Rabu, 28 Oktober 2026
05:58 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Sejarawan Whig

Bagikan:

Sejarawan Whig adalah istilah yang merujuk pada sekelompok penulis sejarah yang menafsirkan perjalanan sejarah manusia sebagai suatu proses kemajuan yang bersifat linear, progresif, dan tidak terelakkan. Dalam perspektif ini, sejarah dipandang sebagai gerak evolutif dari masa lampau yang dianggap gelap atau terbelakang menuju masa kini yang lebih rasional dan tercerahkan. Konsep tersebut pertama kali dikemukakan oleh Herbert Butterfield dalam karya klasiknya The Whig Interpretation of History (1931), yang digunakan untuk mengkritik kecenderungan sejarawan Inggris abad ke-19 dalam menulis sejarah berdasarkan pandangan politik kaum Whig, partai yang berpengaruh di Inggris pada abad ke-17 hingga ke-19. Cara pandang ini menekankan narasi kemenangan nilai-nilai modernitas, kebebasan, dan kemajuan politik serta sosial atas kekuatan konservatif dan reaksioner yang dianggap menghambat perkembangan peradaban.[1][2]

Ciri-ciri Penafsiran Sejarah Whig

Penafsiran sejarah Whig memiliki sejumlah karakteristik utama yang membedakannya dari pendekatan historiografis lainnya. Pertama, ia bersifat teleologis, yakni memandang sejarah sebagai proses yang bergerak menuju suatu tujuan akhir yang dianggap positif, seperti kemajuan moral, rasionalitas, atau kebebasan politik. Kedua, pendekatan ini menitikberatkan pada gagasan kemajuan, dengan menampilkan sejarah sebagai rangkaian peristiwa yang menunjukkan perkembangan masyarakat secara bertahap dan progresif dari masa lalu menuju keadaan yang lebih maju.[1]

Selain itu, penafsiran Whig sering kali memperlihatkan keterikatan dengan nilai-nilai modern, di mana peristiwa masa lalu ditafsirkan melalui lensa pandangan dan norma kontemporer, baik secara sadar maupun tidak. Ciri lainnya adalah kecenderungan untuk menyederhanakan kompleksitas sejarah, karena narasi Whig kerap mengabaikan kontradiksi, kegagalan, serta dinamika sosial yang tidak sesuai dengan alur kemajuan yang diidealkan. Akibatnya, sejarah dipresentasikan sebagai kisah linear dan tak terhindarkan tentang kemenangan akal dan kemajuan manusia.[2]

Referensi

  1. 1 2 Torr, Christopher (2000-03-31). "The Whig interpretation of history". South African Journal of Economic and Management Sciences. 3 (1): 52–58. doi:10.4102/sajems.v3i1.2598. ISSN 2222-3436.
  2. 1 2 Butterfield, H (1965). "THE WHIG INTERPRETATION OF HISTORY" (PDF). Diakses tanggal 2025-11-2.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan