Rabu, 21 Oktober 2026
17:49 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama
Revolusi Agustus

Revolusi Agustus

Bagikan:
Revolusi Agustus
330px-Rencontre_au_Grand_Op%C3%A9ra_de_Hano%C3%AF_le_17_ao%C3%BBt_1945.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kebangkitan di ibukota Hanoi pada 17 Agustus 1945 (Foto:Arsip)
Tanggal14 Agustus 1945 – 2 September 1945
Lokasi
Hasil
Pihak yang terlibat

 Jepang
Vietnam Kekaisaran Vietnam


Prancis Prancis

Vietnam Utara Việt Minh
Didukung oleh:
Amerika Serikat Amerika Serikat

Republik Tiongkok Republik Tiongkok

Revolusi Agustus (bahasa Vietnam:Cách mạng tháng Tám), yang juga dikenal sebagai Kebangkitan Utama Agustus (bahasa Vietnam:Tổng Khởi nghĩa tháng Tám), adalah sebuah revolusi yang diluncurkan oleh Việt Minh (bahasa Indonesia:Liga untuk Kemerdekaan Vietnam) melawan pemerintahan kolonial Prancis di Vietnam, dan Kekaisaran Vietnam dari tanggal 16 hingga 30 Agustus 1945. Kekaisaran Vietnam dipimpin oleh Dinasti Nguyễn dan didukung oleh Jepang.

Dibentuk pada tahun 1941, Viet Minh berperan sebagai front anti-imperialis yang dipimpin oleh Partai Komunis Indochina, serta menghimpun dukungan luas dari berbagai kalangan lintas batas politik demi tujuan kemerdekaan Vietnam. Revolusi ini juga melibatkan faksi-faksi yang tidak bernaung di bawah Viet Minh.

Pasukan Jepang di Vietnam pada umumnya mengambil sikap tidak campur tangan terhadap revolusi tersebut saat mereka secara de facto menyerah kepada Sekutu dalam Perang Dunia II. Meskipun sebagian besar bersikap pasif, sebuah konfrontasi terjadi di Thai Nguyen pada tanggal 20 Agustus, ketika pasukan Viet Minh mengepung garnisun Jepang. Kekaisaran Vietnam yang berumur pendek mendapati dirinya lumpuh tanpa kekuatan militer yang efektif untuk mempertahankan kendali. Menyadari besarnya dukungan rakyat terhadap Viet Minh serta aparatur administrasinya yang terorganisasi, Kaisar Bao Dai maupun kabinetnya memilih untuk tidak melawan proses pengalihan kekuasaan. Akibatnya, transisi kekuasaan di berbagai pusat perkotaan utama berlangsung dengan sedikit pertumpahan darah.

Dinasti Nguyen beserta pemerintahan Tran Trong Kim runtuh ketika Kaisar Bao Dai turun takhta di Hue pada tanggal 30 Agustus 1945. Ho Chi Minh, pemimpin Komite Pembebasan Nasional Vietnam, kemudian memproklamasikan berdirinya Republik Demokratik Vietnam (DRV) pada tanggal 2 September 1945 di Hanoi. Namun, negara baru tersebut belum mendapatkan pengakuan internasional, sementara kekuatan Sekutu tetap mengakui kedaulatan Prancis atas Indochina.

Selama dua minggu, para pasukan yang berada dibawah pimpinan Việt Minh memperluas kekuasaan di kebanyakan desa dan kota di seluruh Utara, Tengah dan Selatan Vietnam, termasuk Hanoi, dimana Presiden Hồ Chí Minh mengumumkan pembentukan Republik Demokrat Provisional, Hue, Saigon, kecuali di kotapraja Móng Cái, Vĩnh Yên, Hà Giang, Lào Cai, Lai Châu,.[1] Pada 2 September 1945, Ho mendeklarasikan Kemerdekaan Vietnam. Revolusi Agustus membentuk sebuah seragam pemerintahan untuk negara tersebut.

Langkah merangkul kalangan non-komunis—termasuk birokrasi didikan kolonial dan para pejabat Kekaisaran Vietnam—turut membantu Viet Minh meraih kekuasaan pada tahun 1945. Dengan mengedepankan platform nasionalis yang inklusif, Viet Minh berhasil memobilisasi berbagai kelompok sosial yang beragam, meskipun sejumlah kelompok nasionalis non-komunis tetap menentang kepemimpinan mereka, terutama di wilayah Mekong di Selatan dan beberapa kota di pelosok Utara tempat kendali Viet Minh masih terbatas. Dalam perebutan kekuasaan yang menyusul kemudian, Viet Minh yang dipimpin oleh ICP menindak kelompok Trotskyis serta partai-partai nasionalis non-komunis. Hal ini semakin memecah belah Vietnam ke dalam kubu-kubu yang saling bermusuhan, yang menandai dimulainya konflik selama tiga dekade. Polarisasi politik yang terjadi akibat situasi tersebut berujung pada pembentukan Negara Vietnam yang anti-komunis pada tahun 1949.

Latar Belakang Sejarah

Penjajahan Prancis

Artikel utama: Indochina Prancis

Pemerintahan kolonial Prancis

Sebelum Jepang datang, penjajahan Prancis di Vietnam berlangsung selama 87 tahun (1858-1945). Pada 1897, Prancis membentuk Federasi Indochina, sebuah unit artifisial yang menggabungkan Vietnam yang sekarang terpecah dalam tiga wilayah pemerintahan yang terpisah (Tonkin, Annam, dan Cochin China) dengan Kamboja dan Laos.[2]

Akibat

Perang Indochina Pertama

Kesepakatan awal tersebut hanyalah langkah pertama menuju perjanjian menyeluruh dan permanen yang diharapkan. Status politik masa depan Vietnam Selatan perlu dirundingkan. Dari bulan Juni hingga September 1946, perundingan resmi antara DRV dan Prancis terus berlangsung. Sementara delegasi Vietnam yang dipimpin oleh Phạm Văn Đồng terlibat langsung dalam pembicaraan alot—yang pada akhirnya menemui jalan buntu—mengenai status Vietnam Selatan, Ho Chi Minh secara bersamaan melakukan perjalanan ke Paris sebagai tamu resmi pemerintah Prancis. Sayangnya, hubungan mulai memburuk hampir segera setelah penandatanganan kesepakatan 6 Maret tersebut. Menyusul kegagalan konferensi formal, Ho Chi Minh berunding secara langsung dan menandatangani *Modus Vivendi* (Kesepakatan Sementara) pada 14 September 1946 dengan Menteri Urusan Wilayah Seberang Laut Prancis, Marius Moutet, demi menjaga perdamaian yang rapuh untuk sementara waktu. Perundingan di Dalat dan Fontainebleau pada akhirnya gagal akibat sengketa yang tak kunjung usai mengenai status politik Vietnam Selatan. Setelah jalan diplomasi tertutup, kedua belah pihak mulai bersiap menempuh penyelesaian militer. Provokasi yang dilakukan oleh pasukan Prancis maupun DRV memicu pecahnya perang berskala penuh pada 19 Desember 1946. Hampir satu setengah tahun setelah revolusi, DRV dan Prancis terlibat dalam Perang Indochina Pertama.

Catatan kaki

  1. ↑ William 1983, hlm. 39.
  2. ↑ Craig 2009, hlm. 104.

Karya yang dikutip

Lihat pula

Pranala luar

Gerakan kemerdekaan Vietnam
Peristiwa
Ho Chi Minh
Ho Chi Minh
Organisasi
Revolusioner
Kaisar
Penguasa Prancis
Kolaborator
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan