| Pertempuran Maling | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||
| Pihak yang terlibat | |||||||
| Qi | Wei | ||||||
| Pemimpin atau tokoh terkemuka | |||||||
|
Tian Ji Sun Bin |
Pang Juan Pangeran Shen | ||||||
| Kekuatan | |||||||
| 120.000 | 100.000 kavaleri dan infantri | ||||||
| Korban jiwa dan kerugian | |||||||
| 2.100 | 100.000 tewas | ||||||
Pertempuran Maling (馬陵之戰) terjadi di Maling, kini kota Dazhangjia (大張家鎮), Shen (莘县), Provinsi Henan pada tahun 342 SM selama Periode Negara Perang. Perang ini terjadi antara negara Qi melawan negara Wei. Pang Juan, komandan Wei, dapat dijebak dan tentaranya diserang oleh 10.000 pemanah Qi. Pang Juan bunuh diri, dan Wei kalah.
Pertempuran
Untuk mengecoh musuhnya, Sun Bin memerintahkan pasukannya untuk mengurangi jumlah tungku (perapian untuk memasak) dari hari ke hari. Pada hari pertama, pasukan Qi memiliki tungku yang cukup untuk 100.000 orang; pada hari kedua, jumlah tungku hanya cukup untuk 50.000 orang. Pada hari ketiga, tungku yang tersedia hanya cukup untuk pasukan berkekuatan 20.000 orang. Melihat hal ini, Pang Juan menyimpulkan bahwa tentara Qi sedang melarikan diri dari kesatuan mereka, sehingga ia memutuskan untuk mengejar pasukan Qi dengan unit kavaleri elite yang kecil. Saat pasukan Qi mundur memasuki wilayah mereka sendiri, Sun Bin memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan sebagian artileri berat mereka. Hal ini semakin memperkuat kesan adanya kekacauan di dalam pasukan Qi. Ketika pasukan Qi tiba di Maling, Sun Bin melihat sebuah celah sempit yang dikelilingi hutan lebat yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan penyergapan. Memperkirakan kedatangan Pang Juan menjelang malam, ia memerintahkan anak buahnya untuk menebang sebatang pohon, mengupas kulitnya, lalu mengukir kata-kata "Pang Juan akan mati di Malingdao, dibawah pohon ini" di batangnya.
Pang Juan telah bergerak menuju Malingdao; saat melihat pesan peringatan tersebut, ia tidak memedulikannya dan justru memerintahkan agar tulisan itu dikikis habis. Pasukan terus bergerak maju ketika tiba-tiba, pasukan Qi mengepung tentara Wei. Di tengah kegelapan, pasukan pemanah busur silang Qi berhasil menewaskan banyak prajurit Wei sebelum sisa pasukan Qi menyerbu masuk. Pasukan Wei tidak menyangka bahwa Qi masih memiliki begitu banyak tentara yang siap tempur, sehingga mereka pun dengan cepat dikalahkan. Pang Juan, yang menyadari ajalnya telah tiba, memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam beberapa versi cerita, Pang Juan termasuk salah satu prajurit pertama yang tewas tertembak.
Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |