Selasa, 03 November 2026
19:24 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Qiu Shaoyun

Qiu Shaoyun

tentara China

Bagikan:
Qiu Shaoyun
250px-Qiu_Shaoyun.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Qiu Shaoyun pada April 1951, setelah Pertempuran Luojiashan
Nama asli邱少云
Lahir(1926-06-01)1 Juni 1926
Qiujiagou, Kota Guanjian, Kabupaten Tongliang, Provinsi Sichuan, Tiongkok
Meninggal12 Oktober 1952(1952-10-12) (umur 26)
391 high land, Cheorwon, Korea Utara

Qiu Shaoyun (Hanzi: 邱少云) (1931-1952) lahir di kabupaten Tongliang, Sichuan. Bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) tahun 1949. Tahun 1951, dia bergabung dengan pasukan sukarelawan Tiongkok untuk Perang Korea.

Tanggal 11 Oktober 1952, dalam pertempuran gunung merebut bukit 391, dia bersama kesatuannya merayap mendekati posisi musuh dengan menggunakan rumput kering dan ranting sebagai kamuflase. Sementara itu pesawat Sekutu membom kedudukan mereka. Qiu terjebak dalam semak-semak yang terbakar di sekitarnya, tetapi dia tetap diam tidak membuat gerakan atau suara apapun demi melindungi 500 orang temannya agar tidak terlacak musuh, padahal menurut teman prajuritnya, sekitar 3 meter di sebelah kanan Qiu waktu itu ada sebuah selokan. Setelah menahan sakit dan panas selama kurang lebih lima jam, dia pun mati terbakar.

Malam itu juga pasukan Tiongkok dan Korea Utara berhasil menduduki bukit 391 dan menghalau pasukan Sekutu dari sana. Atas pengorbanannya, pemerintah RRT menganugerahinya gelar sebagai pahlawan kelas satu Perang Korea. Pemerintah Korea Utara juga memberinya dua medali kehormatan sebagai pahlawan Korea Utara. Di puncak bukit 391, namanya terpahat pada monumen yang dibangun untuk mengenangnya.

Kontroversi

  • Kepala peleton di mana Qiu Shaoyun bertugas, Ceng Ji mengenang bahwa pada saat itu, mereka berada di sebuah tebing, ia juga berada sekitar 5 meter di sebelah kanan Qiu. Namun menurut Ceng, sama sekali tidak ada selokan air yang disebut-sebut dapat menyelamatkan Qiu dari luka bakar.
  • Ada pula yang berpendapat bahwa kepahlawanan Qiu Shaoyun ini hanya sebuah karangan yang dibesar-besarkan sebagai propaganda Partai Komunis Tiongkok. Karena sebagai seorang prajurit, tidak mungkin Qiu tidak membawa amunisi di tubuhnya. Namun mengapa amunisi tersebut tidak ikut meledak karena panas yang timbul dari kebakaran di tubuh Qiu merupakan sesuatu fenomena yang tidak masuk di akal. Lagipula, di siang hari seperti itu, tidak mungkin tubuh Qiu yang terjilat lidah api sama sekali tidak terlihat dari udara oleh tentara sekutu.

Sumber

  • Shi Liwen, Chaoxian Zhanzheng, Beijing: Zhongguo renmin jiefangjun luxian chubanshe (B.Mandarin)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan