Minggu, 01 November 2026
10:38 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Robert Cribb

Bagikan:

Pembuka

Robert Bridson Cribb adalah penulis dan akademisi Australia kelahiran 1957 yang bergerak di bidang area studies, sejarah, dan politik. Ia adalah sejarawan Indonesia modern dengan minat yang lebih luas ke bagian Asia lainnya. Ia kini profesor emeritus Sejarah Asia di Australian National University (ANU), dan menjadi Fellow Australian Academy of the Humanities sejak 2006. Bersama tiga ko-penulis, ia memenangi General History Prize di NSW Premier's History Awards untuk buku Japanese War Criminals.[1][2]

Kehidupan awal dan pendidikan

Cribb lahir di Brisbane dalam keluarga akademisi, dan menjadi satu-satunya yang memilih humaniora alih-alih botani. Ia menghabiskan banyak waktu masa kecil menjelajah hutan dan Great Barrier Reef bersama orang tuanya yang ahli botani. Ia lulus Honours Sejarah dari University of Queensland, lalu meraih PhD Sejarah Indonesia dari SOAS, London. Tesis doktoralnya membahas Jakarta pada masa revolusi Indonesia 1945-1949.[3][1] [2]

Robert Cribb
Nama lahir Robert Bridson Cribb
Lahir 1957, Brisbane, Australia
Kebangsaan Australia
Almamater University of Queensland (S1); SOAS, University of London (PhD)
Bidang Sejarah Asia, sejarah Indonesia
Institusi ANU; University of Queensland; Griffith University; Nordic Institute of Asian Studies
Karya terkenal Gangsters and Revolutionaries; Japanese War Criminals
Penghargaan NSW Premier's History Award (General History)

Karier

Cribb memulai karier pada 1983 sebagai dosen Politik dan Sejarah Indonesia Kontemporer di Griffith University, pindah ke Australian National University (ANU) pada 1987, ke University of Queensland pada 1990, dan kembali ke ANU pada 2003. Di University of Queensland ia menjadi lecturer (1990–92), senior lecturer (1993–96), lalu reader; ia juga fellow in residence di Netherlands Institute for Advanced Study , Wassenaar (1988–89). Di Nordic Institute of Asian Studies, Kopenhagen, ia menjadi research professor (1996–97) dan direktur (1997–99). Di ANU ia sempat memimpin Department of Pacific and Asian History selama tiga tahun dan bertahan hingga pensiun pada 2022. Ia juga pernah menjadi dosen tamu di Universitas Leiden.[4][2][3]

Penelitian

Revolusi Indonesia dan kekerasan massal

Cribb paling dikenal sebagai ahli kekerasan dan pembunuhan massal, yang bermula dari buku pertamanya tentang milisi rakyat Jakarta pada revolusi 1945-1949. Ia dinilai sebagai perintis kajian pembantaian Indonesia 1965-66. Karya-karyanya di bidang ini mencakup buku suntingan The Indonesian Killings of 1965-1966 dan artikel "Genocide in Indonesia, 1965-1966". [4]

Kejahatan perang Jepang

Cribb dan Sandra Wilson menerima beberapa hibah ARC Discovery tentang kejahatan perang Jepang, misalnya proyek pemulangan dan pembebasan penjahat perang Jepang 1946-1958 (2011-13), bersama Beatrice Trefalt) dan proyek tentang kejahatan perang militer Jepang 1941-1945 (2015-17). Buku hasilnya mengkaji semua pengadilan penjahat perang Jepang di berbagai pengadilan yang tersebar secara geografis.[5] [6]

Bidang lain

Minat risetnya juga meliputi penyelundupan opium, peta bersejarah, sejarah konservasi alam, pengadilan kejahatan perang, dan perkembangan tatanan internasional. Ia menulis Historical Atlas of Indonesia (2000) dan, bersama Li Narangoa, Historical Atlas of Northeast Asia, 1590-2010 (2014), serta Wild Man from Borneo (2014) tentang sejarah budaya orangutan.[7] [8]

Penghargaan dan kehormatan

Buku Japanese War Criminals (2017) memenangi NSW Premier's Prize in History, sedangkan Wild Man from Borneo menjadi finalis di penghargaan yang sama. Daftar pemenang NSW Premier's History Awards mencantumkan buku itu pada kategori General History dengan tahun 2017. Juri menyebut buku itu "exceptional" dan pencapaian yang luar biasa. Cribb Fellow Australian Academy of the Humanities sejak 2006, dan memimpin Asian Studies Section-nya pada 2010-2012 serta 2019-2021. Ia dua kali menjabat Presiden Asian Studies Association of Australia pada 2004-2007, dan kemudian dianugerahi Honorary Life Membership asosiasi itu. Risetnya didukung delapan ARC Discovery Grant, satu ARC Large Grant, dan satu Linkage Grant.[4] [9]

Pengajaran dan peran lain

Cribb mengajar berbagai topik sejarah dan politik Asia, termasuk cara mendeteksi kebohongan dan propaganda dalam wacana publik. Ia juga menyelenggarakan kursus intensif gratis membaca bahasa Belanda untuk peneliti di Australia, dan diundang menjadi editor volume periode 1800-sekarang dari Second Cambridge History of Southeast Asia. Ia juga menjadi Viking Resident Historian yang sering memberi kuliah di kapal pesiar perusahaan itu.[10] [4]

Referensi

  1. 1 2 "Robert Cribb". Coral Bell School of Asia Pacific Affairs (dalam bahasa Inggris). 2026-08-12. Diakses tanggal 2026-09-29.
  2. 1 2 3 "Cribb, Robert (Bridson) | Encyclopedia.com". www.encyclopedia.com. Diakses tanggal 2026-09-29.
  3. 1 2 "Robert Cribb". Coral Bell School of Asia Pacific Affairs (dalam bahasa Inggris). 2026-08-12. Diakses tanggal 2026-09-29.
  4. 1 2 3 4 "Robert Cribb". Asian Studies Association of Australia (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 2026-09-29.
  5. ↑ "Bell School historian receives top history prize". Coral Bell School of Asia Pacific Affairs (dalam bahasa Inggris). 2021-02-16. Diakses tanggal 2026-09-29.
  6. ↑ News, A. A. H. (2023-06-21). "Justice for war crimes: lessons from the past". Australian Academy of the Humanities (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 2026-09-29.{{cite web}}: |last= memiliki nama generik
  7. ↑ "Robert Cribb". Asian Studies Association of Australia (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 2026-09-29.
  8. ↑ "Robert Cribb". Viking TV (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-09-29.
  9. ↑ "Bell School historian receives top history prize". Coral Bell School of Asia Pacific Affairs (dalam bahasa Inggris). 2021-02-16. Diakses tanggal 2026-09-29.
  10. ↑ "Robert Cribb". Viking TV (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-09-29.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan