Senin, 19 Oktober 2026
16:00 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Puisi Arab

Puisi Arab

Bagikan:
250px-Ibn_Jinni%27s_Commentary_on_al-Mutanabbis_poetry.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Naskag Komentar Ibn Jinni terhadap Puisi al-Mutanabbi. Berkas ini dibuat oleh Ibn Jinni.

Puisi Arab (bahasa Arab:الشعر العربي asy-syi‘r al-‘arabīyy) adalah salah satu bentuk sastra Arab paling awal. Puisi Arab pra-Islam memuat sebagian besar materi puisi tertua dalam bahasa Arab, tetapi prasasti Arab Kuno menunjukkan bahwa seni puisi telah ada dalam tulisan Arab sejak abad ke-1 SM, sementara puisi lisan kemungkinan jauh lebih tua.[1]

Puisi Arab dikategorikan menjadi dua jenis utama, berirama atau terukur, dan prosa, dengan yang pertama jauh mendahului yang terakhir. Puisi berirama berada dalam lima belas metrum berbeda yang dikumpulkan dan dijelaskan oleh al-Farahidi dalam 'Ilm al-'Arud.[2] Al-Akhfasy, seorang murid al-Farahidi, kemudian menambahkan satu meter lagi sehingga menjadi enam belas.[3] Metrum puisi ritmis dikenal dalam bahasa Arab sebagai "lautan" (buḥūr). Satuan ukuran laut dikenal sebagai "taf'īlah," dan setiap lautan mengandung sejumlah taf'ilah yang harus diperhatikan penyair dalam setiap bait puisi. Prosedur pengukuran sebuah puisi sangat ketat. Terkadang menambahkan atau menghilangkan konsonan atau vokal dapat menggeser bait dari satu meter ke meter lainnya. Selain itu, dalam puisi berirama, setiap bait harus diakhiri dengan rima yang sama (qāfiyah) di sepanjang puisi.

Al-Khalil Ahmad al-Farahidi (711–786 M) adalah cendekiawan Arab pertama yang mengkaji prosodi puisi Arab secara rinci melalui kajian fonologis.[4] Ia gagal menghasilkan teori yang koheren dan terintegrasi yang memenuhi persyaratan keumuman, kecukupan, dan kesederhanaan; alih-alih, ia hanya mendaftar dan mengkategorikan data primer, sehingga menghasilkan formulasi yang sangat rinci tetapi sangat kompleks yang hanya sedikit orang yang mampu menguasai dan memanfaatkannya.[5]

Para peneliti dan kritikus puisi Arab biasanya mengklasifikasikannya menjadi dua kategori: puisi klasik dan puisi modern. Puisi klasik ditulis sebelum Renaisans Arab (an-Nahḍah).[6] Dengan demikian, semua puisi yang ditulis dengan gaya klasik disebut "puisi klasik" atau "puisi tradisional" karena mengikuti gaya dan struktur tradisional. Puisi ini juga dikenal sebagai "puisi vertikal" karena struktur vertikal paralel dari kedua bagiannya. Di sisi lain, puisi modern menyimpang dari puisi klasik dalam hal isi, gaya, struktur, rima, dan topik.[7]

Referensi

  1. ↑ Al-Jallad, Ahmad (2020). A Manual of the Historical Grammar of Arabic: Notes on key issues in phonology and morphology. hlm. 133–134. Diarsipkan dari asli tanggal 21 Desember 2019.
  2. ↑ Shmuel Moreh, Modern Arabic Poetry: 1800 – 1970; the Development of Its Forms and Themes Under the Influence of Western Literature, pg. 192. Volume 5 of Studies in Arabic literature: Supplements to the Journal of Arabic Literature. Leiden: Brill Archive, 1976. ISBN9789004047952
  3. ↑ Elwell-Sutton, L.P. (1976).The Persian Metres. Cambridge University Press.
  4. ↑ al-Khalīl ibn Aḥmad Diarsipkan 8 Februari 2014 di Wayback Machine at the Encyclopædia Britannica Online. ©2013, Encyclopædia Britannica, Inc.
  5. ↑ Muhammad Hasan Bakalla, "Ancient Arab and Muslim Phoneticians: An Appraisal of Their Contrubition to Phonetics." Taken from Current Issues in the Phonetic Sciences: Proceedings of the IPS-77 Congress, Miami Beach, Florida, 17–19 December 1977, Part 1, pg. 4. Eds. Harry Francis Hollien and Patricia Hollien. Volume 9 of Current Issues in Linguistic Theory Series. Amsterdam: John Benjamins Publishing, 1979. ISBN9789027209108
  6. ↑ Stephen Sheehi, Foundations of Modern Arab Identity. Gainesville: University Press of Florida, 2004 Diarsipkan 15 September 2024 di Wayback Machine
  7. ↑ Suleiman, Yasir (2003). The Arabic Language and National Identity: a Study in Ideology. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-87840-395-0.

Bibliografi

Bacaan lanjutan

Ensiklopedia

Antologi

Lainnya

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan