Kamis, 29 Oktober 2026
06:07 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Perang Kamerun

Bagikan:
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025)
Perang Kamerun
Bagian dari decolonisation of Africa
Tanggal1955 (1955)–1964 (1964)
Lokasi
Hasil
  • Cameroonian Independence through the establishment of a Pro-French Regime under Ahmadou Ahidjo[1]
  • Defeat of UPC insurgents
  • Continued clashes until 1971
Pihak yang terlibat

Independence War Phase (1955–1960)
 France (1955–1960)

Civil War Phase (1960–1964)
40px-Flag_of_Cameroon_%281961%E2%80%931975%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Federal Republic of Cameroon
 France

40px-Flag_of_the_Union_of_the_Peoples_of_Cameroon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Union of the Peoples of Cameroon
Supported by:

People's Socialist Republic of Albania[2]
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Prancis Pierre Messmer
Prancis Max Briand
Prancis Jean Lamberton
40px-Flag_of_Cameroon_%281961%E2%80%931975%29.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Ahmadou Ahidjo
40px-Flag_of_the_Union_of_the_Peoples_of_Cameroon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Ruben Um Nyobè  †
40px-Flag_of_the_Union_of_the_Peoples_of_Cameroon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Félix-Roland Moumié  X
40px-Flag_of_the_Union_of_the_Peoples_of_Cameroon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Ernest Ouandié
40px-Flag_of_the_Union_of_the_Peoples_of_Cameroon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Tankeu Noé Dihukum mati[3]
40px-Flag_of_the_Union_of_the_Peoples_of_Cameroon.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Osendé Afana Dihukum mati
Pasukan yang terlibat
Armée de libération nationale Kamerounaise (ALNK)[3]
Allied militias
Korban jiwa dan kerugian
Tens of thousands, possibly hundreds of thousands[1][4]

Perang Kamerun (juga dikenal sebagai Perang Tersembunyi atau Perang Kemerdekaan Kamerun) adalah konflik di Kamerun yang berlangsung antara tahun 1955 hingga 1964. Awalnya, perang ini merupakan perjuangan kemerdekaan melawan kekuasaan kolonial Prancis yang dipimpin oleh Persatuan Rakyat Kamerun (UPC). Setelah Kamerun merdeka pada tahun 1960, konflik tersebut berubah menjadi perang saudara antara pemerintah Kamerun dan pasukan pemberontak UPC.[5]

Konflik ini bermula pada tahun 1955 dengan kerusuhan menentang pemerintahan kolonial Prancis sebelum berkembang menjadi pemberontakan bersenjata. Setelah Kamerun merdeka pada tahun 1960, Presiden pertama Kamerun, Ahmadou Ahidjo, meminta bantuan militer Prancis untuk memerangi pemberontak UPC. Angkatan Bersenjata Kamerun, dengan dukungan tentara Prancis, berhasil menumpas sebagian besar pemberontakan pada tahun 1964, meskipun bentrokan kecil masih terjadi hingga tahun 1971.[6]

Banyak korban tewas dalam konflik ini, terutama setelah kemerdekaan, saat perang saudara berlangsung di wilayah Bamileke. Sebagian besar perkiraan menyebut jumlah korban mencapai puluhan ribu jiwa, tetapi ada juga yang memperkirakan hingga ratusan ribu.[7] Perang ini sering disebut sebagai “perang yang terlupakan” karena terjadi bersamaan dengan perjuangan kemerdekaan terbesar Prancis di Aljazair. Dampak konflik tersebut masih memengaruhi dinamika politik Kamerun hingga saat ini.[6]

Penyebab perang

Gerakan kemerdekaan Kamerun dimulai pada awal 1950-an setelah berdirinya Persatuan Rakyat Kamerun (UPC), partai nasionalis pertama dan paling berpengaruh di negara itu. Partai ini berfokus pada dua tujuan utama: memisahkan diri dari Prancis dan membangun ekonomi sosialis. UPC didirikan pada tahun 1948 oleh Ruben Um Nyobe bersama rekannya, Felix-Roland Moumie.[8][9]

Gerakan nasionalis yang mulai berkembang menghadapi tantangan dari pemerintah kolonial yang berupaya menekannya.[10] Dalam sebuah surat kepada komisi tinggi kolonial pada tahun 1954, Um Nyobe menulis:

“Selama enam tahun, Persatuan Rakyat Kamerun telah menahan dan akan terus menahan permusuhan keras dari otoritas kolonial Prancis. Seseorang harus menulis sebuah buku untuk mencatat seluruh kekuatan dan struktur kekuasaan yang digunakan untuk melawan organisasi kami.”[5]

Pernyataan Um Nyobe menggambarkan ketegangan antara gerakan nasionalis dan pemerintahan kolonial. Upaya untuk menekan gerakan nasionalis bukan hal yang unik di Kamerun, melainkan bagian dari kebijakan kolonial Prancis pada masa itu. Langkah-langkah represif yang dilakukan pemerintah kolonial akhirnya memicu perang saudara yang brutal.

Kaum elit dan perang

Bagi banyak nasionalis Kamerun, terlibat dalam perang bukanlah pilihan pertama. Banyak di antara mereka yang awalnya berusaha bekerja sama dan berpartisipasi secara demokratis dalam sistem politik kolonial Prancis. Sebagian besar adalah warga Kamerun yang telah sepenuhnya mengadopsi hukum, bahasa, dan budaya Prancis, dan dikenal sebagai évolués. Mereka mengagumi gaya hidup Prancis dan memandang rendah tradisi lokal.[11] Namun, beberapa tokoh revolusioner awal Kamerun justru berasal dari kelompok évolués ini.

Demikian pula, candidats administratifs adalah calon-calon yang didukung oleh pemerintahan kolonial.[5] Praktik ini pertama kali diterapkan di Kamerun pada tahun 1945 ketika pemerintah kolonial berusaha membentuk kelompok pelindung atau pihak yang berpihak pada mereka. Dalam sebuah pemilihan sementara, pihak kolonial menempatkan Kepala Suku André Fouda sebagai lawan dari tokoh anti-kolonial populer, Douala Manga Bell. Pemerintah kolonial secara terbuka mendukung Fouda dan berupaya memastikan kemenangannya.[5]

Referensi

  1. 1 2 "The Forgotten Cameroon War". jacobin.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-05-27.
  2. ↑ Bego, Fabio (22 Maret 2023). "Race and Exclusion in State Socialism: African Students in Communist Albania". balkaninsight.com. Fabio Bego. Diakses tanggal 10 Mei 2024.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Prévitali 1999, hlm. 200. sfn error: tanpa target: CITEREFPrévitali1999 (bantuan)
  4. ↑ "La guerre oubliée du Cameroun". lhistoire.fr (dalam bahasa Prancis). Diakses tanggal 2025-05-27.
  5. 1 2 3 4 Deltombe, Thomas; Domergue, Manuel; Tatsitsa, Jacob (2010). Kamerun ! une guerre cachée aux origines de la Françafrique, 1948-1971. Cahiers libres. Paris: la Découverte. ISBN 978-2-7071-5913-7.
  6. 1 2 Fokwang, Jude (2015-11). "MEREDITH TERRETTA , Nation of Outlaws, State of Violence: nationalism, Grassfields tradition, and state building in Cameroon. Athens OH: Ohio University Press (pb US$32.95 – 978 0 8214 2069 0). 2014, 367 pp". Africa (dalam bahasa Inggris). 85 (4): 733–735. doi:10.1017/S0001972015000728. ISSN 0001-9720.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  7. ↑ By. "The Forgotten Cameroon War". jacobin.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-05.
  8. ↑ "Cameroon - Independence, French-British Rule | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). 2025-11-03. Diakses tanggal 2025-11-05.
  9. ↑ Brittain, Victoria (2006-07-01). "They had to die: assassination against liberation". Race & Class (dalam bahasa Inggris). 48 (1): 60–74. doi:10.1177/0306396806066647. ISSN 0306-3968.
  10. ↑ Young, Robert J C (2005-03-01). "Fanon and the turn to armed struggle in Africa". Wasafiri. 20 (44): 33–41. doi:10.1080/02690050508589949. ISSN 0269-0055.
  11. ↑ DeLancey, Mark Dike; DeLancey, Mark; Mbuh, Rebecca Neh (2010). Historical dictionary of the Republic of Cameroon. Historical Dictionaries of Africa (Edisi 4th ed). Lanham, Md: Scarecrow Press. ISBN 978-0-8108-7399-5.{{cite book}}: |edition= memiliki teks tambahan
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan