Minggu, 25 Oktober 2026
03:19 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung
Perang Kolonial Portugal

Perang Kolonial Portugal

konflik bersenjata tahun 1961-1974 di Afrika antara Portugal dan berbagai gerakan kemerdekaan

Bagikan:
Perang Kolonial Portugis
Portuguese Colonial War
Guerra Colonial Portuguesa
Bagian dari Dekolonisasi Afrika dan Perang Dingin
330px-Guerra_Colonial_Portuguesa.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tanggal4 Februari 1961 – 25April 1974
(13 tahun, 2 bulan dan 3 minggu)
Lokasi
Hasil Kemerdekaan Angola, Cape Verde, Guinea Bissau, Mozambique dan Sao Tome dan Principe:
Perubahan
wilayah
Wilayah luar negeri Portugis di Afrika menjadi independen.
Pihak yang terlibat
Portugal Portugal
Didukung oleh:
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Generally: Angola: Portuguese Guinea: Mozambique: Angola: Portuguese Guinea: Mozambique:
Kekuatan
148,000 Pasukan Reguler Eropa Portugis 38,000–43,000 gerilyawan
Korban jiwa dan kerugian
  • 8,827 terbunuh
    * 15,507 terluka (secara fisik dan atau psikologis)
  • c (sekitar). 30,000 total korban di Angola * c. 6,000 terbunuh
    * c. 4,000 terluka di Guinea Portugis * lebih dari 10,000 terbunuh di Mozambique
Civilian casualties:
  • 50,000 terbunuh di Mozambique[2]

Perang Kolonial Portugis (bahasa Portugis:Guerra Colonial Portuguesa), juga dikenal di Portugal dengan nama Perang Seberang Laut (Guerra do Ultramar) atau di bekas koloni Portugal dengan nama Perang Pembebasan (Guerra de Libertação), terjadi antara Militer Portugal dan gerakan-gerakan nasionalis di Koloni-koloni Portugal di Afrika antara tahun 1961 hingga 1974. Rezim Portugis digulingkan oleh kudeta militer pada tahun 1974, dan perubahan dalam pemerintahan mengakhiri konflik ini. Perang ini adalah suatu pertarungan ideologi yang mengubah jalannya sejarah di Afrika Lusofon, negara-negara sekitarnya, dan daratan Portugal.

Pendekatan historis Portugis internasional menganggap Perang Kolonial Portugis sebagai suatu konflik tunggal yang terjadi di tiga tempat terpisah (Angola, Guinea Portugis, dan Mozambik). Namun, beberapa pendekatan lain mempertimbangkan adanya tiga konflik yang berbeda, yaitu Perang Kemerdekaan Angola, Perang Kemerdekaan Guinea-Bissau, dan Perang Kemerdekaan Mozambique. Kadang-kadang, konflik singkat yang menyebabkan aneksasi Goa oleh India pada tahun 1961, juga disertakan.

Tidak seperti negara-negara Eropa lainnya selama tahun 1950-an dan 1960-an, Rezim Portugis Estado Novo tidak menarik diri dari koloni-koloni Afrika atau provinsi seberang laut (províncias ultramarinas) sebagaimana wilayah-wilayah itu telah secara resmi disebut sejak tahun 1951. Selama tahun 1960-an, berbagai gerakan kemerdekaan bersenjata menjadi aktif: Gerakan rakyat untuk Pembebasan Angola, Front Pembebasan Nasional Angola, Uni Nasional untuk Kemerdekaan penuh dari Angola di Angola, Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea dan Tanjung Verde dalam bahasa portugis Guinea, dan Front Pembebasan Mozambik. Selama konflik ini, kekejaman dilakukan oleh semua pasukan yang terlibat.[3]

Selama berlangsungnya perang ini, Portugal menghadapi meningkatnya perlawanan, embargo senjata dan sanksi hukuman yang dikenakan oleh masyarakat internasional. Pada tahun 1973, perang telah menjadi semakin tidak populer karena berlangsung terlalu lama dan menelan terlalu banyak biaya, serta memperburuk hubungan diplomatik dengan negara anggota Perserikatan bangsa-Bangsa.

Referensi

  1. ↑ "Afrikka" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2013-05-23. Diakses tanggal 12 Mei 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Mid-Range Wars and Atrocities of the Twentieth Century retrieved December 4, 2007
  3. ↑ (Jerman) Der Spiegel,1973
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan