenian itu supaya ramai)

Singa Barong atau singa lodra yang merupakan tokoh dari seni reak dari kerajaan lodaya memengaruhi nama-nama tiap grup seni reak menggunakan nama lodaya maupun lodra.

Bentuk

Bentuk dari reak berupa barong hewan singa dengan cat warna merah yang di tambahkan rambut-rambut tiruan yang kemudian diberi penutup kain goni pada penutupnya. kain goni hingga saat ini masih di guakan sebagai pengingat kepada generasi muda bahwa hidup pada era kolonial belanda begitu susah.

Pementasan

alur pertunjukan reak biasanya disuguhkanlah tarian reak yang di iringi musik tradisional di tanah lapang maupun berjalan di jalanan, serta tarian kuda lumping di bawakan oleh remaja putra, maka tidak heran pemain dan penonton ikut kerasukan roh leluhur.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan