Sabtu, 24 Oktober 2026
06:29 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Polusi termal

Polusi termal

Bagikan:
250px-Brayton_Point_Power_Station.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Polusi termal atau pencemaran termal adalah perubahan suhu air pada suatu badan air alami yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pelepasan air limbah bersuhu tinggi dari pembangkit listrik atau industri. Perubahan suhu ini berdampak negatif pada ekosistem perairan, merusak keseimbangan biologis dan fisik di dalamnya.[1]

Penyebab Pencemaran Termal

Pencemaran termal dapat disebabkan oleh fenomena alam maupun aktivitas manusia. Namun, penyebab paling umum dan signifikan adalah pelepasan air limbah dari proses pendinginan industri. Selain itu, pencemaran termal juga dapat terjadi ketika ada faktor lain yang mengganggu kemampuan alami badan air untuk mendinginkan diri.[2]

Pemanfaatan Air untuk Proses Pendinginan

Banyak proses industri menghasilkan panas dalam jumlah besar. Salah satu contoh utamanya adalah pembangkit listrik, baik yang menggunakan bahan bakar fosil, biomassa, maupun tenaga nuklir. Jenis pembangkit ini beroperasi dengan memanaskan air hingga menjadi uap untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Sering kali, pembangkit ini dibangun di dekat sumber air alami karena air juga digunakan untuk menyerap panas berlebih dari mesin-mesin mereka.

Pembangkit listrik mengambil air dingin dari sumber alami, mengalirkannya melalui mesin untuk menyerap panas, dan sebagian air tersebut menguap. Sisa air yang telah memanas ini kemudian dibuang kembali ke badan air asalnya, sehingga meningkatkan suhu keseluruhan ekosistem perairan tersebut.

Selain pembangkit listrik, industri lain yang menghasilkan limbah panas dalam jumlah besar dan menggunakan air sebagai pendingin juga berkontribusi pada pencemaran termal. Contohnya termasuk kilang minyak, pabrik pulp dan kertas, pabrik baja, pabrik kimia, dan fasilitas desalinasi air. Semua industri ini menggunakan air untuk mendinginkan mesin mereka, lalu membuangnya kembali ke perairan alami. Proses ini dikenal sebagai sistem pendinginan sekali lewat (once-through cooling), di mana air dingin melewati pabrik satu kali dan keluar sebagai air limbah yang bersuhu tinggi.

Dampak Pencemaran Termal

Pencemaran termal dapat menimbulkan dampak signifikan pada badan air seperti sungai dan danau. Ketika badan air tersebut menyerap panas berlebih, suhu air dapat meningkat dan membahayakan kehidupan akuatik. Pencemaran termal juga menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut dalam air, yang dapat memicu hipoksia atau terbentuknya "zona mati". Kondisi ini dapat berujung pada kematian ikan dan organisme akuatik lainnya, perubahan perilaku serta pola reproduksi hewan air, dan perkembangbiakan alga berbahaya secara berlebihan (ledakan alga).[3]

Selain berdampak pada biota perairan, pencemaran termal juga dapat memengaruhi kesehatan manusia. Panas berlebih dapat meningkatkan risiko heat stroke dan penyakit terkait panas lainnya, serta menyulitkan tidur atau bekerja dalam kondisi panas.

Lebih lanjut, pencemaran termal juga berkontribusi pada perubahan iklim global, salah satunya melalui pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer.

Referensi

  1. ↑ Thermal Pollution (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons, Ltd. 2014. hlm. 362–363. doi:10.1002/9781118914236.ch30#:~:text=ringkasan,migrasi%20makhluk%20hidup%20dari%20lingkungannya.. ISBN 978-1-118-91423-6.{{cite book}}: Periksa nilai |doi=
  2. ↑ Redaksi (2022-03-31). "Perihal Polusi Termal, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya". Klik Hijau. Diakses tanggal 2025-09-25.{{cite web}}: |last= memiliki nama generik
  3. ↑ https://cocleanenergyfund.com/what-is-thermal-pollution/
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan