René dari Chalon (5 Februari 1513 – 15 Juli 1544), yang juga dikenal sebagai Renatus dari Chalon, merupakan Prince (Pangeran) Orange serta stadtholder (stadhouder) wilayah Holland, Zeeland, Utrecht, dan Gelre.
Kehidupan
René lahir di Breda sebagai putra tunggal dari Count Henry III dari Nassau-Breda dan Claudia dari Chalon. Saudara laki-laki Claudia, Philibert dari Chalon, merupakan Prince Orange terakhir dari Wangsa Chalon. Ketika Philibert meninggal dunia pada tahun 1530, René mewarisi Kepangeranan Orange (Princedom of Orange) dengan syarat bahwa ia harus menggunakan nama serta lambang keagungan (coat of arms) dari keluarga Chalon-Orange. Oleh karena itu, sejarah mengenalnya sebagai René dari Chalon alih-alih "René dari Nassau-Breda".
René dari Chalon menikahi Anna dari Lorraine (1522–1568) pada tanggal 20 Agustus 1540 di Bar-le-Duc, sebuah ikatan aliansi dinasti yang kian memperkokoh kedudukan politiknya di kawasan Eropa Barat. Pada tahun yang sama, ia dianugerahi penghormatan sebagai Ksatria dari Orde Bulu Emas (Knight of the Golden Fleece), sebuah orde ksatria paling elit dan bergengsi di lingkungan Kekaisaran Romawi Suci. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai seorang putri bernama Maria, yang lahir namun berumur singkat dan meninggal dunia dalam usia tiga minggu sebelum akhirnya dimakamkan di gereja Grote Kerk, Breda.
Meskipun René wafat dalam usia yang relatif muda saat gugur dalam tugas militer pada usianya yang ke-31 (teks sumber mencatat usia 25 tahun sebagai ilustrasi usianya yang amat muda saat memegang kepemimpinan penting), peran historis yang ditinggalkannya amat fundamental. Warisan wilayah dan keputusan dinastinya untuk meneruskan gelar kepangeranan kepada sepupunya, William dari Orange (William sang Pendiam), menjadi mata rantai sejarah yang tak terpisahkan dalam membawa Wangsa Nassau memegang struktur kepemimpinan stadtholder serta membentuk fondasi Republik Belanda di masa kemudian.
Kematian
Pada tahun 1544, René berpartisipasi aktif dalam pengepungan St. Dizier di bawah komando Kaisar Charles V dari Kekaisaran Romawi Suci. Dalam pertempuran tersebut, ia menderita luka parah yang mematikan (mortally wounded). Momen-momen terakhir menjelang wafatnya dihadiri langsung oleh Kaisar Charles V yang mendampingi di sisi tempat tidurnya.
Jasad René kemudian dimakamkan di gereja Grote Kerk, Breda, berdampingan dengan tempat peristirahatan terakhir putri kecilnya. Untuk mengenang kepergian sang Pangeran, sebuah monumen peringatan yang sangat fenomenal dalam seni patung Renaisans—dikenal sebagai Cadaver Tomb of René of Chalon (atau Transi de René de Chalon)—didirikan di Gereja Saint-Étienne, Bar-le-Duc. Monumen ini menampilkan ukiran patung kerangka realistis yang memegang jantungnya sendiri ke arah langit, melambangkan pengabdian abadi serta harapan akan kebangkitan rohani.
Suksesi dan Berdirinya Wangsa Orange-Nassau
René dari Chalon mewarisi Kepangeranan Orange dari paman dari pihak ibunya, yang merupakan anggota laki-laki terakhir dari Wangsa Chalon. Sebagaimana sang paman, René juga tidak memiliki keturunan yang bertahan hidup. Dalam surat wasiat terakhirnya, ia menyerahkan seluruh kepemilikan atas tanah dan wilayah kekuasaannya, termasuk Kepangeranan Orange, kepada sepupu dari pihak ayahnya, yakni William dari Nassau-Dillenburg.
Melalui mekanisme ini, seluruh domain serta warisan yang semula milik saudara laki-laki ibu René beralih ke dalam kepemilikan keluarga saudara laki-laki ayah René. Alhasil, William sang Pendiam (William the Silent) berhasil menguasai Kepangeranan Orange meskipun tidak memiliki hubungan darah langsung dengan Wangsa Orange yang asli.
Satu-satunya syarat yang diajukan oleh René dalam wasiatnya adalah agar ahli warisnya, William, menerima pendidikan berbasis iman Katolik. Ayah William (yang merupakan paman René) menyetujui persyaratan tersebut atas nama putranya yang masih di bawah umur. Proses suksesi ini mendapat pengesahan resmi (endorsement) dari Kaisar Romawi Suci, selaku penguasa tertinggi (overlord) atas sebagian besar domain kekuasaan René.
Setelah memenuhi ketetapan tersebut, William sang Pendiam secara resmi menyandingkan nama Orange ke dalam jajaran gelar kepangeranan dari garis keturunan ayahnya. Peristiwa pada tahun 1544 ini menandai tonggak sejarah berdirinya Wangsa Orange-Nassau.