Selasa, 20 Oktober 2026
11:21 WIB
TERKINI
Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau
Selokan Mataram

Selokan Mataram

salah satu sungai di dunia

Bagikan:
Selokan Mataram
330px-Selokan_Mataram_2023.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Selokan Mataram di sekitar Randugunting pada tahun 2023
LokasiDaerah Istimewa Yogyakarta
NegaraIndonesia
Spesifikasi teknis
Panjang30,8 km (19,1 mil)
StatusDigunakan
Sejarah
Nama sebelumnyaKanal Yoshiro
Pemilik sekarangKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Selesai1944
Geografi
Titik awalBendung Karangtalun, Bligo, Ngluwar, Magelang
Titik akhirRandugunting, Tamanmartani, Kalasan, Sleman
Koordinat awal7°39′58″S 110°16′00″E / 7.6660974°S 110.2667599°E / -7.6660974; 110.2667599
Koordinat akhir7°46′03″S 110°29′02″E / 7.767407°S 110.4840105°E / -7.767407; 110.4840105
250px-Selokan_Mataram_dam_and_canal_in_Yogyakarta%2C_Indonesia.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bendung Ancol, sumber air dari Selokan Mataram

Selokan Mataram adalah sebuah kanal irigasi sepanjang 31 kilometer di Daerah Istimewa Yogyakarta yang kini menjadi salah satu dari tiga saluran irigasi primer di Daerah Irigasi Karangtalun.

Selokan Mataram dulu dikenal dengan nama Kanal Yoshiro dan membentang dari Bendung Ancol hingga ke Sungai Opak di Prambanan. Selokan ini mulai dioperasikan pada tahun 1944.[1]

Sejarah

Selokan Mataram sepanjang 30,8 km ini dibangun pada masa pendudukan Jepang.[2] Saat itu, Jepang menggalakkan romusha di Indonesia untuk mengeksploitasi sumber daya alam maupun manusia untuk membangun sarana dan prasarana guna mendukung upaya perang Jepang melawan Sekutu di Pasifik.

Raja Yogyakarta saat itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX kemudian memikirkan cara untuk menghindarkan warga Yogyakarta dari romusha. Sultan lalu melaporkan kepada Jepang bahwa Yogyakarta adalah daerah yang minus dan kering, serta hasil buminya hanya berupa singkong dan gaplek.[3] Sultan pun mengusulkan kepada Jepang agar warga Yogyakarta diperintah untuk membangun sebuah kanal irigasi guna menghubungkan Sungai Progo di sisi barat dan Sungai Opak di sisi timur. Dengan kanal irigasi tersebut, lahan pertanian di Yogyakarta yang saat itu kebanyakan masih berupa lahan tadah hujan, diharapkan dapat diairi pada musim kemarau, sehingga dapat ditanami padi dan dapat memenuhi kebutuhan pangan dari warga Yogyakarta maupun pasukan Jepang.[4]

Usul Sultan tersebut kemudian disetujui oleh Jepang, sehingga warga Yogyakarta tidak perlu mengikuti romusha, karena difokuskan untuk membangun sebuah kanal irigasi yang kemudian dikenal dengan nama Kanal Yoshiro dan kini dikenal dengan nama Selokan Mataram.[2][5]

Referensi

  1. ↑ Chairunnisa, Ninis (2020-10-16). "Selokan Mataram Legendaris di Yogya Amblas, Dibangun Sejak Penjajahan Jepang". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-25.
  2. 1 2 Sujarweni, V.W. (2017). Menelusuri Jejak Mataram Islam di Yogyakarta. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia. hlm. 120–121. ISBN 9786232447356.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Roem, Mohammad (2013). Takhta Untuk Rakyat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 134. ISBN 9786020371238.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Moedjanto, G. (1994). Kasultanan Yogyakarta & Kadipaten Pakualaman : tinjauan historis dua praja kejawen antara 1755-1992 (Edisi Cet. 1). Yogyakarta: Penerbit Kanisius. ISBN 979-497-137-5. OCLC 32021291.
  5. ↑ Sejarah selokan Mataram dari kompas.com
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan