Kamis, 29 Oktober 2026
15:34 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Perkesa '78

Bagikan:
Mataram Putra
250px-Mataram_Putra.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nama lengkapMataram Putra
Berdiri
  • 17 Maret 1978;48 tahun lalu (1978-03-17) (sebagai Perkesa '78)
  • 1980 (sebagai Perkesa Utama)
  • 1987 (sebagai Perkesa Mataram)
  • 1992 (sebagai Mataram Putra)
  • 1994 (sebagai Mataram Indocement)
  • 1997 (sebagai Indocement Putra Cirebon)
Dibubarkan2003
Stadion
Pemilik
LigaGalatama
Liga Indonesia
1995-1996Babak 12 Besar (sebagai Mataram Indocement)

Mataram Putra (sebelumnya bernama Perkesa '78, Perkesa Utama, dan Perkesa Mataram, serta kelak berganti menjadi Mataram Indocement dan Indocement Putra Cirebon) adalah klub sepak bola legendaris Indonesia peserta Galatama dan Liga Indonesia yang pernah berlokasi dan bermarkas di Yogyakarta. Sejarah klub ini diawali dari pembentukan Perkesa '78 di Jakarta pada 17 Maret 1978 oleh Brigadir Jenderal TNI (Purn.) Acub Zainal dengan markas awal di Bogor, sebelum akhirnya berpindah-pindah kota hingga berakhir di Cirebon.

Sejarah

Pembentukan dan Perkesa '78 (1978–1980)

Perkesa '78 adalah salah satu dari 14 pendiri dan peserta edisi perdana Galatama (Liga Sepak Bola Utama) musim 1979-80.

Awalnya, Perkesa '78 merupakan tim amatir dari Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dengan nama asal Persatuan Sepakbola Kebayoran dan Sekitarnya. Pada November 1978, klub diubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) oleh pendirinya, Acub Zainal (mantan Pangdam XVII/Cenderawasih dan Gubernur Irian Jaya 1973–1975). Acub mengumpulkan dan membina talenta-talenta muda dari Papua yang ditempa di Cipaku, Bogor, dengan disiplin tinggi.

Pada musim pertama Galatama, langkah tim sempat terguncang akibat skandal suap yang melibatkan kapten tim Jafeth Sibi dan beberapa pemain saat melawan Cahaya Kita pada Juni 1979. Meski Acub Zainal sempat berniat membubarkan tim, desakan masyarakat Papua dan pencinta sepak bola nasional membuat klub tetap bertahan dengan merombak jajaran pemain.[1]

Perkesa Utama & Perkesa Mataram (1980–1992)

Untuk melepaskan dari bayang-bayang skandal dan memperluas basis pendukung:

Era Mataram Putra & Mataram Indocement (1992–1997)

Memasuki era akhir Galatama pada tahun 1992, nama klub diubah menjadi Mataram Putra.

Saat kompetisi Galatama dan Perserikatan digabung menjadi Liga Indonesia pada musim 1994–95, klub ini mendapat dukungan sponsor utama dari produsen semen Indocement, sehingga berganti nama menjadi Mataram Indocement. Pada musim Divisi Utama Liga Indonesia 1995–1996, tim ini mencatatkan prestasi gemilang di bawah kapten Inyong Lolombulan dengan melaju hingga Babak 12 Besar.

Indocement Putra Cirebon dan Pembubaran (1997–2003)

Pada tahun 1997, manajemen memindahkan markas tim dari Yogyakarta ke Cirebon, Jawa Barat, dan mengubah namanya menjadi Indocement Putra Cirebon (bermarkas di Stadion Bima). Namun, setelah Indocement diakuisisi oleh HeidelbergCement Group dan seiring merosotnya performa tim hingga terdegradasi ke Divisi II pada tahun 2002, dukungan finansial sudah tidak diberikan dan terpaksa pada musim 2003 Indocement Putra tidak mengikuti Divisi II dan klub resmi bubar.

Perubahan Nama dan Markas

  • Perkesa '78 (1978–1980) – Bogor
  • Perkesa Utama (1980–1987) – Sidoarjo
  • Perkesa Mataram (1987–1992) – Yogyakarta
  • Mataram Putra (1992–1994) – Yogyakarta
  • Mataram Indocement (1994–1997) – Yogyakarta
  • Indocement Putra Cirebon (1997–2002) – Cirebon

Referensi

  1. ↑ "Perkesa 78, Kisah Klub Sepakbola Orang Papua". Historia.id. Diakses tanggal 15 Oktober 2026.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan